Rekomendasi SOP — executive summary v2

Business Process &
9 Modul SOP

Halaman ini menampilkan executive summary untuk business process mapping, Program Development, tujuh SOP bidang, dan Resilience Governance. Full SOP tetap tersedia sebagai opsi baca di masing-masing tab, mengambil isi dari folder SOP Sanggabiz version.

Isi halaman
1executive summary proses end-to-end
9executive summary SOP program + bidang + governance
FullSOP lengkap tersedia dalam dropdown tiap tab
v2draft kerja dengan JTBD dan KPI detail

Executive Summary Per Bidang

Pilih bidang untuk membaca ringkasan keputusan, kontrol kunci, output minimum, dan risiko yang ditutup. Full SOP tetap dapat dibuka dari dropdown di bawah summary.

Catatan baca: bagian utama setiap tab adalah executive summary. Jika butuh detail prosedur, approval matrix, template, KPI, dan changelog lengkap, buka tombol "Baca full SOP" di bawah summary masing-masing bidang.
Business Process Mapping

Proses Bisnis Umum YHB

Ringkasan eksekutif proses bisnis end-to-end YHB, dengan opsi membaca full business process mapping dari dokumen sumber.

End-to-endDonor promise -> evidence -> learning
Executive Summary

Business process mapping menjadi kerangka payung yang menghubungkan janji donor, desain program, budget, staffing, procurement, data, pelaporan, pembelajaran, dan close-out. Intinya: setiap janji eksternal harus punya owner, budget code, evidence plan, approval trail, dan arsip yang bisa dipakai ulang.

Workflow Utama Proses Bisnis Umum YHB
01

Strategi organisasi dan donor positioning

02

Donor intelligence dan pipeline partnership

03

Go/no-go peluang donor

04

Concept note, proposal, logframe, dan budget

05

Submission dan negosiasi donor

06

Grant agreement / kontrak donor

07

Grant handover lintas fungsi

08

Kickoff dan workshop perencanaan

09

Annual workplan, budget phasing, staffing plan, procurement plan

10

TOR/SOW kegiatan dan approval

11

Implementasi landscape dan dukungan operasional

12

Monitoring bulanan dan evidence collection

13

Finance settlement, reconciliation, dan budget monitoring

14

Evaluasi 6 bulanan dan learning review

15

Laporan donor naratif dan keuangan

16

Donor feedback, audit, evaluator visit

17

Corrective action dan adaptive management

18

Close-out program, asset transfer, data archive

19

Knowledge product dan proposal berikutnya

Keputusan eksekutif

  • Tetapkan satu operating flow lintas fungsi dari donor opportunity sampai close-out.
  • Gunakan control point wajib: go/no-go, proposal clearance, grant handover, workplan approval, evidence pack, dan close-out archive.
  • Pastikan setiap grant punya owner lintas fungsi sejak awal, bukan baru saat masalah muncul.

Kontrol kunci

  • No unfunded promise: target donor harus punya budget, staffing, procurement, dan data plan.
  • Maker-checker-approver untuk proses berisiko seperti payment, procurement, dan reporting.
  • Exception log untuk penyimpangan, emergency procurement, perubahan budget, dan keterlambatan settlement.

Output minimum

  • Donor pipeline, go/no-go memo, proposal pack, grant handover pack.
  • Annual workplan, MEL plan, procurement plan, staffing plan, budget monitoring.
  • Evidence pack, donor report, final archive, asset close-out, dan learning brief.

Risiko yang ditutup

  • Proposal menjanjikan target yang tidak realistis atau tidak bisa dibuktikan.
  • Finance, KMEL, Logistik, SDM, dan Program bekerja dengan versi informasi berbeda.
  • Data dan pembelajaran hilang setelah grant selesai atau staf berganti.
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/business_process_mapping_v1.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/business_process_mapping_v1.md

Business Process Mapping v1 - YHB / Blue Forests

Dokumen: Business Process Mapping v1
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v1.0 draft kerja
Tanggal: 7 Mei 2026

1. Tujuan dokumen

Dokumen ini memetakan proses bisnis umum YHB dan proses lintas bagian untuk menjadi dasar penyusunan SOP modular. Pemetaan ini dibuat dari telaah SOP 2019, draft perbaikan SOP 2022, gap-analysis Termin 1, dan interview fungsi Partnership, Logistik, Keuangan, SDM, serta KMEL.

Tujuan utamanya:

  1. Menjelaskan alur kerja end-to-end dari peluang donor sampai close-out program.
  2. Menentukan titik kontrol, output, dan approval lintas fungsi.
  3. Mengurangi proses berbasis orang/email menjadi proses berbasis sistem, register, dan SLA.
  4. Menjadi peta induk bagi SOP Partnership, Logistik, Keuangan, SDM, dan KMEL.

2. Prinsip desain proses bisnis

PrinsipArti operasional
Donor promise to evidenceSemua janji ke donor harus diturunkan ke logframe, workplan, budget, data collection, evidence pack, dan laporan
One source of truthData program, finance, people, procurement, dan asset harus punya register resmi
Maker-checker-approverPembuat, pemeriksa, dan pemberi approval harus dibedakan untuk proses berisiko
Fit for remote landscapeSOP harus memuat lead time, exception, dan bukti minimum untuk lokasi remote
Data becomes learningData tidak boleh berhenti sebagai arsip; harus dipakai untuk keputusan dan pembelajaran
Role before systemSistem digital membantu, tetapi proses, owner, SLA, dan approval harus jelas dulu
Documented exceptionPenyimpangan dari SOP boleh hanya bila ada justifikasi, approval, dan exception log

3. Peta proses end-to-end

Workflow Utama Workflow
01

Strategi organisasi dan donor positioning

02

Donor intelligence dan pipeline partnership

03

Go/no-go peluang donor

04

Concept note, proposal, logframe, dan budget

05

Submission dan negosiasi donor

06

Grant agreement / kontrak donor

07

Grant handover lintas fungsi

08

Kickoff dan workshop perencanaan

09

Annual workplan, budget phasing, staffing plan, procurement plan

10

TOR/SOW kegiatan dan approval

11

Implementasi landscape dan dukungan operasional

12

Monitoring bulanan dan evidence collection

13

Finance settlement, reconciliation, dan budget monitoring

14

Evaluasi 6 bulanan dan learning review

15

Laporan donor naratif dan keuangan

16

Donor feedback, audit, evaluator visit

17

Corrective action dan adaptive management

18

Close-out program, asset transfer, data archive

19

Knowledge product dan proposal berikutnya

4. Capability map organisasi

DomainFungsi utamaOutput utama
GovernanceStrategy, delegation of authority, policy approval, risk oversightStrategic direction, approval matrix, risk register
PartnershipDonor search, donor relationship, proposal, grant negotiation, donor stewardshipDonor pipeline, proposal pack, grant handover pack
Advisor/TechnicalTechnical direction, program design, quality assurance, issue escalationTechnical note, method guidance, technical approval
Program/LandscapeActivity planning, field implementation, community engagement, local coordinationTOR, activity report, field evidence, issue log
KMEL/KMLLogframe, workplan monitoring, data management, donor reporting, learningMEL plan, dashboard, evidence pack, donor report, knowledge product
FinanceBudget, payment, advance, settlement, accounting, donor financial reportApproved budget, payment records, advance aging, financial report
Logistics/ProcurementProcurement, travel, vendor, asset, stock, disposal, field supportProcurement file, vendor master, asset register, travel plan
SDM/PeopleWorkforce planning, recruitment, grading, onboarding, payroll input, L&D, performanceStaffing plan, contract, job grade, training plan, performance record
CommunicationsBrand, public content, media, story packaging, digital channelsPublication, media response, brand-compliant material
Safeguarding/GEDSIDuty of care, grievance, SEAH, child safe, inclusionCase protocol, referral map, GEDSI checklist

5. Business process umum YHB

5.1 Strategy and donor positioning
ElemenStandar proses
TriggerAnnual strategy review, new donor opportunity, board/director direction
DriverDirektur dan Partnership
ConsultedAdvisor, KMEL, Finance, Program/Landscape
OutputPriority donor list, thematic positioning, funding target, risk appetite
ControlDonor must align with mission, safeguarding standard, legal compliance, and operational capacity
5.2 Donor pipeline to proposal
StepProsesOutputControl point
1Scan donor/call for proposalDonor opportunity notePartnership validates fit
2Go/no-go reviewDecision memoDirector approval for pursuit
3Design workshopProblem statement, theory/logframe, target landscapeAdvisor and KMEL review
4Budget and compliance reviewProposal budget and compliance checklistFinance review before submission
5SubmissionSubmitted proposalDirector final approval
6NegotiationDonor query response and revised packagePartnership coordinates, Finance/KMEL/Advisor clear relevant parts
5.3 Grant award to kickoff
StepProsesOutputControl point
1Donor agreement reviewContract risk noteDirector, Finance, Advisor, legal/tax if needed
2Grant handoverHandover packMandatory meeting before implementation
3Program kickoffKickoff minutesAll functions informed
4Workshop perencanaanAnnual workplan, MEL plan, procurement plan, staffing planKMEL coordinates
5Baseline operational setupCodes, folders, vendor needs, recruitment needsFinance, Logistik, SDM set registers
5.4 Activity planning and implementation
StepProsesOutputControl point
1Landscape drafts TOR/SOWTOR/SOW and budget requestProgram/Landscape owner
2Technical/KMEL reviewReviewed narrative and indicator alignmentSLA 7 hari kerja
3Finance reviewBudget availability and donor codingNo budget review before narrative clearance if donor requires
4Logistics and HR readinessProcurement/travel/staffing planLead time and remote risk check
5ApprovalApproved TOR/SOWApproval matrix applies
6ImplementationActivity deliveryField evidence collected
7Settlement and reportSettlement, activity report, evidence packFinance and KMEL QA
5.5 Monitoring, evaluation, learning, and reporting
StepProsesOutputControl point
1Monthly monitoringMonthly landscape reportDue date and completeness check
2Data processingIndicator tracker, Kobo/GIS export, evidence registerData quality check
3Six-month evaluationEvaluation minutes, issue log, adaptation planAdvisor and Program review
4Donor reportingNarrative and financial reportKMEL, Finance, Advisor, Director review
5Knowledge productLesson brief, case story, module, newsletterPublication approval if external
6Adaptive managementRevised workplan/risk mitigationDocumented decision
5.6 Close-out and institutional learning
StepProsesOutputControl point
1Close-out planningClose-out checklistStart 90 days before end date
2Final reportNarrative, finance, asset, evidence packDirector approval
3Asset dispositionTransfer/write-off/return recordLogistics and donor rule
4Data archiveLocked archive folder and metadataKMEL/Data owner sign-off
5Learning reviewFinal after-action reviewInputs for next proposal

6. Proses per bagian

6.1 Partnership - cari donor dan kelola hubungan donor
TahapAktivitasOutputPihak terkait
Donor intelligenceMemantau call for proposal, donor strategy, existing relationship, dan funding fitDonor pipelinePartnership, Direktur
Go/no-goMenilai mission fit, compliance burden, co-financing, risk, dan capacityGo/no-go memoDirektur, Advisor, Finance, KMEL
Proposal designMengkoordinir concept note, narasi, logframe awal, budget input, dan attachmentProposal packAdvisor, KMEL, Finance, Program
SubmissionFinal check dan submit proposalSubmitted proposalDirektur approval
NegotiationMenjawab donor query dan menyelaraskan revisiNegotiation logPartnership lead
Award handoverMenyerahkan kontrak, logframe, budget, donor requirement, contact, deadlineGrant handover packKMEL, Finance, SDM, Logistik
StewardshipUpdate donor, kunjungan, reporting relationship, renewalDonor relationship logProgram, KMEL, Comms
6.2 Advisor/Technical - arah teknis dan quality assurance
TahapAktivitasOutputPihak terkait
Proposal designMemberi arah teknis, asumsi, metode, dan target realistisTechnical design notePartnership, KMEL
KickoffMenjelaskan strategi teknis ke landscapeTechnical orientationProgram/Landscape
TOR reviewMemastikan kegiatan selaras dengan metode dan outcomeTechnical clearanceKMEL, Finance
Issue escalationMemberi keputusan teknis saat masalah memengaruhi logframeTechnical decision recordDirektur, KMEL
EvaluationMereview pembelajaran dan perubahan strategiAdaptation noteProgram, KMEL
6.3 Logistics - penyediaan barang, jasa, perjalanan, dan aset
TahapAktivitasOutputPihak terkait
Procurement planningMengubah workplan menjadi rencana pengadaan 3 bulanan/bulananProcurement planProgram, Finance
RequisitionMenerima PR/TOR dan spesifikasiPurchase requisitionRequester
Vendor sourcingMemilih vendor sesuai threshold, due diligence, COI checkQuotation/bid fileFinance, requester
Procurement approvalEvaluasi teknis dan harga, approval sesuai nilaiBid evaluation and approvalBudget holder, Director
Delivery and receivingTerima barang/jasa, cek kualitas, dokumenGoods received noteRequester
Asset controlTagging, handover, stock count, maintenanceAsset registerFinance, user
Travel supportTiket, akomodasi, transport, field logisticsTravel packFinance, Program
Disposal/transferWrite-off, hibah, transfer asset akhir proyekDisposal/transfer recordDirector, donor if required
6.4 SDM - rekrut, grading, training, performance, promosi
TahapAktivitasOutputPihak terkait
Workforce planningMenghitung kebutuhan orang dari grant/workplanStaffing planPartnership, Program, Finance
Job gradingMenentukan level jabatan, salary band, dan competency requirementJob grade and bandDirector, Finance
RecruitmentJD, posting, selection, reference check, offeringRecruitment fileHiring manager
ContractingPKWT/konsultan/volunteer/intern agreementSigned contractDirector
OnboardingInduksi SOP, safeguarding, finance, logistics, KMEL, data securityOnboarding checklistAll functions
Learning developmentTraining need analysis, individual development plan, mentoringL&D planLine manager
PerformanceGoal setting, mid-year review, year-end review, growth planPerformance recordLine manager
PromotionEligibility, panel review, salary adjustment, transition planPromotion memoDirector
ExitHandover, data return, asset return, exit interviewExit clearanceHR, Finance, Logistics, KMEL
6.5 Finance - budget, payment, settlement, reporting
TahapAktivitasOutputPihak terkait
Budget designReview proposal budget, cost realism, donor ruleApproved proposal budgetPartnership, KMEL
Grant setupProject code, chart of account, budget phasingGrant finance setupProgram, KMEL
Payment/advanceVerifikasi dokumen, budget availability, payment processingPayment voucher/advanceRequester, approver
SettlementReview bukti, coding, tax, eligibility, agingSettlement recordRequester
Monthly closeReconciliation, budget monitoring, exception logMonthly finance packManagement
Donor reportFinancial report, variance explanation, supporting schedulesDonor financial reportKMEL, Partnership
AuditAudit schedule, samples, responseAudit file and CAPADirector
6.6 KMEL/KML - knowledge, monitoring, evaluation, learning
TahapAktivitasOutputPihak terkait
Grant handoverMenerima logframe, donor requirement, reporting scheduleMEL setup checklistPartnership
MEL planningMenyusun MEL plan, indicator reference, data source, evidence packMEL planAdvisor, Program
Data systemMembuat folder taxonomy, Kobo/GIS forms, data registerData collection toolsLandscape
Monthly monitoringReview laporan landscape, update indicator trackerMonthly monitoring dashboardProgram
EvaluationEvaluasi 6 bulanan, issue log, adaptation planEvaluation reportAdvisor, Director
Donor reportingDraft/review naratif, evidence, data kuantitatifDonor narrative reportFinance, Advisor
Knowledge managementMengolah pembelajaran menjadi story, module, lesson briefKnowledge productsComms, Partnership
Data archiveMenutup data program dan memastikan retentionArchive registerIT/Data owner

7. Operating calendar minimum

FrekuensiKegiatanOwnerOutput
Harian/mingguanActivity implementation, procurement tracking, issue escalationProgram/LogisticsActivity status
BulananLandscape report, budget monitoring, advance aging, procurement statusKMEL/Finance/LogisticsMonthly management pack
TriwulananDonor pipeline review, risk review, vendor reviewPartnership/DirectorPipeline and risk update
SemesterEvaluation workshop, performance check-in, learning forumKMEL/SDMEvaluation and people review
TahunanStrategy, budget, salary band, policy review, audit preparationDirector/ManagersAnnual plan and review
End of projectClose-out, asset disposition, data archive, final learningProgram/KMEL/Finance/LogisticsClose-out pack

8. Approval points utama

Approval pointMinimum approverNotes
Go/no-go donorDirekturDengan masukan Advisor, Finance, KMEL
Proposal submissionDirekturFinance clear budget; Advisor/KMEL clear logic
Donor agreementDirekturDewan dilibatkan bila nilai/risiko strategis tinggi
Annual workplanProgram Lead/Advisor + KMEL + FinanceDirektur untuk grant besar/strategis
TOR/SOW activityBudget Holder/Program LeadFinance review budget; KMEL review indicator if relevant
ProcurementSesuai threshold approval matrixAnti-split purchase applies
Payment/advanceSesuai approval matrixNo payment without complete document
Staff recruitmentHiring Manager + HR + DirekturFinance confirms budget availability
Promotion/job grade changePromotion panel + DirekturFinance confirms salary band
Donor report submissionKMEL + Finance + Advisor + DirekturPartnership informed/submits if relationship owner
Asset disposal/transferLogistics + Finance + DirekturDonor approval if required

9. Data object/register wajib

RegisterOwnerFungsi
Donor pipelinePartnershipMemantau peluang, status, next action
Grant registerPartnership/FinanceDaftar kontrak donor, nilai, periode, reporting requirement
Workplan registerKMEL/ProgramMonitoring kegiatan dan target
Indicator trackerKMELMonitoring capaian output/outcome
Evidence registerKMELMenautkan klaim laporan dengan bukti
Budget monitoringFinanceRealisasi vs budget
Advance agingFinanceOutstanding advance dan escalation
Procurement trackerLogisticsStatus pengadaan dan vendor
Vendor masterLogisticsVendor approved dan due diligence
Asset registerLogistics/FinanceAsset location, custodian, status
People registerSDMStaff, contract, grade, supervisor, training
Training and competency matrixSDMSkill gap dan L&D plan
Risk and issue logPM/KMELProgram risk, mitigation, decision
Document control registerGovernance/HRGAVersion, owner, effective date, review date

10. Quick wins process improvement

  1. Terapkan grant handover checklist sebelum setiap program berjalan.
  2. Buat TOR/report tracker dengan SLA 7 hari kerja dan overdue escalation.
  3. Bentuk donor reporting calendar terpadu antara Partnership, KMEL, dan Finance.
  4. Bentuk procurement plan 3 bulanan dari annual workplan.
  5. Bentuk advance aging report mingguan/bulanan.
  6. Buat data taxonomy untuk Google Drive/Synology sebelum membangun MIS.
  7. Tetapkan job grading framework dan hubungkan dengan salary band, promosi, dan L&D.
  8. Jalankan quarterly learning forum lintas landscape.

11. Catatan implementasi sistem digital

Sistem digital atau MIS sebaiknya dikembangkan bertahap:

FaseFokusOutput
Fase 1Standardisasi data dan trackerFolder taxonomy, registry spreadsheet, tracker TOR/report/procurement/advance
Fase 2Workflow approval sederhanaForm submission, status, reminder, approval log
Fase 3Dashboard managementDonor report status, workplan progress, budget burn rate, procurement, advance, people
Fase 4Knowledge search/AI assistantSearch lintas folder, evidence retrieval, report drafting support

Syarat sebelum masuk fase sistem: owner jelas, data bersih, naming standard, access control, dan SOP workflow sudah disahkan.

SOP 00

Program Development

SOP lintas divisi untuk mengubah fokus program Blue Forest menjadi portfolio program yang terstruktur, evidence-based, didanai, dijalankan, dievaluasi, dan diperbaiki secara adaptif.

GoalPortfolio -> ToC -> delivery -> learning
Executive Summary

Program Development menjadi jembatan antara strategi program, kebutuhan landscape, evidence KMEL, donor opportunity, budget, kapasitas tim, safeguarding, data governance, dan learning. SOP ini mencegah program hanya embedded di landscape tanpa struktur portfolio, dengan loop assess, theory of change, co-design, readiness, implementation, evaluation, learning, adaptation, dan scale/exit.

Workflow Utama Program Development
01

Landscape and portfolio assessment

02

Sensemaking and problem statement

03

Program focus mapping 6+1

04

Theory of Change and learning agenda

05

Cross-division co-design

06

Design readiness review

07

Ready?

08

Proposal / workplan / implementation package

09

Kickoff and execution governance

10

Monitoring and evidence collection

11

Evaluation and learning review

12

Decision

13

Continue

14

Adapt / redesign

15

Scale / replicate

16

Exit / transition

17

Archive and institutional learning

Keputusan eksekutif

  • Tetapkan 6+1 fokus program sebagai portfolio organisasi, bukan daftar aktivitas landscape.
  • Setiap program baru wajib punya landscape assessment, theory of change, evidence plan, budget logic, risk screen, dan owner lintas divisi.
  • Program tidak masuk proposal atau implementasi sebelum melewati design readiness review.

Kontrol kunci

  • Gunakan program cycle adaptif: assess, design, plan, implement, monitor, evaluate, learn, adapt, dan scale/exit.
  • Review program memakai OECD DAC lens: relevance, coherence, effectiveness, efficiency, impact, dan sustainability.
  • CLA/learning agenda wajib dibuat agar monitoring dan evaluasi menghasilkan keputusan, bukan hanya laporan.

Output minimum

  • Landscape/program assessment pack, focus portfolio map, theory of change, program design brief.
  • Cross-division design clearance, implementation readiness checklist, MEL/evidence plan, learning agenda.
  • Adaptation decision log, evaluation brief, scale/replication/exit note, dan program archive.

Risiko yang ditutup

  • Program berjalan sebagai aktivitas terpisah per landscape tanpa arsitektur portfolio.
  • Proposal menjanjikan dukungan program tanpa evidence, kapasitas, budget, atau learning pathway.
  • Evaluasi tidak mengubah desain program berikutnya dan pembelajaran tidak masuk keputusan strategis.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - Program Development

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Melakukan landscape and portfolio assessment Blue Forest memiliki basis bukti untuk menentukan kebutuhan landscape, gap program, dan prioritas portfolio 6+1 fokus program.
  1. Kumpulkan data sosial, ekonomi, ekologi, governance, livelihood, pangan, pendidikan, dan budaya masyarakat dari landscape.
  2. Petakan stakeholder, hak akses, dinamika kuasa, risiko konflik, aktor adat/lokal, kelompok rentan, donor, pemerintah, dan mitra teknis.
  3. Review evidence yang sudah ada dari KMEL, riset, donor report, partner, dan data publik untuk menghindari assessment berulang.
  4. Kelompokkan temuan ke 6 fokus program utama dan 1 fokus budaya masyarakat agar kebutuhan landscape tidak tercecer menjadi aktivitas ad hoc.
  5. Buat opportunity/problem statement per fokus program berisi masalah, penyebab, kelompok terdampak, evidence, asumsi, dan risiko.
02 Menyusun theory of change dan program architecture Setiap fokus program memiliki logika perubahan yang jelas, testable, dan bisa diterjemahkan menjadi proposal, workplan, MEL plan, dan pembelajaran.
  1. Definisikan outcome jangka panjang, intermediate outcome, output, aktivitas kunci, asumsi, risiko, dan evidence gap.
  2. Gunakan OECD DAC lens untuk menguji relevance, coherence, effectiveness, efficiency, impact, dan sustainability dari rancangan program.
  3. Tentukan learning agenda: apa yang belum diketahui, keputusan apa yang akan dibantu data, dan kapan pembelajaran dipakai untuk adaptasi.
  4. Validasi theory of change bersama Program, KMEL, Partnership, Finance, Logistik, SDM, Data Security, Safeguarding-GEDSI, landscape team, dan perwakilan komunitas.
  5. Dokumentasikan program architecture: fokus program, target group, geography, outcome, package intervensi, evidence plan, dan decision gate.
03 Melakukan cross-division program design and planning Rancangan program siap masuk pipeline donor atau workplan internal karena sudah jelas kebutuhan budget, staf, procurement, data, safeguarding, dan mitra.
  1. Buat program design brief yang memuat rationale, target group, package kegiatan, outcome, indikator, budget logic, timeline, dan partner role.
  2. Finance menilai cost realism, indirect cost, tax, cash flow, dan eligibility donor bila rancangan masuk proposal.
  3. SDM menilai staffing, consultant need, capacity gap, dan learning plan.
  4. Logistik menilai procurement, travel, asset, remote lead time, vendor/partner readiness, dan delivery risk.
  5. Data Security dan Safeguarding-GEDSI menilai klasifikasi data, consent, protection risk, GEDSI barrier, dan do-no-harm mitigation.
  6. Partnership menilai donor fit dan packaging proposal, sementara KMEL menilai indikator, baseline, data collection, dan evidence pack.
04 Menjalankan implementation readiness and execution governance Program tidak mulai hanya karena donor/grant sudah ada; program mulai setelah readiness minimum dan decision gate terpenuhi.
  1. Lakukan implementation readiness review sebelum kickoff: owner, budget code, workplan, MEL plan, procurement plan, staffing, risk register, dan reporting calendar.
  2. Tetapkan governance cadence: weekly delivery check untuk program aktif, monthly portfolio review, dan quarterly learning review.
  3. Gunakan issue and adaptation log untuk mencatat deviasi, risiko, perubahan konteks, dan keputusan penyesuaian.
  4. Pastikan perubahan signifikan pada output, budget, target, atau pendekatan masuk approval dan donor communication pathway jika diperlukan.
  5. Simpan evidence selama eksekusi, bukan menjelang donor report saja.
05 Melakukan monitoring, evaluation, learning, and adaptation Data monitoring dan evaluasi dipakai untuk memperbaiki program, bukan hanya memenuhi laporan donor.
  1. KMEL dan Program meninjau indikator, output, outcome signal, cerita perubahan, risiko, dan feedback komunitas secara berkala.
  2. Gunakan evaluasi formatif untuk memperbaiki implementasi saat program berjalan dan evaluasi sumatif untuk menilai hasil pada milestone utama.
  3. Gunakan CDC evaluation steps: assess context, describe program, focus evaluation questions, gather credible evidence, generate conclusions, dan act on findings.
  4. Bandingkan hasil dengan theory of change: asumsi mana yang benar, mana yang salah, dan apa konsekuensinya bagi desain program.
  5. Buat adaptation decision: continue, adapt, pause, scale, integrate, exit, atau redesign.
06 Mengelola scale, replication, exit, and institutional learning Program yang berhasil dapat diperluas atau direplikasi, sedangkan program yang tidak relevan bisa dihentikan dengan pembelajaran dan akuntabilitas.
  1. Tentukan apakah program siap scale/replication menggunakan evidence strength, community demand, cost, partner readiness, risk, dan sustainability.
  2. Buat replication package berisi theory of change, workplan, budget assumptions, tools, evidence, risk mitigation, dan minimum capacity.
  3. Untuk program yang berakhir, buat exit/transition plan yang menjelaskan ownership, asset, data, partner handover, dan sustainability pathway.
  4. Dokumentasikan learning brief dan masukkan insight ke donor pipeline, proposal design, SOP, dan Resilience Governance backlog.
  5. Arsipkan program package agar dapat dipakai oleh landscape lain tanpa mengulang desain dari nol.
KPI

Matriks KPI - Program Development

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Portfolio assessment completeness % fokus program 6+1 yang memiliki assessment pack dan problem statement terbaru 100% Tahunan Program portfolio assessment register Program Development + KMEL
Theory of Change quality clearance % program baru/major redesign yang memiliki ToC, assumptions, risks, indicators, dan learning agenda yang direview lintas divisi 100% Per design gate ToC review checklist Program Development + KMEL
Cross-division design readiness % program design brief yang lolos clearance Partnership, Finance, SDM, Logistik, KMEL, Data Security, dan Safeguarding-GEDSI sebelum proposal/kickoff 100% Per proposal/kickoff Program design clearance sheet Program Development Lead
Implementation readiness % program aktif yang memiliki workplan, budget code, MEL plan, procurement/staffing plan, risk register, dan reporting calendar sebelum kickoff >=95% Per kickoff Implementation readiness checklist Program Manager
Learning-to-adaptation closure % learning review yang menghasilkan decision continue/adapt/pause/scale/exit/redesign dengan owner dan due date >=85% Kuartalan Learning and adaptation log Program Development + Resilience Governance
Program focus portfolio balance Jumlah fokus program 6+1 yang memiliki minimal satu active package, pipeline concept, atau learning agenda 7/7 fokus Semesteran Portfolio map and donor pipeline Program Development + Partnership
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_program_development_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_program_development_playbook_v2.md

SOP / Playbook Program Development v2

Dokumen: SOP dan Playbook Program Development
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur cara Blue Forest mengembangkan program lintas divisi agar fokus dukungan organisasi tidak hanya embedded di landscape, tetapi menjadi portfolio program yang terstruktur, evidence-based, siap didanai, siap dijalankan, dan terus diperbaiki melalui monitoring, evaluasi, dan learning.

Program Development menjadi penghubung antara:

  • Fokus program organisasi.
  • Kebutuhan dan konteks landscape.
  • Evidence sosial, ekonomi, ekologi, governance, pangan, livelihood, pendidikan, dan budaya masyarakat.
  • Pipeline donor dan proposal.
  • Workplan, budget, staffing, procurement, data, safeguarding, GEDSI, dan KMEL.
  • Learning agenda, evaluation, adaptation, scale, replication, atau exit.

Tujuan praktisnya adalah membuat loop pengembangan program yang robust tetapi aplikatif: assess and sensemake, theory of change, co-design, readiness, implementation, monitoring, evaluation, learning, adaptation, scale/replication, dan exit.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Pengembangan program baru.
  • Redesign program yang sudah berjalan.
  • Pengemasan program untuk donor/proposal.
  • Pembelajaran dan replikasi program antar landscape.
  • Evaluasi portfolio program lintas landscape.
  • Integrasi 6 fokus program Blue Forest dan 1 fokus budaya masyarakat.

SOP ini tidak menggantikan SOP Partnership, KMEL, Keuangan, SDM, Logistik, Data Security, Safeguarding-GEDSI, atau Resilience Governance. SOP ini menjadi ruang koordinasi lintas divisi agar setiap program memiliki desain, delivery model, evidence plan, resourcing plan, dan learning loop yang jelas.

3. Kerangka teori dan rujukan praktis

Program Development v2 menggabungkan beberapa kerangka yang umum dipakai di development sector:

KerangkaPrinsip yang diambilImplikasi untuk Blue Forest
USAID Program Cycle dan Collaborating, Learning, and Adapting / CLAProgram tidak linear; strategi, desain, implementasi, monitoring, evaluation, learning, dan adaptation saling menguatkanProgram harus punya learning agenda, adaptation log, dan portfolio review, bukan hanya workplan tahunan
CDC Program Evaluation FrameworkEvaluasi yang baik mengikutsertakan stakeholder, menggambarkan program, memfokuskan pertanyaan evaluasi, mengumpulkan evidence kredibel, menyusun kesimpulan, dan bertindak atas temuanEvaluasi Blue Forest harus menghasilkan keputusan program, bukan sekadar laporan
OECD DAC Evaluation CriteriaIntervensi dinilai dengan relevance, coherence, effectiveness, efficiency, impact, dan sustainabilityDesign review dan evaluation review harus menguji relevansi, koherensi, efektivitas, efisiensi, dampak, dan keberlanjutan
UNDP Planning, Monitoring and Evaluating for Development ResultsPlanning, monitoring, dan evaluation harus diarahkan pada development resultsTheory of Change, indikator, dan evidence pack harus sejak awal terkait dengan outcome dan hasil pembangunan

Sintesis untuk YHB:

  1. Assessment: memahami konteks landscape dan masalah program.
  2. Sensemaking: mengubah data menjadi problem statement dan opportunity statement.
  3. Theory of Change: menjelaskan bagaimana perubahan diharapkan terjadi.
  4. Co-design: merancang program bersama fungsi internal, komunitas, mitra, dan donor bila relevan.
  5. Readiness: memastikan budget, staf, procurement, safeguarding, data, dan MEL siap sebelum implementasi.
  6. Execution and adaptive management: menjalankan program dengan decision gate dan adaptation log.
  7. Evaluation and learning: menguji hasil, asumsi, risiko, dan kontribusi program.
  8. Scale, replication, integration, or exit: memutuskan masa depan program berbasis evidence.

4. Program focus portfolio 6+1

Program Development harus mengelola fokus program sebagai portfolio organisasi. Setiap landscape boleh memiliki kombinasi fokus berbeda, tetapi semua program harus bisa dipetakan ke portfolio 6+1 berikut.

Fokus programDefinisi operasionalContoh dukungan lintas divisi
Social, Economic, Ecological Studies / ResearchStudi sosial, ekonomi, dan ekologi untuk memahami dinamika landscape dan menyediakan evidence bagi planning dan managementKMEL memimpin evidence design; Partnership mengemas learning untuk donor; Data Security mengatur data classification; Safeguarding-GEDSI memastikan etika penelitian
Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR)Rehabilitasi mangrove ekologis yang memulihkan fungsi ekosistem dan hidrologi alami sebagai dasar resiliensi jangka panjangProgram dan KMEL merancang ecological baseline; Logistik menilai kebutuhan material/transport; Finance menilai cost realism; Partnership mengelola donor expectation
Inclusive Governance of Mangrove Landscape and Marine Protected Area (MPA)Penguatan tata kelola landscape dan MPA melalui co-management, partisipasi komunitas, pemerintah, dan stakeholder lainProgram memfasilitasi governance process; Safeguarding-GEDSI menjaga inklusi; Partnership mengelola aktor eksternal; KMEL mengukur governance outcomes
Mangrove Nutrition and Coastal Food SecurityMenghubungkan kesehatan ekosistem mangrove dengan pangan pesisir, nutrisi, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutanKMEL dan Program merancang indikator pangan; Partnership mencari donor fit; Finance memeriksa eligibility; Safeguarding-GEDSI menjaga do-no-harm pada kelompok rentan
Sustainable Livelihood and Coastal Community ResiliencePengembangan livelihood yang memperkuat ekonomi komunitas, resiliensi pesisir, dan pembelajaran Coastal Field SchoolSDM mengidentifikasi capacity building; Logistik mendukung tools/training; Finance menilai unit economics; KMEL mengukur outcome livelihood
Action Research Problem Solving (ARPS) and Environmental EducationAction research dan pendidikan lingkungan untuk memperkuat problem solving, kesadaran, dan partisipasi komunitas/pemudaKMEL merancang learning question; Program memfasilitasi action research; Safeguarding-GEDSI menjaga keamanan anak/pemuda; Partnership mengemas knowledge product
Budaya masyarakat pesisir dan pengetahuan lokalPelestarian, penghormatan, dan integrasi budaya, identitas, pengetahuan lokal, praktik adat, narasi sejarah, dan relasi spiritual-ekologis masyarakat pesisirProgram dan KMEL mendokumentasikan pengetahuan lokal secara etis; Safeguarding-GEDSI mengatur consent dan do-no-harm; Partnership menghindari eksploitasi narasi; Data Security mengatur akses data budaya sensitif

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Landscape and portfolio assessment

02

Sensemaking and problem statement

03

Program focus mapping 6+1

04

Theory of Change and learning agenda

05

Cross-division co-design

06

Design readiness review

07

Ready?

08

Proposal / workplan / implementation package

09

Kickoff and execution governance

10

Monitoring and evidence collection

11

Evaluation and learning review

12

Decision

13

Continue

14

Adapt / redesign

15

Scale / replicate

16

Exit / transition

17

Archive and institutional learning

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

5A.1 Melakukan landscape and portfolio assessment

Outcome yang diharapkan: Blue Forest memiliki basis bukti untuk menentukan kebutuhan landscape, gap program, dan prioritas portfolio 6+1 fokus program.

PIC utama: Program Development Lead bersama KMEL dan landscape team.

Input minimum:

  • Data landscape sosial, ekonomi, ekologi, governance, livelihood, pangan, pendidikan, dan budaya.
  • Donor report, evidence pack, learning brief, dan evaluasi sebelumnya.
  • Stakeholder map dan partner map.
  • Data risiko safeguarding, GEDSI, konflik, legal, dan data sensitivity.
  • Aspirasi komunitas dan pemerintah lokal.

Langkah teknis:

  1. Kumpulkan dan review data sekunder sebelum melakukan assessment baru.
  2. Identifikasi data gap dan tentukan apakah perlu rapid assessment, participatory assessment, atau study lebih mendalam.
  3. Petakan stakeholder, hak akses, aktor adat/lokal, kelompok rentan, donor, pemerintah, dan mitra teknis.
  4. Kelompokkan temuan ke dalam 6+1 fokus program.
  5. Buat problem statement per fokus: masalah, penyebab, kelompok terdampak, evidence, asumsi, dan risiko.
  6. Validasi temuan bersama landscape team, KMEL, Safeguarding-GEDSI, Data Security, dan perwakilan komunitas bila aman.

Output dan evidence wajib:

  • Landscape assessment pack.
  • Portfolio focus map 6+1.
  • Problem/opportunity statement.
  • Data gap list.
  • Stakeholder and power map.
  • Risk and safeguarding note.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Jangan melakukan assessment baru jika data lama cukup dan masih relevan.
  • Data budaya, adat, lokasi sensitif, dan kelompok rentan harus diklasifikasikan sebelum dibagikan.
  • Hasil assessment harus dibaca sebagai konteks hidup, bukan angka final yang tidak berubah.
5A.2 Menyusun Theory of Change dan program architecture

Outcome yang diharapkan: Setiap fokus program memiliki logika perubahan yang jelas, testable, dan bisa diterjemahkan menjadi proposal, workplan, MEL plan, dan pembelajaran.

PIC utama: Program Development Lead dan KMEL.

Input minimum:

  • Problem/opportunity statement.
  • Evidence review.
  • Program focus map.
  • Donor strategic fit bila ada.
  • Community aspiration dan partner capability.

Langkah teknis:

  1. Definisikan outcome jangka panjang dan intermediate outcome.
  2. Rumuskan pathways of change: aktivitas, output, outcome, assumptions, risks, dan external factors.
  3. Tentukan learning agenda: apa yang belum diketahui dan keputusan apa yang akan dibantu data.
  4. Susun indicator logic dan evidence plan bersama KMEL.
  5. Uji rancangan dengan OECD DAC lens: relevance, coherence, effectiveness, efficiency, impact, dan sustainability.
  6. Validasi ToC lintas divisi dan dengan aktor landscape bila relevan.

Output dan evidence wajib:

  • Theory of Change.
  • Program architecture note.
  • Learning agenda.
  • Indicator and evidence plan.
  • Assumption and risk register.
  • ToC review checklist.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • ToC harus menunjukkan asumsi kritis, bukan hanya panah aktivitas ke output.
  • Jika evidence lemah, program harus diposisikan sebagai pilot/action research, bukan klaim proven model.
  • ToC harus cukup fleksibel untuk adaptation, tetapi cukup jelas untuk accountability.
5A.3 Melakukan cross-division program design and planning

Outcome yang diharapkan: Rancangan program siap masuk pipeline donor atau workplan internal karena budget, staf, procurement, data, safeguarding, dan mitra sudah dinilai.

PIC utama: Program Development Lead.

Input minimum:

  • Program design brief.
  • ToC dan learning agenda.
  • Draft workplan dan milestone.
  • Budget assumptions.
  • Staffing, procurement, data, safeguarding, dan GEDSI notes.

Langkah teknis:

  1. Buat program design brief yang memuat rationale, target group, geography, package kegiatan, outcome, indikator, budget logic, timeline, dan partner role.
  2. Partnership menilai donor fit, value proposition, dan proposal packaging.
  3. Finance menilai cost realism, indirect cost, tax, cash flow, dan donor eligibility.
  4. SDM menilai staffing, consultant need, capacity gap, dan training plan.
  5. Logistik menilai procurement, travel, asset, remote lead time, vendor readiness, dan delivery risk.
  6. KMEL menilai baseline, indikator, tools, data flow, dashboard, dan evidence pack.
  7. Data Security menilai data classification, access, storage, retention, dan consent.
  8. Safeguarding-GEDSI menilai do-no-harm, inclusion, complaint channel, child/youth risk, dan power imbalance.
  9. Buat clearance decision: ready, ready with conditions, revise, defer, atau reject.

Output dan evidence wajib:

  • Program design brief.
  • Cross-division design clearance.
  • Budget and staffing assumptions.
  • Procurement/travel/asset assumptions.
  • Safeguarding-GEDSI and data security note.
  • Proposal/workplan package bila ready.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Program tidak boleh masuk proposal jika budget, data, safeguarding, dan staffing belum realistis.
  • Clearance bersyarat harus punya owner dan due date.
  • Community culture tidak boleh dipakai sebagai narasi donor tanpa consent dan benefit logic yang jelas.
5A.4 Menjalankan implementation readiness and execution governance

Outcome yang diharapkan: Program dimulai setelah readiness minimum terpenuhi, bukan hanya karena proposal disetujui atau aktivitas landscape sudah dijadwalkan.

PIC utama: Program Manager.

Input minimum:

  • Approved proposal atau internal workplan.
  • Budget code.
  • Workplan dan procurement plan.
  • MEL plan dan reporting calendar.
  • Risk register.
  • Partner agreement atau role clarity.

Langkah teknis:

  1. Lakukan implementation readiness review sebelum kickoff.
  2. Pastikan owner, budget code, workplan, MEL plan, procurement plan, staffing, risk register, reporting calendar, dan data folder sudah tersedia.
  3. Tetapkan governance cadence: weekly delivery check, monthly portfolio review, dan quarterly learning review.
  4. Jalankan kickoff lintas divisi untuk memastikan semua fungsi membaca versi desain yang sama.
  5. Gunakan issue and adaptation log untuk mencatat deviasi, risiko, perubahan konteks, dan keputusan penyesuaian.
  6. Jika perubahan signifikan berdampak pada donor, budget, safeguarding, atau output, jalankan approval dan donor communication pathway.

Output dan evidence wajib:

  • Implementation readiness checklist.
  • Kickoff minutes.
  • Workplan baseline.
  • Issue and adaptation log.
  • Updated risk register.
  • Donor/reporting calendar.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Kickoff tidak boleh menggantikan readiness review.
  • Evidence harus dikumpulkan selama implementasi, bukan menjelang report.
  • Semua perubahan signifikan harus terdokumentasi.
5A.5 Melakukan monitoring, evaluation, learning, and adaptation

Outcome yang diharapkan: Monitoring dan evaluasi dipakai untuk memperbaiki program, bukan hanya memenuhi laporan donor.

PIC utama: KMEL dan Program Manager.

Input minimum:

  • MEL plan.
  • Indicator reference sheet.
  • Monitoring data.
  • Community feedback.
  • Financial/procurement/staffing update.
  • Risk and adaptation log.

Langkah teknis:

  1. Review data indikator, output, outcome signal, cerita perubahan, risiko, dan feedback komunitas secara berkala.
  2. Gunakan evaluasi formatif untuk memperbaiki implementasi saat program berjalan.
  3. Gunakan evaluasi sumatif untuk menilai hasil pada milestone besar atau akhir program.
  4. Terapkan CDC evaluation steps: assess context, describe program, focus evaluation questions, gather credible evidence, generate conclusions, dan act on findings.
  5. Bandingkan hasil dengan ToC: asumsi mana yang benar, salah, atau perlu diuji ulang.
  6. Buat adaptation decision: continue, adapt, pause, scale, integrate, exit, atau redesign.
  7. Masukkan keputusan adaptasi ke workplan, proposal revision, donor communication, SOP, atau Kaizen backlog.

Output dan evidence wajib:

  • Monitoring dashboard.
  • Evaluation brief.
  • Learning review note.
  • Adaptation decision log.
  • Revised workplan atau ToC bila diperlukan.
  • Evidence pack.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Evaluasi tidak boleh berhenti pada temuan; harus ada action.
  • Data kuantitatif dan kualitatif harus dibaca bersama konteks landscape.
  • Feedback komunitas harus diperlakukan sebagai evidence, bukan lampiran kosmetik.
5A.6 Mengelola scale, replication, exit, and institutional learning

Outcome yang diharapkan: Program yang berhasil dapat diperluas atau direplikasi, sedangkan program yang tidak relevan bisa dihentikan dengan pembelajaran dan akuntabilitas.

PIC utama: Program Development Lead, Partnership, dan Resilience Governance.

Input minimum:

  • Evaluation brief.
  • Evidence strength assessment.
  • Cost and resource analysis.
  • Partner/community demand.
  • Sustainability and exit options.
  • Risk assessment.

Langkah teknis:

  1. Nilai kesiapan scale/replication menggunakan evidence strength, cost, community demand, partner readiness, risk, dan sustainability.
  2. Buat replication package berisi ToC, workplan, budget assumptions, tools, evidence, risk mitigation, dan minimum capacity.
  3. Jika program harus keluar, buat exit/transition plan: ownership, asset, data, partner handover, dan sustainability pathway.
  4. Buat learning brief yang menjelaskan apa yang bekerja, untuk siapa, dalam kondisi apa, dan apa yang tidak boleh direplikasi.
  5. Masukkan insight ke donor pipeline, proposal design, SOP, dan Resilience Governance backlog.
  6. Arsipkan program package agar landscape lain tidak mendesain dari nol.

Output dan evidence wajib:

  • Scale/replication readiness note.
  • Replication package.
  • Exit/transition plan.
  • Learning brief.
  • Program archive.
  • Portfolio decision record.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Program tidak boleh di-scale hanya karena disukai donor; harus ada evidence dan readiness.
  • Exit harus menjaga relasi komunitas dan keberlanjutan manfaat.
  • Replikasi harus adaptif terhadap konteks, bukan copy-paste antar landscape.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Portfolio assessment completeness% fokus program 6+1 yang memiliki assessment pack dan problem statement terbaru100%TahunanProgram portfolio assessment registerProgram Development + KMELReview apakah setiap fokus memiliki evidence pack terbaru, problem statement, dan data gap; fokus yang belum lengkap masuk annual assessment plan.
Theory of Change quality clearance% program baru/major redesign yang memiliki ToC, assumptions, risks, indicators, dan learning agenda yang direview lintas divisi100%Per design gateToC review checklistProgram Development + KMELCek ToC review checklist sebelum program masuk proposal/kickoff; jika belum lengkap, status design gate menjadi revise atau defer.
Cross-division design readiness% program design brief yang lolos clearance Partnership, Finance, SDM, Logistik, KMEL, Data Security, dan Safeguarding-GEDSI sebelum proposal/kickoff100%Per proposal/kickoffProgram design clearance sheetProgram Development LeadProgram Development Lead mengumpulkan clearance setiap fungsi dan mencatat condition owner bila ready with conditions.
Implementation readiness% program aktif yang memiliki workplan, budget code, MEL plan, procurement/staffing plan, risk register, dan reporting calendar sebelum kickoff>=95%Per kickoffImplementation readiness checklistProgram ManagerProgram Manager melakukan readiness review dan menunda kickoff item high-risk sampai kontrol minimum selesai.
Learning-to-adaptation closure% learning review yang menghasilkan decision continue/adapt/pause/scale/exit/redesign dengan owner dan due date>=85%KuartalanLearning and adaptation logProgram Development + Resilience GovernanceLearning review dicek terhadap decision log; keputusan tanpa owner atau due date tidak dihitung closed.
Program focus portfolio balanceJumlah fokus program 6+1 yang memiliki minimal satu active package, pipeline concept, atau learning agenda7/7 fokusSemesteranPortfolio map and donor pipelineProgram Development + PartnershipPortfolio review menilai fokus yang aktif, dormant, under-evidenced, atau over-concentrated; hasilnya masuk donor pipeline dan annual planning.
5B.1 Ritme review KPI
  1. KPI per design gate dicek sebelum proposal, kickoff, atau major redesign.
  2. KPI bulanan/kuartalan dibahas dalam portfolio review lintas divisi.
  3. KPI semesteran dan tahunan dibahas bersama Resilience Governance untuk menentukan Kaizen, capacity plan, atau strategic shift.
  4. KPI merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation route.

6. Procedure and guidelines

6.1 Portfolio assessment

Portfolio assessment dilakukan minimal tahunan dan saat ada perubahan besar pada landscape atau donor strategy. Assessment harus menjawab:

  • Fokus program mana yang paling relevan di setiap landscape?
  • Fokus mana yang memiliki evidence kuat, sedang, atau lemah?
  • Fokus mana yang punya donor fit?
  • Fokus mana yang membutuhkan riset atau pilot sebelum di-scale?
  • Fokus mana yang sensitif secara budaya, sosial, politik, atau data?
6.2 Program design gate

Design gate adalah titik keputusan sebelum program masuk proposal atau implementasi.

GatePertanyaan kunciKeputusan
Gate 1 - Problem fitApakah masalah jelas dan berbasis evidence?proceed / revise / stop
Gate 2 - Strategic fitApakah cocok dengan fokus program 6+1 dan mandat YHB?proceed / revise / stop
Gate 3 - ToC fitApakah logika perubahan, asumsi, dan indikator masuk akal?proceed / revise / pilot
Gate 4 - Resource fitApakah budget, staf, procurement, data, dan safeguarding realistis?ready / ready with conditions / defer
Gate 5 - Learning fitApakah program punya learning agenda dan adaptation pathway?ready / revise
6.3 Cross-division RACI
FungsiPeran dalam Program Development
Program Development / Program LeadMemimpin assessment, ToC, program design, readiness review, dan portfolio decision
KMELEvidence design, indicator, baseline, data collection, evaluation, learning agenda, knowledge product
PartnershipDonor fit, proposal packaging, donor communication, partnership mapping
FinanceBudget logic, cost realism, cash flow, tax, donor eligibility, financial reporting implication
LogistikProcurement, travel, asset, remote delivery, vendor/partner readiness
SDMStaffing, consultant needs, capacity building, performance and role clarity
Data SecurityData classification, storage, access, consent, retention, sensitive data protection
Safeguarding-GEDSIDo-no-harm, inclusion, complaint channel, child/youth/community protection, power analysis
Resilience GovernanceDecision log, Kaizen, DARCI, internal audit link, portfolio learning
Landscape Team and CommunityContext validation, participation, local knowledge, implementation feedback, accountability
6.4 Evidence standard

Evidence program dapat berupa:

  • Quantitative data: baseline, monitoring data, survey, ecological measures, food security data, livelihood data.
  • Qualitative data: interview, FGD, story of change, participatory mapping, observation.
  • Administrative data: budget absorption, procurement lead time, staffing, attendance, complaint log.
  • Spatial/ecological data: GIS, hydrology, land cover, rehabilitation survival, biodiversity notes.
  • Cultural/community evidence: oral history, local practice, customary governance, cultural calendar, community narrative with consent.

Evidence harus dinilai berdasarkan credibility, relevance, timeliness, ethics, and actionability.

6.5 Program focus packaging

Setiap fokus program harus memiliki reusable program package minimal:

  1. Problem statement.
  2. Theory of Change.
  3. Target group and geography.
  4. Core intervention package.
  5. Optional/contextual intervention package.
  6. Indicator and evidence plan.
  7. Budget assumptions.
  8. Staffing and partner roles.
  9. Risk and safeguarding note.
  10. Data classification note.
  11. Learning agenda.
  12. Proposal language bank.

7. Outputs

Output minimum Program Development:

  1. Program portfolio map 6+1.
  2. Landscape assessment pack.
  3. Problem/opportunity statement.
  4. Theory of Change.
  5. Program design brief.
  6. Design gate checklist.
  7. Cross-division clearance sheet.
  8. Implementation readiness checklist.
  9. MEL/evidence plan.
  10. Learning agenda.
  11. Issue and adaptation log.
  12. Evaluation brief.
  13. Scale/replication readiness note.
  14. Exit/transition plan.
  15. Program archive.

8. Integrasi dengan SOP divisi

SOP divisiIntegrasi dengan Program Development
PartnershipProgram package menjadi bahan donor pipeline, proposal, donor engagement, dan renewal
KMELToC, indicator, baseline, evidence pack, evaluation, learning agenda, dan knowledge product
KeuanganBudget assumptions, cost realism, donor eligibility, cash flow, dan financial reporting implication
SDMStaffing plan, consultant need, capacity building, and role clarity
LogistikProcurement plan, asset, travel, remote delivery, and vendor/partner readiness
Data SecurityData classification, access control, consent, storage, retention, and sensitive data protection
Safeguarding-GEDSIDo-no-harm, inclusion, complaint channel, community protection, and GEDSI checklist
Resilience GovernanceDesign gate decisions, adaptation log, scale/exit decisions, and Kaizen linkage

9. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Program hanya embedded di landscape tanpa arsitektur portfolioWajib portfolio map 6+1, ToC, design brief, dan design gate
Proposal dibuat sebelum evidence dan resource realistisWajib cross-division design clearance sebelum submission
Evaluasi hanya menjadi laporan donorWajib learning-to-adaptation decision dengan owner dan due date
Fokus budaya masyarakat dieksploitasi sebagai narasi komunikasiWajib consent, data classification, benefit logic, dan Safeguarding-GEDSI review
Replikasi program tidak cocok konteksWajib replication readiness dan contextual adaptation note
Program terlalu berat untuk kapasitas organisasiWajib implementation readiness dan capacity gap review

10. Approval matrix

AktivitasResponsibleAccountableConsultedInformed
Portfolio assessmentProgram Development + KMELDirektur/Program LeadLandscape Team, Safeguarding-GEDSI, Data SecurityPartnership, Finance, SDM, Logistik
Theory of ChangeProgram Development + KMELProgram LeadPartnership, Finance, Logistik, SDM, Data Security, Safeguarding-GEDSI, Community repsManagement Team
Program design clearanceProgram Development LeadDirektur/Program LeadSemua fungsi terkaitDonor/partner bila relevan
Implementation readinessProgram ManagerProgram LeadFinance, KMEL, Logistik, SDM, Data Security, Safeguarding-GEDSIPartnership, Management Team
Evaluation and learning reviewKMEL + Program ManagerProgram LeadPartnership, Finance, Landscape Team, Community repsManagement Team
Scale/exit decisionProgram Development LeadDirekturResilience Governance, Partnership, KMEL, Finance, Safeguarding-GEDSIDonor/partner/community sesuai kebutuhan

11. Minimum templates

  1. Program portfolio map 6+1.
  2. Landscape assessment pack.
  3. Problem/opportunity statement template.
  4. Theory of Change canvas.
  5. Learning agenda template.
  6. Program design brief.
  7. Design gate checklist.
  8. Cross-division clearance sheet.
  9. Implementation readiness checklist.
  10. MEL/evidence plan template.
  11. Issue and adaptation log.
  12. Evaluation brief template.
  13. Scale/replication readiness note.
  14. Exit/transition plan.
  15. Program archive index.

12. Changelog from SOP v2 architecture

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Belum ada SOP Program DevelopmentProgram melekat pada landscape dan tidak terlihat sebagai portfolio organisasiMembuat SOP khusus Program Development lintas divisi
Fokus program belum menjadi design architectureProposal dan workplan bisa berbeda-beda logikanya antar landscapeMenetapkan program focus portfolio 6+1
Assessment, planning, execution, evaluation belum menjadi loop eksplisitPembelajaran tidak selalu masuk redesign dan donor pipelineMenetapkan adaptive program cycle dari assessment sampai scale/exit
Budaya masyarakat belum menjadi fokus eksplisitRisiko pengetahuan lokal hanya menjadi narasi tambahanMenambahkan fokus budaya masyarakat pesisir dan pengetahuan lokal dengan consent dan data protection
Peran lintas divisi belum jelas dalam program designProposal bisa realistis secara teknis tetapi lemah di budget, staffing, procurement, data, atau safeguardingMenambahkan RACI dan design clearance lintas divisi
SOP 01

Partnership

Ringkasan eksekutif Partnership, dengan opsi membaca full SOP donor intelligence, proposal, grant agreement, handover, dan stewardship.

GoalDonor fit, proposal realistis, handover rapi
Executive Summary

Partnership perlu menjadi penjaga kualitas peluang donor, bukan hanya fungsi submission. SOP ini memastikan peluang yang dikejar selaras dengan misi YHB, realistis secara biaya dan kapasitas, serta sejak awal diterjemahkan menjadi logframe, budget, staffing, procurement, safeguarding, data governance, dan kalender pelaporan.

Workflow Utama Partnership
01

Donor intelligence

02

Opportunity note

03

Go/no-go review

04

Go?

05

Archive and relationship note

06

Proposal design kickoff

07

Concept note / proposal / logframe

08

Budget and compliance review

09

Director approval

10

Submission

11

Donor query and negotiation

12

Grant agreement review

13

Grant handover pack

14

Kickoff with KMEL, Finance, SDM, Logistik, Advisor

15

Donor stewardship and renewal

Keputusan eksekutif

  • Go/no-go donor menjadi keputusan formal Direktur sebelum proposal penuh dibuat.
  • Proposal hanya boleh disubmit setelah clearance Advisor, KMEL, Finance, SDM, dan Logistik.
  • Grant tidak masuk implementasi sebelum handover pack lengkap dan dipahami lintas fungsi.

Kontrol kunci

  • Donor pipeline direview bulanan dan memiliki owner, deadline, next action, serta status jelas.
  • Negotiation log wajib untuk semua query donor dan perubahan material.
  • Grant agreement review memeriksa payment terms, audit, procurement, safeguarding, data, IP, termination, dan cash flow risk.

Output minimum

  • Donor pipeline, opportunity note, go/no-go memo.
  • Proposal pack, logframe, budget assumptions, proposal clearance sheet.
  • Grant review checklist, grant handover pack, donor relationship log.

Risiko yang ditutup

  • Proposal menjanjikan deliverable tanpa budget, data, atau staffing realistis.
  • Compliance donor tidak turun ke implementasi dan pelaporan.
  • Relasi donor bergantung pada satu orang dan hilang saat personel berubah.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - Partnership

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Mendapatkan donor grant Pipeline donor bergerak dari opportunity sampai award dengan keputusan go/no-go yang jelas dan proposal yang realistis.
  1. Update donor pipeline bulanan: nama donor, thematic fit, deadline, grant size, restriction, dan next action.
  2. Buat opportunity note yang menjelaskan kesesuaian dengan misi YHB, landscape, kapasitas tim, risiko compliance, dan kebutuhan co-financing.
  3. Jalankan go/no-go review bersama Direktur, Program, Finance, KMEL, SDM, Logistik, Data Security, dan Safeguarding-GEDSI.
  4. Susun proposal pack: narasi, logframe, budget assumptions, staffing plan, procurement plan, evidence plan, dan compliance checklist.
  5. Lakukan clearance final sebelum submission dan simpan proposal pack di folder grant dengan naming convention yang disepakati.
  6. Jika award diterima, lakukan grant handover lintas fungsi paling lambat 10 hari kerja setelah agreement ditandatangani.
02 Melakukan engagement dengan existing donor Relasi donor terjaga, donor memahami progres lapangan, dan isu penting tidak muncul tiba-tiba saat pelaporan.
  1. Buat donor relationship map berisi focal point, preferensi komunikasi, kalender reporting, dan isu sensitif.
  2. Kirim update berkala melalui newsletter, learning note, atau donor brief dengan bukti foto, data capaian, dan narasi pembelajaran.
  3. Catat semua komunikasi material dalam donor relationship log, termasuk pertanyaan, komitmen, dan tindak lanjut.
  4. Koordinasikan donor visit dengan Program, Logistik, Safeguarding-GEDSI, dan komunitas agar aman, etis, dan sesuai konteks landscape.
  5. Eskalasi isu kontraktual atau reputasional ke Direktur sebelum pesan eksternal dikirim.
03 Melakukan komunikasi brand Blue Forest Publik, donor, mitra, dan komunitas memahami kerja Blue Forest melalui pesan yang konsisten, etis, dan berbasis bukti.
  1. Tetapkan kalender konten bulanan yang menghubungkan momen program, donor reporting, knowledge product, dan agenda advokasi.
  2. Ambil materi dari evidence pack yang sudah disetujui KMEL dan cek consent, safeguarding, serta sensitivitas data sebelum publikasi.
  3. Tulis pesan utama dengan bahasa yang tidak mengeksploitasi komunitas dan tidak mengklaim capaian tanpa bukti.
  4. Review konten high-risk bersama Program, KMEL, dan Safeguarding-GEDSI sebelum dipublikasikan.
  5. Pantau performa kanal komunikasi dan masukkan insight ke donor engagement serta proposal berikutnya.
KPI

Matriks KPI - Partnership

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Donor pipeline health % peluang prioritas dengan owner, next action, deadline, dan status terbaru >=90% Bulanan Donor pipeline tracker Partnership Lead
Proposal quality clearance % proposal yang lolos clearance lintas fungsi sebelum submission 100% Per submission Proposal clearance sheet Partnership + Direktur
Existing donor engagement Jumlah touchpoint bermakna per donor aktif: update, meeting, newsletter, atau learning note >=1/bulan/donor aktif Bulanan Donor relationship log Partnership
Brand evidence compliance % konten publik yang sudah cek consent, evidence, safeguarding, dan data sensitivity 100% Bulanan Content review log Partnership + KMEL
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_partnership_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_partnership_playbook_v2.md

SOP / Playbook Partnership v2

Dokumen: SOP dan Playbook Partnership
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur proses pencarian donor, pengembangan proposal, negosiasi grant, handover ke tim implementasi, dan pengelolaan hubungan donor. Tujuannya memastikan setiap peluang pendanaan selaras dengan misi YHB, realistis secara operasional, dapat dipertanggungjawabkan secara finansial, dan sejak awal terhubung dengan logframe, budget, SDM, logistik, KMEL, safeguarding, dan data governance.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Semua peluang donor, hibah, kontrak jasa, konsorsium, sub-grant, dan strategic partnership.
  • Concept note, proposal penuh, budget, logframe, due diligence donor, negotiation, dan grant agreement.
  • Handover internal setelah proposal disetujui.
  • Donor relationship management selama grant berjalan sampai close-out.

Tidak termasuk dalam SOP ini: teknis pelaksanaan kegiatan lapangan, pembayaran, procurement, rekrutmen, dan pelaporan donor secara detail. Area tersebut diatur dalam SOP KMEL, Keuangan, Logistik, dan SDM.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Belum ada modul partnership/resource mobilizationProses cari donor, go/no-go, proposal, dan donor handover tidak diaturMembuat proses donor pipeline sampai grant handover
Draft 2022Ada perluasan komunikasi, tetapi belum mengatur sponsorship/partnership sebagai fungsi bisnisRisiko proposal dibuat tanpa clearance lintas fungsi yang terdokumentasiMenetapkan review wajib oleh Advisor, KMEL, Finance, SDM, Logistik
Gap-analysisRate card dan data historis dibutuhkan untuk proposalData costing dan capaian tersebarProposal menggunakan donor intelligence, cost history, indicator evidence, dan risk review

4. Principles

  1. Mission fit first: peluang donor hanya dikejar jika selaras dengan mandat YHB.
  2. No unfunded promise: target, deliverable, dan reporting tidak boleh dijanjikan tanpa budget, staffing, dan data plan yang realistis.
  3. Compliance by design: syarat donor harus diterjemahkan ke budget code, workplan, evidence, reporting calendar, dan approval.
  4. One handover pack: tidak ada grant yang berjalan sebelum handover lintas fungsi selesai.
  5. Relationship continuity: Partnership tetap menjadi relationship owner walaupun implementasi dijalankan Program/KMEL.
  6. Documented decision: go/no-go, proposal submission, negotiation, dan acceptance harus memiliki decision record.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Donor intelligence

02

Opportunity note

03

Go/no-go review

04

Go?

05

Archive and relationship note

06

Proposal design kickoff

07

Concept note / proposal / logframe

08

Budget and compliance review

09

Director approval

10

Submission

11

Donor query and negotiation

12

Grant agreement review

13

Grant handover pack

14

Kickoff with KMEL, Finance, SDM, Logistik, Advisor

15

Donor stewardship and renewal

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Mendapatkan donor grant

Outcome yang diharapkan: Pipeline donor bergerak dari opportunity sampai award dengan keputusan go/no-go yang jelas dan proposal yang realistis.

PIC utama: Partnership Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Donor pipeline tracker.
  • Opportunity note atau donor brief.
  • Strategic fit note.
  • Budget dan compliance assumptions.
  • Evidence plan dari KMEL.

Langkah teknis:

  1. Update donor pipeline bulanan: nama donor, thematic fit, deadline, grant size, restriction, dan next action.
  2. Buat opportunity note yang menjelaskan kesesuaian dengan misi YHB, landscape, kapasitas tim, risiko compliance, dan kebutuhan co-financing.
  3. Jalankan go/no-go review bersama Direktur, Program, Finance, KMEL, SDM, Logistik, Data Security, dan Safeguarding-GEDSI.
  4. Susun proposal pack: narasi, logframe, budget assumptions, staffing plan, procurement plan, evidence plan, dan compliance checklist.
  5. Lakukan clearance final sebelum submission dan simpan proposal pack di folder grant dengan naming convention yang disepakati.
  6. Jika award diterima, lakukan grant handover lintas fungsi paling lambat 10 hari kerja setelah agreement ditandatangani.

Output dan evidence wajib:

  • Decision record atau register yang diperbarui.
  • Proposal/donor/communication pack yang sudah disetujui.
  • Handover atau relationship log.
  • Evidence link dan next action.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Go/no-go dan proposal clearance harus terdokumentasi sebelum submission.
  • Setiap klaim eksternal harus memiliki evidence owner dan data source.
  • Perubahan komitmen donor wajib dicatat dalam negotiation atau relationship log.

KPI terkait: Donor pipeline health, Proposal quality clearance, Existing donor engagement, Brand evidence compliance.

5A.2 Melakukan engagement dengan existing donor

Outcome yang diharapkan: Relasi donor terjaga, donor memahami progres lapangan, dan isu penting tidak muncul tiba-tiba saat pelaporan.

PIC utama: Partnership Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Donor pipeline tracker.
  • Opportunity note atau donor brief.
  • Strategic fit note.
  • Budget dan compliance assumptions.
  • Evidence plan dari KMEL.

Langkah teknis:

  1. Buat donor relationship map berisi focal point, preferensi komunikasi, kalender reporting, dan isu sensitif.
  2. Kirim update berkala melalui newsletter, learning note, atau donor brief dengan bukti foto, data capaian, dan narasi pembelajaran.
  3. Catat semua komunikasi material dalam donor relationship log, termasuk pertanyaan, komitmen, dan tindak lanjut.
  4. Koordinasikan donor visit dengan Program, Logistik, Safeguarding-GEDSI, dan komunitas agar aman, etis, dan sesuai konteks landscape.
  5. Eskalasi isu kontraktual atau reputasional ke Direktur sebelum pesan eksternal dikirim.

Output dan evidence wajib:

  • Decision record atau register yang diperbarui.
  • Proposal/donor/communication pack yang sudah disetujui.
  • Handover atau relationship log.
  • Evidence link dan next action.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Go/no-go dan proposal clearance harus terdokumentasi sebelum submission.
  • Setiap klaim eksternal harus memiliki evidence owner dan data source.
  • Perubahan komitmen donor wajib dicatat dalam negotiation atau relationship log.

KPI terkait: Donor pipeline health, Proposal quality clearance, Existing donor engagement, Brand evidence compliance.

5A.3 Melakukan komunikasi brand Blue Forest

Outcome yang diharapkan: Publik, donor, mitra, dan komunitas memahami kerja Blue Forest melalui pesan yang konsisten, etis, dan berbasis bukti.

PIC utama: Partnership Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Donor pipeline tracker.
  • Opportunity note atau donor brief.
  • Strategic fit note.
  • Budget dan compliance assumptions.
  • Evidence plan dari KMEL.

Langkah teknis:

  1. Tetapkan kalender konten bulanan yang menghubungkan momen program, donor reporting, knowledge product, dan agenda advokasi.
  2. Ambil materi dari evidence pack yang sudah disetujui KMEL dan cek consent, safeguarding, serta sensitivitas data sebelum publikasi.
  3. Tulis pesan utama dengan bahasa yang tidak mengeksploitasi komunitas dan tidak mengklaim capaian tanpa bukti.
  4. Review konten high-risk bersama Program, KMEL, dan Safeguarding-GEDSI sebelum dipublikasikan.
  5. Pantau performa kanal komunikasi dan masukkan insight ke donor engagement serta proposal berikutnya.

Output dan evidence wajib:

  • Decision record atau register yang diperbarui.
  • Proposal/donor/communication pack yang sudah disetujui.
  • Handover atau relationship log.
  • Evidence link dan next action.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Go/no-go dan proposal clearance harus terdokumentasi sebelum submission.
  • Setiap klaim eksternal harus memiliki evidence owner dan data source.
  • Perubahan komitmen donor wajib dicatat dalam negotiation atau relationship log.

KPI terkait: Donor pipeline health, Proposal quality clearance, Existing donor engagement, Brand evidence compliance.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Donor pipeline health% peluang prioritas dengan owner, next action, deadline, dan status terbaru>=90%BulananDonor pipeline trackerPartnership LeadPIC mengambil data dari Donor pipeline tracker pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=90%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Proposal quality clearance% proposal yang lolos clearance lintas fungsi sebelum submission100%Per submissionProposal clearance sheetPartnership + DirekturPIC mengambil data dari Proposal clearance sheet pada akhir periode Per submission, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Existing donor engagementJumlah touchpoint bermakna per donor aktif: update, meeting, newsletter, atau learning note>=1/bulan/donor aktifBulananDonor relationship logPartnershipPIC mengambil data dari Donor relationship log pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=1/bulan/donor aktif, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Brand evidence compliance% konten publik yang sudah cek consent, evidence, safeguarding, dan data sensitivity100%BulananContent review logPartnership + KMELPIC mengambil data dari Content review log pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Procedure and guidelines

6.1 Donor intelligence and pipeline

Partnership wajib memelihara donor pipeline minimal berisi:

  • Nama donor dan contact person.
  • Fokus pendanaan, negara/wilayah, tema, nilai indikatif, deadline.
  • Fit dengan strategi YHB.
  • Kewajiban compliance utama.
  • Status: monitor, qualify, concept, proposal, negotiation, awarded, declined, closed.
  • Next action dan owner.

Donor pipeline direview minimal bulanan oleh Partnership dan Direktur, dan triwulanan bersama Advisor, KMEL, dan Finance untuk menilai prioritas proposal.

6.2 Go/no-go review

Sebelum membuat proposal penuh, Partnership menyiapkan opportunity note berisi:

  • Donor objective dan call requirement.
  • Relevansi dengan strategi YHB.
  • Landscape dan pendekatan program yang relevan.
  • Estimasi nilai, durasi, co-financing, dan restricted cost.
  • Compliance burden: audit, reporting, procurement, safeguarding, data, evaluation.
  • Risiko reputasi, legal, operasional, dan keamanan lapangan.
  • Rekomendasi go/no-go.

Keputusan go/no-go disetujui Direktur. Untuk peluang bernilai besar, multi-year, konsorsium, atau berisiko tinggi, Direktur dapat meminta clearance Dewan Pengurus/Pembina sesuai delegation of authority.

6.3 Proposal design

Partnership mengkoordinir proposal design dengan kontribusi fungsi berikut:

FungsiKontribusi wajib
Advisor/TechnicalProblem framing, pendekatan teknis, asumsi, target realistis
KMELLogframe, indikator, baseline, evidence plan, reporting feasibility
FinanceBudget, cost realism, indirect cost, tax, exchange rate, donor eligibility
SDMStaffing plan, job level, recruitment timeline, consultant needs
LogistikProcurement/travel/asset assumptions, remote lead time, vendor availability
Safeguarding/GEDSIRisk screening, inclusion, community protection, donor clauses
CommunicationsVisibility, brand, publication, donor acknowledgement

Proposal tidak boleh disubmit sebelum Finance menyatakan budget clear dan KMEL menyatakan logframe/evidence plan dapat dipantau.

6.4 Negotiation and donor query

Semua donor query dicatat dalam negotiation log. Partnership menjadi coordinator, tetapi jawaban teknis harus disetujui owner terkait:

  • Jawaban teknis oleh Advisor/Program.
  • Jawaban indikator/evidence/reporting oleh KMEL.
  • Jawaban budget/finance/compliance oleh Finance.
  • Jawaban staffing oleh SDM.
  • Jawaban procurement/asset/travel oleh Logistik.
  • Jawaban legal/strategic risk oleh Direktur.

Setiap revisi proposal harus menyimpan version history.

6.5 Grant agreement review

Sebelum kontrak donor ditandatangani, Partnership membuat grant agreement review checklist:

  • Nilai, mata uang, periode, termin pembayaran.
  • Deliverables dan reporting schedule.
  • Audit/evaluation requirements.
  • Procurement and asset rules.
  • Branding/visibility rules.
  • Safeguarding, anti-terrorism, anti-fraud, data privacy clauses.
  • IP, publication, and data ownership.
  • Termination and dispute clauses.
  • Cash flow risk.

Direktur menandatangani kontrak setelah clearance minimum dari Finance, KMEL, dan Advisor. Legal/tax review dilakukan jika klausul kompleks atau eksposur material.

6.6 Grant handover

Grant tidak boleh mulai diimplementasikan sebelum handover meeting selesai. Handover pack minimal berisi:

  • Proposal final.
  • Grant agreement final.
  • Approved budget and budget notes.
  • Logframe/MEL framework.
  • Donor reporting calendar.
  • Donor compliance checklist.
  • Contact donor and communication protocol.
  • Procurement, staffing, travel, and asset assumptions.
  • Risk register awal.
  • Folder structure and document control owner.

KMEL menjadi owner untuk mengubah handover pack menjadi MEL plan dan workplan monitoring. Finance menjadi owner budget setup. SDM dan Logistik membuat setup rencana pendukung.

6.7 Donor stewardship

Partnership memelihara donor relationship log:

  • Meeting notes.
  • Informal update.
  • Donor visit.
  • Query and response.
  • Renewal opportunity.
  • Feedback and satisfaction.

Semua komunikasi strategis dengan donor harus terdokumentasi. Komunikasi teknis harian boleh dilakukan oleh Program/KMEL/Finance, tetapi Partnership harus diinformasikan untuk isu material.

7. Outputs

OutputOwnerMinimum content
Donor pipelinePartnershipOpportunity, status, deadline, owner, next action
Opportunity notePartnershipFit, risk, budget potential, recommendation
Go/no-go memoPartnershipDecision and conditions
Proposal packPartnershipNarrative, logframe, budget, attachments
Negotiation logPartnershipQuery, owner, response, status
Grant review checklistPartnershipKey clauses and risk
Grant handover packPartnershipComplete implementation handover
Donor relationship logPartnershipInteraction and follow-up

8. Integrasi Data Security dan Safeguarding-GEDSI

Area kontrolStandar minimum di Partnership
Data donor dan proposalDonor pipeline, concept note, proposal, kontrak, budget, dan negotiation log disimpan di folder restricted dengan owner jelas
Akses donor platformAkses ke portal donor dicatat dalam digital/admin register; MFA wajib jika tersedia; akses dicabut saat staf keluar/berubah peran
Data sharingData masyarakat, foto, peta, dan evidence yang dibagikan ke donor harus sudah melalui clearance KMEL, Data Security, dan Safeguarding bila sensitif
Due diligence donor/partnerGo/no-go menilai reputasi donor/partner terhadap safeguarding, GEDSI, anti-fraud, dan keselarasan nilai YHB
GEDSI di proposalProposal wajib memuat analisis GEDSI yang proporsional, termasuk akses kelompok rentan, disaggregated indicator, dan reasonable accommodation budget bila relevan
Safeguarding clauseGrant/sub-grant/MoU strategis harus memuat klausul safeguarding, anti-SEAH, anti-retaliation, child protection, dan data protection sesuai konteks
Donor visitKunjungan donor ke komunitas harus mengikuti consent, do-no-harm, perlindungan data, dan protokol foto/cerita

9. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Proposal tidak realistisMandatory review Advisor, KMEL, Finance, SDM, Logistik
Donor tidak sesuai nilai YHBGo/no-go dengan mission fit dan reputational risk
Budget underfundedCost realism review, rate card, remote lead time, staffing cost
Compliance donor tidak tertangkapGrant agreement review checklist
Handover lemahNo implementation before handover pack complete
Janji indikator sulit dibuktikanKMEL evidence plan before submission
Ketergantungan pada satu relationship personDonor relationship log dan shared contact register
Konflik kepentingan donor/partnerCOI declaration untuk partnership strategis

10. Approval matrix

AktivitasDriverReviewer/ConsultedApproverEvidence
Donor pipeline updatePartnershipDirekturPartnership ManagerPipeline register
Go/no-go donorPartnershipAdvisor, KMEL, FinanceDirekturGo/no-go memo
Concept notePartnershipAdvisor, KMEL, FinanceDirektur atau delegasiConcept note version
Proposal penuhPartnershipAdvisor, KMEL, Finance, SDM, LogistikDirekturProposal clearance sheet
Budget proposalFinancePartnership, ProgramDirekturApproved budget
Donor negotiation responsePartnershipOwner fungsi terkaitDirektur for material changesNegotiation log
Grant agreementPartnershipFinance, KMEL, Advisor, legal/tax if neededDirekturSigned agreement
Grant handoverPartnershipAll functionsDirektur or Program Lead acknowledgesHandover minutes
Donor visitPartnershipProgram, KMEL, LogistikDirektur for strategic visitVisit agenda and notes

11. Minimum templates

  1. Donor pipeline register.
  2. Opportunity note and go/no-go form.
  3. Proposal clearance sheet.
  4. Budget assumptions sheet.
  5. Donor query/negotiation log.
  6. Grant agreement review checklist.
  7. Grant handover checklist.
  8. Donor relationship log.

12. KPI and management review

KPITarget awal
Pipeline reviewedMonthly
Proposal with complete clearance100 percent
Grant handover before implementation100 percent
Donor reporting calendar created within 10 working days of award100 percent
Donor query response within agreed SLA90 percent
Renewal/continuation opportunities trackedQuarterly

13. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Partnership belum ada sebagai modulProses donor bergantung praktik personalDibuat alur donor intelligence sampai stewardship
Tidak ada go/no-go formalRisiko menerima donor tidak fit atau terlalu berat complianceGo/no-go memo mandatory
Tidak ada proposal clearance lintas fungsiProposal bisa menjanjikan target tanpa budget/data/staffing realistisProposal wajib review Advisor, KMEL, Finance, SDM, Logistik
Tidak ada grant handover packImplementasi dimulai tanpa pemahaman donor requirement yang samaHandover pack menjadi control point wajib
Donor relationship tidak terdokumentasiRelasi donor rawan hilang saat staf berubahDonor relationship log dan shared register

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
SOP 02

Logistik dan Procurement

Ringkasan eksekutif Logistik, dengan opsi membaca full SOP procurement planning, vendor governance, asset, dan exception control.

GoalTepat waktu, transparan, audit-ready
Executive Summary

Logistik perlu bergerak dari proses pembelian berbasis permintaan ad hoc menjadi procurement system berbasis rencana, threshold, vendor governance, receiving control, dan asset accountability. Tujuannya bukan memperlambat kerja lapangan, tetapi membuat pembelian lebih siap, transparan, dan tahan audit.

Workflow Utama Logistik dan Procurement
01

Annual workplan and activity plan

02

Procurement plan 3 monthly/monthly

03

Purchase requisition / TOR

04

Specification and budget check

05

Threshold and method selection

06

Vendor sourcing and COI check

07

Quotation / bid evaluation

08

Approval

09

PO / contract / booking

10

Delivery / service completion

11

Receiving and quality check

12

Asset tagging / inventory update

13

Payment document to Finance

14

Maintenance / stock count

15

Disposal / transfer / write-off

Keputusan eksekutif

  • Procurement plan 3 bulanan menjadi dasar belanja program dan operasional.
  • Vendor master dan conflict of interest declaration menjadi kontrol wajib.
  • Emergency atau single source procurement boleh, tetapi wajib punya justifikasi dan exception log.

Kontrol kunci

  • Anti-split purchase: pembelian tidak boleh dipecah untuk menghindari threshold.
  • Receiving control: barang/jasa diverifikasi sebelum pembayaran final.
  • Asset register wajib untuk perangkat, kendaraan, equipment, dan barang donor-funded.

Output minimum

  • Procurement plan, purchase request, RFQ/RFP, bid comparison.
  • Vendor master, COI declaration, purchase order/contract.
  • Goods received note, asset register, disposal/transfer record, exception log.

Risiko yang ditutup

  • Split purchase, vendor favorit, atau konflik kepentingan tidak terdokumentasi.
  • Barang dibayar sebelum diterima atau tidak sesuai spesifikasi.
  • Aset donor hilang, tidak terlacak, atau tidak memenuhi aturan close-out.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - Logistik dan Procurement

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Procure barang sederhana berbasis klaster tetapi akuntabel Kebutuhan operasional dan program terpenuhi cepat tanpa mengorbankan transparansi, value for money, dan audit trail.
  1. Terima purchase request yang memuat kebutuhan, budget code, spesifikasi minimum, tanggal dibutuhkan, dan justifikasi program.
  2. Kelompokkan pembelian sederhana berdasarkan klaster kebutuhan atau lokasi agar efisien dan tidak memecah transaksi untuk menghindari threshold.
  3. Cek threshold procurement, donor rule, conflict of interest, dan daftar vendor yang layak.
  4. Kumpulkan quotation sesuai threshold atau tulis justifikasi single source/emergency procurement jika diperlukan.
  5. Buat bid comparison dan rekomendasi vendor, lalu minta approval sesuai matrix.
  6. Verifikasi penerimaan barang/jasa dengan goods received note sebelum dokumen dikirim ke Finance untuk pembayaran.
02 Manajemen aset Aset organisasi dan donor-funded asset tercatat, digunakan sesuai tujuan, dirawat, dan siap saat audit atau close-out.
  1. Catat aset baru ke asset register dengan kode aset, sumber dana, lokasi, pengguna, nilai, tanggal beli, dan dokumen pendukung.
  2. Tempel label aset dan serahkan dengan asset handover form kepada pengguna atau landscape owner.
  3. Lakukan stock opname minimal semesteran dan cocokkan fisik aset dengan register.
  4. Catat perpindahan, kerusakan, kehilangan, perbaikan, dan disposal dengan approval sesuai aturan donor dan organisasi.
  5. Saat grant close-out, siapkan daftar aset donor-funded dan rekomendasi transfer, retain, atau disposal.
03 Delivery barang ke lapangan Barang sampai ke lokasi yang benar, diterima pihak yang berwenang, dan bukti pengiriman tersimpan rapi.
  1. Konfirmasi alamat, PIC penerima, jadwal, kondisi akses, dan kebutuhan packaging sebelum pengiriman.
  2. Siapkan delivery note berisi item, kuantitas, kondisi barang, nomor aset bila relevan, dan instruksi penerimaan.
  3. Pilih moda pengiriman berdasarkan risiko, biaya, urgensi, dan keamanan barang.
  4. Monitor status pengiriman dan informasikan keterlambatan ke requester serta Finance jika berdampak pada pembayaran.
  5. Minta tanda terima, foto barang, atau bukti penerimaan digital, lalu arsipkan di folder procurement terkait.
04 Logistik perjalanan dinas Perjalanan dinas aman, efisien, sesuai budget, dan memiliki dokumen pendukung lengkap.
  1. Terima travel request yang memuat tujuan, itinerary, peserta, budget code, risk note, dan approval supervisor.
  2. Cek rate perjalanan dinas, pilihan transportasi, akomodasi, keamanan lokasi, dan kebutuhan asuransi atau surat tugas.
  3. Koordinasikan tiket, kendaraan, penginapan, advance, dan dokumen perjalanan dengan requester dan Finance.
  4. Pastikan peserta menerima brief perjalanan, kontak darurat, dan kewajiban penyimpanan bukti biaya.
  5. Setelah perjalanan, kumpulkan boarding pass, receipt, laporan singkat, dan settlement sesuai timeline Finance.
KPI

Matriks KPI - Logistik dan Procurement

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Procurement cycle time Median hari dari purchase request lengkap sampai PO/kontrak diterbitkan <=10 hari kerja Bulanan Procurement tracker Logistics Officer
Audit-ready procurement file % pengadaan dengan PR, quotation/justifikasi, approval, PO/contract, GRN, dan invoice lengkap >=95% Bulanan Procurement file checklist Logistik + Finance
Asset register accuracy % aset fisik yang cocok dengan asset register saat stock opname >=98% Semesteran Asset register + stock opname Logistik
Travel logistics settlement % perjalanan dinas yang settlement-nya lengkap tepat waktu >=90% Bulanan Travel request + settlement log Logistik + Finance
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_logistik_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_logistik_playbook_v2.md

SOP / Playbook Logistik dan Procurement v2

Dokumen: SOP dan Playbook Logistik, Procurement, Travel, dan Asset
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur pengadaan barang/jasa, dukungan logistik kegiatan dan perjalanan, vendor management, asset management, stock control, disposal, dan dukungan operasional landscape. Tujuannya memastikan kebutuhan program tersedia tepat waktu, transparan, hemat biaya, sesuai donor rule, dan memiliki audit trail yang kuat.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Pengadaan barang, jasa, sewa, event support, transportasi, akomodasi, konsumsi, dan kebutuhan kantor.
  • Pengadaan untuk kantor pusat, kantor/site/landscape, dan kegiatan lapangan.
  • Vendor onboarding, quotation, bid evaluation, purchase order/contract, receiving, dan payment support.
  • Pengelolaan aset dan inventory dari pembelian sampai disposal/transfer.
  • Travel logistics dan dukungan remote area.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Pengadaan berdasarkan level nilai, permintaan pengadaan, sewa, inventaris, disposal, travel, per diemBelum kuat di anti-split purchase, vendor due diligence, COI per transaksi, procurement planning, SLA, contract managementMenambahkan procurement planning, vendor master, COI, anti-split, delivery acceptance, exception log
Draft 2022Menambahkan kebutuhan rencana pengadaan 3 bulanan dan beberapa refinement adminBelum final; belum menjadi operating calendar dan trackerMenetapkan procurement plan 3 bulanan/bulanan sebagai output wajib
Gap interviewLogistik butuh lead time berbeda per landscape dan remote areaSOP lama belum mengatur site-based logistics dengan risiko aksesMenambahkan lead time category dan emergency procurement

4. Principles

  1. Best value for money: keputusan tidak hanya harga terendah, tetapi kualitas, risiko, waktu, after-sales, dan donor compliance.
  2. Transparent and competitive: kompetisi vendor dilakukan sesuai threshold dan didokumentasikan.
  3. No split purchase: pembelian tidak boleh dipecah untuk menghindari threshold approval.
  4. Conflict checked: requester, evaluator, dan approver wajib menyatakan tidak ada konflik kepentingan untuk pengadaan material.
  5. Plan before buy: kebutuhan rutin harus masuk procurement plan.
  6. Evidence before payment: pembayaran vendor hanya diproses setelah bukti penerimaan barang/jasa lengkap.
  7. Remote fit: lokasi remote boleh memakai exception, tetapi tetap wajib justifikasi dan audit trail.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Annual workplan and activity plan

02

Procurement plan 3 monthly/monthly

03

Purchase requisition / TOR

04

Specification and budget check

05

Threshold and method selection

06

Vendor sourcing and COI check

07

Quotation / bid evaluation

08

Approval

09

PO / contract / booking

10

Delivery / service completion

11

Receiving and quality check

12

Asset tagging / inventory update

13

Payment document to Finance

14

Maintenance / stock count

15

Disposal / transfer / write-off

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Procure barang sederhana berbasis klaster tetapi akuntabel

Outcome yang diharapkan: Kebutuhan operasional dan program terpenuhi cepat tanpa mengorbankan transparansi, value for money, dan audit trail.

PIC utama: Logistics Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Purchase request atau travel request lengkap.
  • Budget code dan donor rule.
  • Spesifikasi barang/jasa atau itinerary.
  • Vendor/asset/travel tracker.
  • Approval sesuai matrix.

Langkah teknis:

  1. Terima purchase request yang memuat kebutuhan, budget code, spesifikasi minimum, tanggal dibutuhkan, dan justifikasi program.
  2. Kelompokkan pembelian sederhana berdasarkan klaster kebutuhan atau lokasi agar efisien dan tidak memecah transaksi untuk menghindari threshold.
  3. Cek threshold procurement, donor rule, conflict of interest, dan daftar vendor yang layak.
  4. Kumpulkan quotation sesuai threshold atau tulis justifikasi single source/emergency procurement jika diperlukan.
  5. Buat bid comparison dan rekomendasi vendor, lalu minta approval sesuai matrix.
  6. Verifikasi penerimaan barang/jasa dengan goods received note sebelum dokumen dikirim ke Finance untuk pembayaran.

Output dan evidence wajib:

  • Procurement/travel/asset file lengkap.
  • Approval record.
  • Delivery atau receiving evidence.
  • Tracker yang diperbarui.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Anti-split purchase dicek sebelum metode procurement dipilih.
  • Conflict of interest dan threshold donor dicek untuk transaksi material.
  • Barang/jasa tidak dikirim ke Finance sebelum receiving evidence lengkap.

KPI terkait: Procurement cycle time, Audit-ready procurement file, Asset register accuracy, Travel logistics settlement.

5A.2 Manajemen aset

Outcome yang diharapkan: Aset organisasi dan donor-funded asset tercatat, digunakan sesuai tujuan, dirawat, dan siap saat audit atau close-out.

PIC utama: Logistics Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Purchase request atau travel request lengkap.
  • Budget code dan donor rule.
  • Spesifikasi barang/jasa atau itinerary.
  • Vendor/asset/travel tracker.
  • Approval sesuai matrix.

Langkah teknis:

  1. Catat aset baru ke asset register dengan kode aset, sumber dana, lokasi, pengguna, nilai, tanggal beli, dan dokumen pendukung.
  2. Tempel label aset dan serahkan dengan asset handover form kepada pengguna atau landscape owner.
  3. Lakukan stock opname minimal semesteran dan cocokkan fisik aset dengan register.
  4. Catat perpindahan, kerusakan, kehilangan, perbaikan, dan disposal dengan approval sesuai aturan donor dan organisasi.
  5. Saat grant close-out, siapkan daftar aset donor-funded dan rekomendasi transfer, retain, atau disposal.

Output dan evidence wajib:

  • Procurement/travel/asset file lengkap.
  • Approval record.
  • Delivery atau receiving evidence.
  • Tracker yang diperbarui.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Anti-split purchase dicek sebelum metode procurement dipilih.
  • Conflict of interest dan threshold donor dicek untuk transaksi material.
  • Barang/jasa tidak dikirim ke Finance sebelum receiving evidence lengkap.

KPI terkait: Audit-ready procurement file, Asset register accuracy.

5A.3 Delivery barang ke lapangan

Outcome yang diharapkan: Barang sampai ke lokasi yang benar, diterima pihak yang berwenang, dan bukti pengiriman tersimpan rapi.

PIC utama: Logistics Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Purchase request atau travel request lengkap.
  • Budget code dan donor rule.
  • Spesifikasi barang/jasa atau itinerary.
  • Vendor/asset/travel tracker.
  • Approval sesuai matrix.

Langkah teknis:

  1. Konfirmasi alamat, PIC penerima, jadwal, kondisi akses, dan kebutuhan packaging sebelum pengiriman.
  2. Siapkan delivery note berisi item, kuantitas, kondisi barang, nomor aset bila relevan, dan instruksi penerimaan.
  3. Pilih moda pengiriman berdasarkan risiko, biaya, urgensi, dan keamanan barang.
  4. Monitor status pengiriman dan informasikan keterlambatan ke requester serta Finance jika berdampak pada pembayaran.
  5. Minta tanda terima, foto barang, atau bukti penerimaan digital, lalu arsipkan di folder procurement terkait.

Output dan evidence wajib:

  • Procurement/travel/asset file lengkap.
  • Approval record.
  • Delivery atau receiving evidence.
  • Tracker yang diperbarui.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Anti-split purchase dicek sebelum metode procurement dipilih.
  • Conflict of interest dan threshold donor dicek untuk transaksi material.
  • Barang/jasa tidak dikirim ke Finance sebelum receiving evidence lengkap.

KPI terkait: Procurement cycle time, Audit-ready procurement file, Travel logistics settlement.

5A.4 Logistik perjalanan dinas

Outcome yang diharapkan: Perjalanan dinas aman, efisien, sesuai budget, dan memiliki dokumen pendukung lengkap.

PIC utama: Logistics Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Purchase request atau travel request lengkap.
  • Budget code dan donor rule.
  • Spesifikasi barang/jasa atau itinerary.
  • Vendor/asset/travel tracker.
  • Approval sesuai matrix.

Langkah teknis:

  1. Terima travel request yang memuat tujuan, itinerary, peserta, budget code, risk note, dan approval supervisor.
  2. Cek rate perjalanan dinas, pilihan transportasi, akomodasi, keamanan lokasi, dan kebutuhan asuransi atau surat tugas.
  3. Koordinasikan tiket, kendaraan, penginapan, advance, dan dokumen perjalanan dengan requester dan Finance.
  4. Pastikan peserta menerima brief perjalanan, kontak darurat, dan kewajiban penyimpanan bukti biaya.
  5. Setelah perjalanan, kumpulkan boarding pass, receipt, laporan singkat, dan settlement sesuai timeline Finance.

Output dan evidence wajib:

  • Procurement/travel/asset file lengkap.
  • Approval record.
  • Delivery atau receiving evidence.
  • Tracker yang diperbarui.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Anti-split purchase dicek sebelum metode procurement dipilih.
  • Conflict of interest dan threshold donor dicek untuk transaksi material.
  • Barang/jasa tidak dikirim ke Finance sebelum receiving evidence lengkap.

KPI terkait: Procurement cycle time, Audit-ready procurement file, Asset register accuracy, Travel logistics settlement.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Procurement cycle timeMedian hari dari purchase request lengkap sampai PO/kontrak diterbitkan<=10 hari kerjaBulananProcurement trackerLogistics OfficerPIC mengambil data dari Procurement tracker pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target <=10 hari kerja, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Audit-ready procurement file% pengadaan dengan PR, quotation/justifikasi, approval, PO/contract, GRN, dan invoice lengkap>=95%BulananProcurement file checklistLogistik + FinancePIC mengambil data dari Procurement file checklist pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=95%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Asset register accuracy% aset fisik yang cocok dengan asset register saat stock opname>=98%SemesteranAsset register + stock opnameLogistikPIC mengambil data dari Asset register + stock opname pada akhir periode Semesteran, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=98%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Travel logistics settlement% perjalanan dinas yang settlement-nya lengkap tepat waktu>=90%BulananTravel request + settlement logLogistik + FinancePIC mengambil data dari Travel request + settlement log pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=90%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Procurement method

Nilai threshold mengikuti approval matrix YHB yang disahkan. Sampai matrix baru difinalkan, struktur kontrol mengacu pada level lama SOP 2019 dan harus divalidasi ulang:

LevelNilai indikatifMetode minimumDokumen minimum
L0Sampai Rp1.000.000Direct purchaseReceipt/invoice, budget code, requester approval
L1Rp1.000.001 - Rp3.000.000Purchase requisition and price checkPR, 1-2 price references, receipt/invoice
L2Rp3.000.001 - Rp7.000.000Minimum 3 quotations where feasiblePR, TOR/spec, 3 quotations or justification, bid comparison
L3Di atas Rp7.000.000Competitive procurementPR, TOR/spec, vendor due diligence, bid evaluation, approval, PO/contract
L4Strategic/high risk procurementTender/selection panelProcurement plan, evaluation panel, COI, contract, Director approval

Jika donor memiliki threshold lebih ketat, donor rule berlaku.

7. Procedure and guidelines

7.1 Procurement planning

Setiap program wajib menyusun procurement plan 3 bulanan berdasarkan workplan. Procurement plan memuat:

  • Nama kegiatan dan budget code.
  • Barang/jasa yang dibutuhkan.
  • Estimasi nilai.
  • Lokasi pengiriman.
  • Lead time.
  • Metode procurement.
  • Requester dan approver.
  • Donor rule khusus.

Kebutuhan mendadak yang tidak ada di procurement plan harus masuk exception log dengan justifikasi.

7.2 Purchase requisition

Requester mengajukan purchase requisition (PR) dengan informasi:

  • Tujuan pembelian.
  • Spesifikasi teknis yang cukup jelas tetapi tidak mengunci ke vendor tertentu kecuali ada justifikasi.
  • Quantity, lokasi, deadline, budget code.
  • Donor/program.
  • Bukti bahwa kebutuhan masuk TOR/workplan atau sudah disetujui.

Logistik memeriksa kelengkapan PR dan memilih metode procurement berdasarkan threshold.

7.3 Vendor onboarding and due diligence

Vendor master wajib dibuat dan diupdate. Minimum data vendor:

  • Nama legal/usaha dan contact.
  • NIK/NPWP jika tersedia.
  • Rekening bank atas nama vendor.
  • Alamat dan jenis jasa/barang.
  • Referensi pengalaman jika pengadaan material.
  • Screening sederhana terhadap konflik kepentingan, reputasi, dan daftar hitam donor jika ada.

Vendor baru untuk pengadaan material harus melalui due diligence minimum sebelum dipakai.

7.4 Conflict of interest

COI declaration wajib untuk:

  • Pengadaan di atas threshold material.
  • Vendor yang memiliki hubungan keluarga, bisnis, atau personal dengan staf.
  • Pengadaan single source.
  • Pengadaan emergency.

Staf yang memiliki konflik tidak boleh menjadi evaluator atau approver.

7.5 Anti-split purchase

Pengadaan dianggap split purchase jika:

  • Barang/jasa sejenis dibeli beberapa kali dalam waktu dekat untuk menghindari threshold.
  • Kebutuhan satu kegiatan dipecah menjadi beberapa PR tanpa alasan operasional.
  • Vendor yang sama menerima beberapa order kecil untuk kebutuhan yang sejak awal dapat diprediksi.

Split purchase dilarang. Jika pembelian bertahap memang diperlukan karena lokasi remote, supply terbatas, atau cashflow donor, alasan harus ditulis dalam procurement file dan disetujui oleh approver yang relevan.

7.6 Evaluation and approval

Bid evaluation harus mempertimbangkan:

  • Harga.
  • Kesesuaian spesifikasi.
  • Delivery time.
  • Kualitas/reputasi vendor.
  • Garansi/after-sales.
  • Risiko lokasi dan keamanan.
  • Donor compliance.

Approval mengikuti matrix nilai. Requester tidak boleh menjadi approver akhir untuk pembeliannya sendiri.

7.7 Purchase order, contract, and delivery

Untuk pengadaan material, PO/contract harus memuat:

  • Spesifikasi dan quantity.
  • Harga, pajak, dan termin pembayaran.
  • Delivery date and location.
  • Acceptance criteria.
  • Warranty/return terms.
  • Safeguarding/anti-fraud clause jika vendor berinteraksi dengan komunitas.

Pembayaran hanya boleh diproses setelah goods received note atau service completion note ditandatangani requester/penerima.

7.8 Remote area and emergency procurement

Remote procurement boleh menggunakan simplifikasi jika:

  • Vendor terbatas.
  • Koneksi dan transport terbatas.
  • Kegiatan mendesak dan penundaan menimbulkan risiko program/safety.

Namun tetap wajib ada:

  • Justifikasi tertulis.
  • Bukti harga wajar sejauh mungkin.
  • Approval sebelum pembelian jika memungkinkan.
  • Dokumentasi foto/barang diterima.
  • Exception log.
7.9 Travel logistics

Travel support harus terhubung dengan approved TOR/Travel Authorization:

  • Tiket, akomodasi, transport lokal, per diem, dan kendaraan harus mengacu rate card.
  • Perubahan jadwal harus disetujui oleh approver perjalanan.
  • Perjalanan high-risk/remote harus punya travel risk check, contact point, dan check-in protocol.
  • Klaim perjalanan melewati batas waktu harus masuk exception approval.
7.10 Asset management

Barang yang memenuhi definisi aset harus:

  • Dicatat dalam asset register.
  • Diberi nomor/tag aset.
  • Ditunjuk custodian/pengguna.
  • Dilengkapi asset handover form.
  • Dicek minimal tahunan atau saat close-out grant.

Asset donor mengikuti rule donor untuk transfer, disposal, atau retention.

7.11 Disposal and transfer

Disposal/write-off/hibah/transfer aset wajib memuat:

  • Alasan disposal.
  • Kondisi aset.
  • Nilai buku/estimasi.
  • Foto bila relevan.
  • Rekomendasi Logistics dan Finance.
  • Approval Direktur atau sesuai matrix.
  • Donor approval jika diwajibkan.

8. Outputs

OutputOwnerReview
Procurement planLogisticsProgram, Finance
Purchase requisitionRequesterLogistics, Budget Holder
Vendor masterLogisticsFinance
COI declarationRequester/evaluatorLogistics
Bid comparisonLogisticsRequester, Finance
PO/contractLogisticsFinance/Director if needed
Goods received noteRequester/receiverLogistics
Asset registerLogisticsFinance
Disposal/transfer recordLogisticsFinance, Director
Exception logLogisticsDirector/Management

9. Integrasi Data Security dan Safeguarding-GEDSI

Area kontrolStandar minimum di Logistik
Vendor data securityVendor master, rekening vendor, NPWP/NIK, kontrak, quotation, dan COI disimpan sebagai restricted data; akses hanya untuk Logistik, Finance, dan approver relevan
Procurement fileFile pengadaan tidak dibagikan lewat public link; dokumen pembayaran dan bank detail vendor mengikuti kontrol Finance/Data Security
Perangkat digitalLaptop, hard disk, ponsel, kamera, GPS, dan perangkat penyimpan data harus dicatat sebagai aset; sebelum disposal/transfer wajib data wipe atau konfirmasi tidak ada data sensitif
Vendor safeguardingVendor yang berinteraksi dengan masyarakat/peserta kegiatan wajib menerima kode etik vendor, safeguarding clause, dan larangan SEAH/eksploitasi
Travel dan akomodasi amanPemilihan hotel, transport, dan venue mempertimbangkan keselamatan, aksesibilitas, privacy, toilet, penerangan, dan kebutuhan kelompok rentan
GEDSI procurementPengadaan event/lapangan mempertimbangkan reasonable accommodation seperti akses disabilitas, kebutuhan ibu menyusui, konsumsi inklusif, dan transport aman
Incident handlingKeluhan terhadap vendor, driver, hotel, atau venue terkait pelecehan, diskriminasi, eksploitasi, atau keselamatan harus masuk incident log dan dieskalasi ke Safeguarding focal point

10. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Vendor favorit/fraudVendor master, quotation, COI, evaluation panel
Split purchaseAnti-split rule and procurement plan review
Barang tidak sesuaiClear specification and receiving checklist
Pengadaan terlambatProcurement plan, lead time category, tracker
Remote procurement tanpa buktiException log, photo evidence, price reasonableness
Aset hilangTagging, custodian, annual stock count
Pembayaran tanpa barang diterimaNo payment without receiving/service completion note
Donor disallowanceDonor rule check before procurement

11. Approval matrix

AktivitasDriverReviewer/ConsultedApproverEvidence
Procurement planLogisticsProgram, FinanceProgram Lead/Budget HolderProcurement plan
PR L0-L1RequesterLogisticsBudget HolderPR/receipt
PR L2RequesterLogistics, FinanceBudget Holder/ManagerPR, quotation
PR L3-L4LogisticsFinance, Program, Advisor if technicalDirector or delegated authorityBid file
Single sourceRequester/LogisticsFinanceDirector/delegated authoritySingle source justification
Emergency procurementRequesterLogistics, FinanceDirector/delegated authorityEmergency note
Vendor onboardingLogisticsFinanceLogistics ManagerVendor form
Asset disposalLogisticsFinanceDirectorDisposal memo
Travel bookingRequester/LogisticsFinanceTravel approver per TAApproved TA

12. Minimum templates

  1. Procurement plan.
  2. Purchase requisition.
  3. Specification/TOR template.
  4. Vendor registration form.
  5. COI declaration.
  6. Quotation comparison/bid evaluation.
  7. Purchase order/contract.
  8. Goods received note/service completion note.
  9. Asset handover form.
  10. Asset disposal/transfer form.
  11. Emergency procurement justification.

13. KPI and management review

KPITarget awal
Procurement plan updatedMonthly/quarterly
Procurement with complete file95 percent
Material procurement with COI check100 percent
On-time delivery for planned procurement85 percent
Asset register updated after purchaseWithin 5 working days
Annual asset verification100 percent
Exception log reviewedMonthly

14. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Threshold procurement ada, tetapi anti-split belum eksplisitPengadaan bisa dipecah untuk menghindari kontrolAnti-split rule dan review procurement plan
Vendor due diligence belum kuatRisiko vendor fiktif, vendor favorit, atau konflik kepentinganVendor master, screening, COI declaration
Procurement planning belum menjadi operating calendarPengadaan H-1/H-2 dan bottleneck logistikProcurement plan 3 bulanan/bulanan
Remote procurement belum punya exception frameworkBukti minim dan audit trail lemahEmergency/remote procurement justification
Asset disposal belum cukup kuatRisiko kehilangan aset/donor findingDisposal/transfer protocol dengan approval dan donor check

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
SOP 03

SDM / People Management

Ringkasan eksekutif SDM, dengan opsi membaca full SOP workforce planning, recruitment, performance, grievance, exit, dan handover.

GoalAdil, jelas, dan mudah dijalankan staf baru
Executive Summary

SDM perlu menutup siklus people management secara utuh: kebutuhan posisi, grade, rekrutmen, kontrak, onboarding, timesheet, performance, learning, promosi, grievance, exit, dan knowledge handover. Fokusnya adalah fairness, dokumentasi, dan continuity saat organisasi tumbuh multi-donor dan multi-landscape.

Workflow Utama SDM / People Management
01

Grant/workplan/organization need

02

Workforce planning

03

Job description and job grade

04

Budget and approval

05

Recruitment and selection

06

Reference/background check

07

Offering and contract

08

Onboarding and probation/initial review

09

Goal setting and timesheet

10

Performance review and L&D plan

11

Outcome

12

Continue/develop

13

Promotion/grade review

14

Performance improvement/disciplinary

15

Contract renewal or exit

16

Exit clearance and knowledge handover

Keputusan eksekutif

  • Setiap posisi baru wajib punya workforce justification, budget availability, job description, dan grade.
  • Rekrutmen menggunakan panel, scoring, reference check, dan conflict of interest declaration.
  • Promosi, salary adjustment, dan grievance harus berbasis evidence dan approval matrix.

Kontrol kunci

  • Onboarding mencakup SOP, safeguarding, data security, donor compliance, dan role-specific tools.
  • Performance review dikaitkan dengan objective, evidence, development plan, dan tindak lanjut.
  • Exit clearance mencakup handover knowledge, akses digital, aset, finance clearance, dan dokumen program.

Output minimum

  • Workforce plan, JD, grade, recruitment file, interview score sheet.
  • Contract register, onboarding checklist, timesheet, performance record.
  • Promotion memo, grievance record, exit checklist, handover note.

Risiko yang ditutup

  • Rekrutmen bias, promosi tidak transparan, dan salary inequity.
  • Staf baru masuk tanpa pemahaman compliance dan tools organisasi.
  • Staf keluar tanpa transfer pengetahuan, akses masih terbuka, atau aset belum kembali.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - SDM / People Management

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Hiring Kebutuhan talenta dipenuhi secara adil, transparan, sesuai budget, dan terdokumentasi.
  1. Validasi workforce request: kebutuhan posisi, JD, grade, lokasi, durasi kontrak, budget availability, dan approval.
  2. Publikasikan lowongan dengan kriteria yang jelas serta bahasa yang inklusif.
  3. Screening kandidat menggunakan scoring sheet dan conflict of interest declaration untuk panel.
  4. Lakukan interview berbasis kompetensi, reference check, dan dokumentasi keputusan.
  5. Kirim offering, kontrak, dan onboarding checklist setelah approval final.
02 Developing Staf berkembang berdasarkan kebutuhan peran, gap kompetensi, dan arah organisasi.
  1. Kumpulkan kebutuhan pengembangan dari performance review, supervisor input, dan prioritas organisasi.
  2. Buat individual development plan yang memuat skill target, aktivitas belajar, mentor, waktu, dan evidence.
  3. Prioritaskan pelatihan yang mendukung compliance, program quality, leadership, data, dan keselamatan kerja.
  4. Evaluasi hasil belajar dengan penerapan nyata di pekerjaan, bukan hanya kehadiran pelatihan.
  5. Masukkan pembelajaran lintas staf ke knowledge sharing internal.
03 Promoting Promosi dan peningkatan peran dilakukan berbasis bukti performa, kebutuhan organisasi, dan fairness.
  1. Supervisor mengajukan promotion memo berisi rekam performa, scope baru, grade, dan budget implication.
  2. SDM mengecek konsistensi grade, equity, masa kerja, dan dokumen performance review.
  3. Panel manajemen membahas kesiapan, risiko, dan support transisi.
  4. Direktur memberi approval final sesuai matrix kewenangan.
  5. SDM menerbitkan perubahan kontrak atau addendum dan memperbarui struktur organisasi.
04 Demoting atau performance improvement Ketidakcocokan performa ditangani adil, terdokumentasi, dan memberi kesempatan perbaikan yang realistis.
  1. Supervisor mencatat gap performa dengan contoh evidence, dampak pekerjaan, dan ekspektasi yang belum terpenuhi.
  2. SDM memfasilitasi performance improvement plan berisi target, dukungan, timeline, dan check-in berkala.
  3. Jika target tidak tercapai, lakukan review bersama supervisor, SDM, dan manajemen untuk opsi role adjustment, demotion, atau termination sesuai hukum.
  4. Pastikan seluruh keputusan terdokumentasi dan dikomunikasikan dengan hormat serta menjaga martabat staf.
05 Departing Staf atau konsultan keluar tanpa kehilangan pengetahuan, aset, akses, dan kewajiban administrasi.
  1. Terima resignation, end-contract notice, atau termination memo sesuai timeline kontrak.
  2. Buat exit checklist untuk handover pekerjaan, knowledge file, aset, finance clearance, dan akses digital.
  3. Lakukan exit interview untuk menangkap risiko organisasi dan ide perbaikan.
  4. Cabut akses email, drive, platform donor, finance, dan sistem lain pada hari terakhir atau sesuai kebutuhan transisi.
  5. Arsipkan dokumen personalia dan handover di lokasi yang diatur SDM.
06 Honor konsultan dan rate perjalanan dinas Pembayaran konsultan dan perjalanan dinas konsisten, adil, patuh pajak, dan sesuai kontrak.
  1. Tetapkan TOR, deliverable, level of effort, rate, pajak, dan mekanisme pembayaran sebelum kontrak ditandatangani.
  2. Cek rate konsultan dan perdiem terhadap kebijakan organisasi, donor rule, dan budget availability.
  3. Minta approval untuk pengecualian rate dengan justifikasi tertulis.
  4. Bayar honor berdasarkan deliverable acceptance, timesheet bila relevan, invoice, dan dokumen pajak.
  5. Review rate minimal tahunan bersama Finance dan manajemen.
KPI

Matriks KPI - SDM / People Management

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Hiring lead time Median hari dari vacancy approval sampai kandidat menerima offer <=45 hari Kuartalan Recruitment tracker HR/SDM
Onboarding completion % staf/konsultan baru menyelesaikan onboarding SOP, safeguarding, data security, dan role tools 100% Bulanan Onboarding checklist HR/SDM
Performance review completion % staf dengan performance review, objective, evidence, dan development plan selesai >=95% Semesteran Performance review file HR/SDM + Supervisor
Exit clearance completion % departing staff dengan handover, asset return, finance clearance, dan akses dicabut 100% Bulanan Exit checklist HR/SDM + Data Security
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_sdm_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_sdm_playbook_v2.md

SOP / Playbook SDM v2

Dokumen: SOP dan Playbook SDM / People Management
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur siklus SDM dari workforce planning, job grading, rekrutmen, kontrak, onboarding, timesheet, learning and development, performance management, promosi, perubahan kompensasi, grievance, safeguarding interface, sampai exit. Tujuannya memastikan YHB memiliki sistem people management yang adil, transparan, patuh hukum, mendukung kerja multi-landscape, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada donor.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Staf tetap/pengurus, staf proyek/PKWT, staf temporer, konsultan, volunteer, intern, enumerator, fasilitator, dan tenaga harian.
  • Seluruh proses rekrutmen, kontrak, onboarding, performance, learning, promotion, disciplinary, grievance, dan exit.
  • Hubungan SDM dengan Finance, Logistics, KMEL, Partnership, dan Program.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Rekrutmen, kompensasi, kontrak, orientasi, evaluasi, cuti, BPJS, PHK, personal file, timesheet, pelatihan, konsultan, keluhanBelum punya job grading formal, competency framework, promotion path, L&D cycle, succession, dan duty of care landscape yang lengkapMenambahkan job grade, salary band governance, career path, L&D, promotion, people analytics
Draft 2022Update istilah governance, volunteer/magang, pajak, PKWT, hybrid, keamananBelum final; belum menjadi sistem talent lifecycleMenjadikan volunteer/intern/consultant onboarding dan safeguarding mandatory
Gap-analysisPerformance management belum terhubung ke pengembangan/sanksi/promosiPenilaian bisa bias dan tidak konsistenPerformance cycle berbasis objective, competency, development plan, calibration

4. Principles

  1. Equal opportunity: rekrutmen dan pengembangan berbasis kualifikasi, kompetensi, dan nilai organisasi.
  2. Clear role and grade: setiap posisi harus punya job description, grade, supervisor, dan expected competency.
  3. Pay fairness: kompensasi mengikuti salary band yang disahkan, budget donor, dan regulasi.
  4. Performance as development: evaluasi kinerja dipakai untuk perbaikan, promosi, L&D, dan tindakan korektif.
  5. Duty of care: YHB bertanggung jawab atas keselamatan, safeguarding, dan dukungan kerja staf di kantor maupun landscape.
  6. No informal people decision: rekrutmen, promosi, kenaikan grade, disciplinary, dan exit harus terdokumentasi.
  7. Data privacy: personal file hanya diakses oleh pihak berwenang.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Grant/workplan/organization need

02

Workforce planning

03

Job description and job grade

04

Budget and approval

05

Recruitment and selection

06

Reference/background check

07

Offering and contract

08

Onboarding and probation/initial review

09

Goal setting and timesheet

10

Performance review and L&D plan

11

Outcome

12

Continue/develop

13

Promotion/grade review

14

Performance improvement/disciplinary

15

Contract renewal or exit

16

Exit clearance and knowledge handover

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Hiring

Outcome yang diharapkan: Kebutuhan talenta dipenuhi secara adil, transparan, sesuai budget, dan terdokumentasi.

PIC utama: HR/SDM Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Workforce plan atau people request.
  • Job description, grade, dan budget availability.
  • Performance evidence atau development need.
  • Kontrak atau personnel file.
  • Approval supervisor/manajemen.

Langkah teknis:

  1. Validasi workforce request: kebutuhan posisi, JD, grade, lokasi, durasi kontrak, budget availability, dan approval.
  2. Publikasikan lowongan dengan kriteria yang jelas serta bahasa yang inklusif.
  3. Screening kandidat menggunakan scoring sheet dan conflict of interest declaration untuk panel.
  4. Lakukan interview berbasis kompetensi, reference check, dan dokumentasi keputusan.
  5. Kirim offering, kontrak, dan onboarding checklist setelah approval final.

Output dan evidence wajib:

  • Personnel file atau HR register yang diperbarui.
  • Approval memo/checklist.
  • Evidence performa atau handover.
  • Access dan asset follow-up bila relevan.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Keputusan people management harus berbasis evidence dan dokumen persetujuan.
  • Panel dan supervisor wajib menjaga fairness, non-discrimination, dan confidentiality.
  • Perubahan role, kontrak, akses, dan aset harus masuk checklist SDM.

KPI terkait: Hiring lead time, Onboarding completion, Performance review completion, Exit clearance completion.

5A.2 Developing

Outcome yang diharapkan: Staf berkembang berdasarkan kebutuhan peran, gap kompetensi, dan arah organisasi.

PIC utama: HR/SDM Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Workforce plan atau people request.
  • Job description, grade, dan budget availability.
  • Performance evidence atau development need.
  • Kontrak atau personnel file.
  • Approval supervisor/manajemen.

Langkah teknis:

  1. Kumpulkan kebutuhan pengembangan dari performance review, supervisor input, dan prioritas organisasi.
  2. Buat individual development plan yang memuat skill target, aktivitas belajar, mentor, waktu, dan evidence.
  3. Prioritaskan pelatihan yang mendukung compliance, program quality, leadership, data, dan keselamatan kerja.
  4. Evaluasi hasil belajar dengan penerapan nyata di pekerjaan, bukan hanya kehadiran pelatihan.
  5. Masukkan pembelajaran lintas staf ke knowledge sharing internal.

Output dan evidence wajib:

  • Personnel file atau HR register yang diperbarui.
  • Approval memo/checklist.
  • Evidence performa atau handover.
  • Access dan asset follow-up bila relevan.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Keputusan people management harus berbasis evidence dan dokumen persetujuan.
  • Panel dan supervisor wajib menjaga fairness, non-discrimination, dan confidentiality.
  • Perubahan role, kontrak, akses, dan aset harus masuk checklist SDM.

KPI terkait: Performance review completion, Exit clearance completion.

5A.3 Promoting

Outcome yang diharapkan: Promosi dan peningkatan peran dilakukan berbasis bukti performa, kebutuhan organisasi, dan fairness.

PIC utama: HR/SDM Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Workforce plan atau people request.
  • Job description, grade, dan budget availability.
  • Performance evidence atau development need.
  • Kontrak atau personnel file.
  • Approval supervisor/manajemen.

Langkah teknis:

  1. Supervisor mengajukan promotion memo berisi rekam performa, scope baru, grade, dan budget implication.
  2. SDM mengecek konsistensi grade, equity, masa kerja, dan dokumen performance review.
  3. Panel manajemen membahas kesiapan, risiko, dan support transisi.
  4. Direktur memberi approval final sesuai matrix kewenangan.
  5. SDM menerbitkan perubahan kontrak atau addendum dan memperbarui struktur organisasi.

Output dan evidence wajib:

  • Personnel file atau HR register yang diperbarui.
  • Approval memo/checklist.
  • Evidence performa atau handover.
  • Access dan asset follow-up bila relevan.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Keputusan people management harus berbasis evidence dan dokumen persetujuan.
  • Panel dan supervisor wajib menjaga fairness, non-discrimination, dan confidentiality.
  • Perubahan role, kontrak, akses, dan aset harus masuk checklist SDM.

KPI terkait: Hiring lead time, Performance review completion.

5A.4 Demoting atau performance improvement

Outcome yang diharapkan: Ketidakcocokan performa ditangani adil, terdokumentasi, dan memberi kesempatan perbaikan yang realistis.

PIC utama: HR/SDM Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Workforce plan atau people request.
  • Job description, grade, dan budget availability.
  • Performance evidence atau development need.
  • Kontrak atau personnel file.
  • Approval supervisor/manajemen.

Langkah teknis:

  1. Supervisor mencatat gap performa dengan contoh evidence, dampak pekerjaan, dan ekspektasi yang belum terpenuhi.
  2. SDM memfasilitasi performance improvement plan berisi target, dukungan, timeline, dan check-in berkala.
  3. Jika target tidak tercapai, lakukan review bersama supervisor, SDM, dan manajemen untuk opsi role adjustment, demotion, atau termination sesuai hukum.
  4. Pastikan seluruh keputusan terdokumentasi dan dikomunikasikan dengan hormat serta menjaga martabat staf.

Output dan evidence wajib:

  • Personnel file atau HR register yang diperbarui.
  • Approval memo/checklist.
  • Evidence performa atau handover.
  • Access dan asset follow-up bila relevan.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Keputusan people management harus berbasis evidence dan dokumen persetujuan.
  • Panel dan supervisor wajib menjaga fairness, non-discrimination, dan confidentiality.
  • Perubahan role, kontrak, akses, dan aset harus masuk checklist SDM.

KPI terkait: Performance review completion, Exit clearance completion.

5A.5 Departing

Outcome yang diharapkan: Staf atau konsultan keluar tanpa kehilangan pengetahuan, aset, akses, dan kewajiban administrasi.

PIC utama: HR/SDM Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Workforce plan atau people request.
  • Job description, grade, dan budget availability.
  • Performance evidence atau development need.
  • Kontrak atau personnel file.
  • Approval supervisor/manajemen.

Langkah teknis:

  1. Terima resignation, end-contract notice, atau termination memo sesuai timeline kontrak.
  2. Buat exit checklist untuk handover pekerjaan, knowledge file, aset, finance clearance, dan akses digital.
  3. Lakukan exit interview untuk menangkap risiko organisasi dan ide perbaikan.
  4. Cabut akses email, drive, platform donor, finance, dan sistem lain pada hari terakhir atau sesuai kebutuhan transisi.
  5. Arsipkan dokumen personalia dan handover di lokasi yang diatur SDM.

Output dan evidence wajib:

  • Personnel file atau HR register yang diperbarui.
  • Approval memo/checklist.
  • Evidence performa atau handover.
  • Access dan asset follow-up bila relevan.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Keputusan people management harus berbasis evidence dan dokumen persetujuan.
  • Panel dan supervisor wajib menjaga fairness, non-discrimination, dan confidentiality.
  • Perubahan role, kontrak, akses, dan aset harus masuk checklist SDM.

KPI terkait: Onboarding completion, Exit clearance completion.

5A.6 Honor konsultan dan rate perjalanan dinas

Outcome yang diharapkan: Pembayaran konsultan dan perjalanan dinas konsisten, adil, patuh pajak, dan sesuai kontrak.

PIC utama: HR/SDM Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Workforce plan atau people request.
  • Job description, grade, dan budget availability.
  • Performance evidence atau development need.
  • Kontrak atau personnel file.
  • Approval supervisor/manajemen.

Langkah teknis:

  1. Tetapkan TOR, deliverable, level of effort, rate, pajak, dan mekanisme pembayaran sebelum kontrak ditandatangani.
  2. Cek rate konsultan dan perdiem terhadap kebijakan organisasi, donor rule, dan budget availability.
  3. Minta approval untuk pengecualian rate dengan justifikasi tertulis.
  4. Bayar honor berdasarkan deliverable acceptance, timesheet bila relevan, invoice, dan dokumen pajak.
  5. Review rate minimal tahunan bersama Finance dan manajemen.

Output dan evidence wajib:

  • Personnel file atau HR register yang diperbarui.
  • Approval memo/checklist.
  • Evidence performa atau handover.
  • Access dan asset follow-up bila relevan.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Keputusan people management harus berbasis evidence dan dokumen persetujuan.
  • Panel dan supervisor wajib menjaga fairness, non-discrimination, dan confidentiality.
  • Perubahan role, kontrak, akses, dan aset harus masuk checklist SDM.

KPI terkait: Hiring lead time, Onboarding completion, Performance review completion, Exit clearance completion.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Hiring lead timeMedian hari dari vacancy approval sampai kandidat menerima offer<=45 hariKuartalanRecruitment trackerHR/SDMPIC mengambil data dari Recruitment tracker pada akhir periode Kuartalan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target <=45 hari, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Onboarding completion% staf/konsultan baru menyelesaikan onboarding SOP, safeguarding, data security, dan role tools100%BulananOnboarding checklistHR/SDMPIC mengambil data dari Onboarding checklist pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Performance review completion% staf dengan performance review, objective, evidence, dan development plan selesai>=95%SemesteranPerformance review fileHR/SDM + SupervisorPIC mengambil data dari Performance review file pada akhir periode Semesteran, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=95%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Exit clearance completion% departing staff dengan handover, asset return, finance clearance, dan akses dicabut100%BulananExit checklistHR/SDM + Data SecurityPIC mengambil data dari Exit checklist pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Job grading framework

Job grading harus difinalkan oleh SDM, Finance, dan Direktur, lalu disahkan sebagai lampiran resmi. Draft awal:

GradeLevelContoh peranCiri tanggung jawab
JG0Intern/Volunteer/Tenaga HarianIntern, volunteer, enumerator harianTugas terbatas, supervisi langsung, periode pendek
JG1AssistantAdmin assistant, field assistantMelaksanakan tugas rutin dengan instruksi jelas
JG2OfficerFinance officer, logistics officer, MEL officerMengelola proses tertentu, akurasi dokumen, koordinasi dasar
JG3Senior Officer/SpecialistSenior finance, data/GIS specialist, communication specialistKeahlian teknis, review kualitas, membimbing officer
JG4CoordinatorLandscape coordinator, project coordinatorMengkoordinir kegiatan/tim lintas fungsi terbatas
JG5ManagerHRGA Manager, Finance Manager, Logistics Manager, Partnership Manager, KMEL ManagerMengelola fungsi, budget, risk, people, approval
JG6Senior Manager/AdvisorTechnical advisor, senior program advisorKeputusan teknis strategis, quality assurance, mentoring
JG7DirectorDirekturAkuntabilitas organisasi, donor agreement, governance interface

Setiap grade harus punya:

  • Salary band minimum-midpoint-maximum.
  • Competency requirement.
  • Decision rights.
  • Approval limit jika relevan.
  • Learning requirement.
  • Promotion criteria.

7. Procedure and guidelines

7.1 Workforce planning

Workforce planning dilakukan saat:

  • Proposal/grant baru.
  • Annual workplan.
  • Perubahan struktur organisasi.
  • Staff exit.
  • Workload melebihi kapasitas.

Workforce plan memuat posisi, grade, durasi, funding source, supervisor, lokasi, dan recruitment timeline. Finance harus mengonfirmasi ketersediaan budget sebelum rekrutmen dibuka.

7.2 Job description and job grade

Setiap posisi wajib memiliki JD:

  • Purpose of role.
  • Key responsibilities.
  • Reporting line.
  • Required competency and qualification.
  • Travel/field requirement.
  • Safeguarding and data responsibilities.
  • Grade and salary band.
  • Performance indicators.

Grade ditentukan oleh job evaluation, bukan negosiasi personal. Jika donor membatasi salary, SDM dan Finance harus menyelaraskan sebelum offering.

7.3 Recruitment and selection

Alur rekrutmen:

  1. Hiring request approved.
  2. JD and grade finalized.
  3. Vacancy posted or sourcing approved.
  4. CV screening by SDM and hiring manager.
  5. Interview and technical test if needed.
  6. Reference check for shortlisted candidate.
  7. Selection memo.
  8. Offering letter.
  9. Contract signing.

Direct appointment hanya boleh untuk kondisi khusus, misalnya keahlian sangat spesifik, emergency replacement, atau consultant short-term, dan harus memiliki justification.

7.4 Contracting

Kontrak harus memuat:

  • Peran, durasi, lokasi kerja, supervisor.
  • Kompensasi dan benefit.
  • Confidentiality and IP.
  • Safeguarding, anti-fraud, anti-terrorism, code of conduct.
  • Data and asset return.
  • Termination clause.
  • Donor/project funding reference jika relevan.

Konsultan/tenaga harian harus memiliki deliverable, acceptance criteria, tax treatment, payment term, confidentiality, IP, safeguarding clause, dan metode pembayaran non-tunai sebagai default.

7.5 Onboarding

Onboarding wajib selesai maksimal 30 hari kerja sejak mulai kerja. Checklist minimum:

  • Kontrak dan personal file.
  • Code of conduct.
  • SOP SDM, Keuangan, Logistik, KMEL, Safeguarding.
  • Timesheet and leave process.
  • Data security and Drive/MIS access.
  • Asset handover.
  • Role goals and supervisor expectation.
  • Field safety if landscape role.

Staf yang belum onboarding tidak boleh diberi akses penuh ke data sensitif.

7.6 Timesheet and attendance

Timesheet wajib diisi sesuai project/donor code. Fungsi timesheet:

  • Bukti alokasi waktu donor.
  • Input payroll jika relevan.
  • Monitoring workload.
  • Basis cost allocation.

SLA:

  • Staf submit pada cut-off bulanan yang ditetapkan.
  • Supervisor review maksimal 3 hari kerja.
  • SDM rekap dan kirim input payroll ke Finance sesuai payroll calendar.
7.7 Learning and development

L&D mengikuti siklus:

  1. Training need analysis dari performance review, kebutuhan donor, dan strategi organisasi.
  2. Individual development plan.
  3. Approval training budget.
  4. Pelaksanaan training/mentoring/coaching.
  5. Post-training sharing.
  6. Evaluation of learning application.

Jenis L&D:

  • Mandatory: safeguarding, code of conduct, anti-fraud, data security, finance/logistics basics.
  • Role-based: finance, procurement, KMEL, GIS/Kobo, facilitation, donor reporting.
  • Leadership: supervision, project management, conflict handling, adaptive management.
  • Cross-landscape learning: peer sharing dan practice clinic.
7.8 Performance management

Performance cycle minimal:

  • Goal setting at start of contract/year.
  • Mid-year check-in.
  • Year-end/contract-end review.
  • Development plan.

Penilaian berbasis:

  • Delivery against objectives.
  • Quality and compliance.
  • Collaboration and values.
  • Safeguarding and code of conduct.
  • Learning/growth.
  • Leadership/people management for supervisors.

Hasil performance:

  • Exceeds expectation.
  • Meets expectation.
  • Partially meets expectation.
  • Does not meet expectation.

Hasil review menjadi dasar renewal, L&D, promotion, salary adjustment, performance improvement plan, atau disciplinary process.

7.9 Promotion and job grade movement

Promosi tidak otomatis karena masa kerja. Minimum syarat:

  • Ada kebutuhan organisasi/posisi.
  • Staf memenuhi competency grade yang dituju.
  • Performance minimal meets expectation selama 2 siklus review atau sesuai masa kontrak.
  • Tidak ada disciplinary issue aktif.
  • Budget tersedia.
  • Disetujui promotion panel.

Promotion panel minimal terdiri dari SDM, supervisor/hiring manager, Finance, dan Direktur atau delegasi. Hasilnya dituangkan dalam promotion memo.

7.10 Salary adjustment

Salary adjustment dapat terjadi karena:

  • Annual salary review sesuai kebijakan.
  • Promotion/grade change.
  • Market adjustment.
  • Donor budget adjustment.
  • Legal compliance.

Semua adjustment harus tetap berada dalam salary band, atau jika exception harus disetujui Direktur dan dicatat dalam exception log.

7.11 Grievance and disciplinary

Keluhan staf harus punya kanal yang aman dan anti-retaliation. Untuk isu pelecehan seksual, safeguarding, fraud, dan konflik kepentingan, kasus masuk jalur khusus yang menjaga kerahasiaan dan independence.

Disciplinary process harus bertahap kecuali pelanggaran berat:

  • Verbal/written clarification.
  • Warning letter.
  • Performance improvement or corrective action.
  • Final warning.
  • Termination if justified.

Semua proses harus terdokumentasi dan mematuhi hukum ketenagakerjaan.

7.12 Exit and knowledge handover

Exit clearance mencakup:

  • Handover pekerjaan.
  • Return asset.
  • Settlement advance.
  • Transfer/return data.
  • Access removal.
  • Exit interview.
  • Final payment clearance.

Untuk posisi program/KMEL, handover wajib mencakup folder data, contact key stakeholders, pending reports, indicator tracker, and lesson learned.

8. Outputs

OutputOwnerFrequency
Workforce planSDMAnnual/grant start
Job description and gradeSDMPer role
Recruitment fileSDMPer recruitment
Contract and personal fileSDMPer staff
Onboarding checklistSDMPer staff
Timesheet recapSDMMonthly
Training planSDMAnnual/semester
Performance recordSupervisor/SDMMid-year/year-end
Promotion memoSDMAs needed
Exit clearanceSDMPer exit

9. Integrasi Data Security dan Safeguarding-GEDSI

Area kontrolStandar minimum di SDM
Personal data securityPersonal file, kontrak, payroll input, performance review, grievance, disciplinary, medical note, dan reference check diklasifikasikan confidential
HR access controlAkses folder HR hanya untuk SDM dan authorized approver; supervisor hanya mengakses dokumen staf yang relevan dengan perannya
Onboarding data securityStaf/konsultan/volunteer wajib menerima briefing data security sebelum mendapat akses Drive, email, donor platform, atau data komunitas
Offboarding accessExit clearance wajib mencabut email, Drive, HR files, donor platform, website, Kobo/GIS, dan akses sistem lain sebelum final clearance
Safeguarding recruitmentRole yang bekerja dengan anak/komunitas wajib reference check terkait conduct; kontrak memuat safeguarding, anti-SEAH, anti-retaliation, dan child safe clause
GEDSI people processRekrutmen, promosi, performance, training, disciplinary, dan benefit harus menggunakan prinsip non-diskriminasi dan reasonable accommodation
Grievance confidentialityKeluhan pelecehan, diskriminasi, retaliation, atau safeguarding tidak diselesaikan informal oleh pihak yang punya konflik kepentingan; masuk jalur confidential case handling

10. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Rekrutmen biasJD, scoring matrix, panel, reference check
Salary inequityJob grading and salary band
Promosi tidak transparanPromotion criteria and panel memo
Performance subjektifObjective setting, competency criteria, calibration
Staff tidak paham SOPMandatory onboarding and statement of understanding
Consultant legal riskStrong consultant contract and deliverable acceptance
Data/personal file leakAccess control and locked personnel file
Exit tanpa handoverExit clearance and access removal
Safeguarding breachMandatory training, reporting channel, code of conduct

11. Approval matrix

AktivitasDriverReviewer/ConsultedApproverEvidence
Workforce planSDMFinance, ProgramDirektur/delegasiWorkforce plan
New positionHiring managerSDM, FinanceDirekturHiring request
Job gradeSDMFinance, supervisorDirektur/delegasiJob evaluation
Recruitment shortlistSDMHiring managerHiring managerScreening sheet
Final selectionHiring managerSDM, FinanceDirektur/delegasiSelection memo
ContractSDMFinance if compensationDirektur/signatorySigned contract
TrainingStaff/SupervisorSDM, FinanceSupervisor/Director per valueTraining request
Performance reviewSupervisorSDMSupervisor; Director acknowledges managersReview form
PromotionSupervisor/SDMFinance, panelDirekturPromotion memo
Disciplinary actionSupervisor/SDMLegal/Director if neededDirektur/delegasiCase record
Exit clearanceSDMFinance, Logistics, KMEL, SupervisorSDM ManagerExit checklist

12. Minimum templates

  1. Workforce planning template.
  2. Job description and job evaluation form.
  3. Salary band register.
  4. Recruitment scoring sheet.
  5. Reference check form.
  6. Offering letter.
  7. Contract templates: staff, consultant, intern, volunteer, daily worker.
  8. Onboarding checklist.
  9. Timesheet template.
  10. Individual development plan.
  11. Performance review form.
  12. Promotion memo.
  13. Exit clearance checklist.

13. KPI and management review

KPITarget awal
New staff onboarded within 30 working days100 percent
Roles with JD and grade100 percent
Timesheet submitted and approved on time95 percent
Performance review completed100 percent per cycle
Mandatory training completed100 percent
Exit clearance completed before final payment100 percent
Promotion with complete memo100 percent

14. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Rekrutmen ada, tetapi job grading belum formalGaji, level, promosi bisa tidak konsistenJob grading and salary band governance
Evaluasi kinerja belum terhubung kuat ke L&D/promosiPenilaian kurang berdampak pada pengembanganPerformance cycle, IDP, promotion criteria
Training masih berupa permintaan/kebutuhan umumL&D tidak strategisAnnual L&D plan and competency matrix
Volunteer/magang disebut di draft 2022 tetapi belum lengkapRisiko status kerja dan safeguardingVolunteer/intern contract and onboarding
Konsultan jangka pendek kontraknya tipisRisiko IP, confidentiality, payment, safeguardingStrengthened consultant contract
Exit data handover belum kuatInstitutional memory hilangExit clearance includes data and knowledge handover

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
SOP 04

Keuangan

Ringkasan eksekutif Keuangan, dengan opsi membaca full SOP budget setup, payment, advance, settlement, payroll, dan donor financial report.

GoalPatuh donor, tepat waktu, audit-ready
Executive Summary

Keuangan perlu memastikan dana donor dan operasional dikelola dengan budget control, segregation of duties, advance aging, settlement discipline, payroll confidentiality, dan rekonsiliasi narasi-keuangan. SOP ini menjadikan Finance bukan hanya pembayar, tetapi penjaga compliance dan audit readiness.

Workflow Utama Keuangan
01

Grant/proposal budget

02

Finance setup: code, budget phasing, donor rule

03

Activity TOR/payment/advance request

04

Document completeness check

05

Budget availability and donor eligibility check

06

Approval per DoA

07

Payment / advance release

08

Implementation

09

Settlement / supporting document

10

Finance verification and coding

11

Accounting entry and reconciliation

12

Monthly budget monitoring

13

Donor financial report

14

Advance aging and exception review

Keputusan eksekutif

  • Grant finance setup wajib dibuat segera setelah award dan sebelum transaksi besar berjalan.
  • Payment mengikuti maker-checker-approver-releaser sesuai limit dan donor rule.
  • Advance kedua atau advance melewati umur tertentu membutuhkan escalation approval.

Kontrol kunci

  • Budget availability check sebelum purchase request, travel advance, dan payment.
  • Settlement checklist, advance aging, dan exception log direview rutin.
  • Donor financial report dicocokkan dengan narrative report dan evidence pack sebelum submit.

Output minimum

  • Grant finance setup, budget monitoring, payment checklist.
  • Advance register, settlement checklist, payroll control file.
  • Donor financial report clearance dan exception log.

Risiko yang ditutup

  • Pembayaran tanpa approval sah atau dokumen pendukung lengkap.
  • Outstanding advance menumpuk dan mengganggu cash flow.
  • Disallowance donor karena coding, eligibility, atau narasi dan angka tidak sinkron.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - Keuangan

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Accounting Transaksi tercatat akurat, lengkap, tepat periode, dan mudah ditelusuri sampai dokumen sumber.
  1. Terima dokumen transaksi yang sudah memiliki approval, budget code, invoice/receipt, dan bukti penerimaan bila relevan.
  2. Cek kelengkapan, eligibility donor, klasifikasi akun, project code, dan pajak.
  3. Input jurnal ke sistem akuntansi dengan maker-checker review.
  4. Rekonsiliasi bank, kas kecil, advance, payroll, dan inter-project allocation sesuai jadwal bulanan.
  5. Kunci periode akuntansi setelah review dan simpan working paper bulanan.
02 Finance dan cash flow Pembayaran berjalan tepat waktu, cash flow donor terjaga, dan risiko advance terkendali.
  1. Update cash flow forecast berdasarkan grant agreement, jadwal aktivitas, payroll, procurement plan, dan advance aging.
  2. Lakukan budget availability check sebelum payment request atau advance disetujui.
  3. Jalankan maker-checker-approver-releaser sesuai limit otorisasi.
  4. Monitor outstanding advance dan eskalasi jika melewati umur yang ditetapkan.
  5. Laporkan risiko cash gap, overrun, atau delay reimbursement ke manajemen secara dini.
03 Tax compliance Kewajiban pajak dipotong, dibayar, dilaporkan, dan diarsipkan sesuai aturan Indonesia dan donor.
  1. Identifikasi jenis transaksi dan kewajiban PPh/PPN sebelum pembayaran.
  2. Pastikan vendor, staf, atau konsultan menyediakan NPWP/NIK dan dokumen pajak yang diperlukan.
  3. Hitung potongan pajak, validasi dengan Finance checker, dan dokumentasikan pada payment file.
  4. Setor dan laporkan pajak sesuai kalender compliance.
  5. Arsipkan bukti potong, bukti setor, SPT, dan rekonsiliasi pajak untuk audit.
KPI

Matriks KPI - Keuangan

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Monthly close timeliness Laporan bulanan dan rekonsiliasi selesai setelah akhir bulan <=10 hari kerja Bulanan Monthly close checklist Finance Lead
Payment compliance % payment file dengan approval, budget code, tax check, dan dokumen pendukung lengkap >=98% Bulanan Payment checklist Finance
Advance aging control % outstanding advance melewati batas umur yang disepakati <=5% Bulanan Advance register Finance + Supervisor
Tax filing accuracy % kewajiban pajak disetor dan dilaporkan tepat waktu 100% Bulanan Tax calendar + bukti setor/lapor Finance
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_keuangan_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_keuangan_playbook_v2.md

SOP / Playbook Keuangan v2

Dokumen: SOP dan Playbook Keuangan
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur penganggaran, penerimaan donor, budget monitoring, pembayaran, uang muka, settlement, rekonsiliasi, donor financial reporting, audit, dan kontrol anti-fraud. Tujuannya memastikan dana donor dan dana lembaga dikelola akuntabel, tepat waktu, patuh pada donor rule, dan memiliki audit trail yang dapat diuji.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Semua transaksi penerimaan dan pengeluaran YHB.
  • Grant budget, donor coding, budget revision, payment request, advance, settlement, payroll payment, procurement payment, travel claim, and reimbursement.
  • Kas/bank, rekonsiliasi, monthly closing, donor financial report, audit support, and fraud escalation.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Budgeting, donor receipt, internal control, authorization, bank, cash, TOR/SOW, advance, voucher, audit, fraud, financial reportingApproval matrix masih via memo/implicit; advance kedua longgar; aging and recovery belum kuat; maker-checker-releaser belum rinciMenambahkan DoA embedded, maker-checker-approver, advance aging, stop rule, exception log
Draft 2022Perbaikan authorisation limit, standar kelengkapan dokumen, alur dana kegiatan, payroll, penghapusan cek/kas kecilBelum final dan belum terkunci sebagai lampiran wajibMenjadikan checklist dokumen, approval matrix, dan monthly control pack sebagai wajib
Audit contextKas dan advance materialKontrol berbasis orang tidak cukup untuk skala dana besarDashboard finance dan aging report rutin

4. Principles

  1. Segregation of duties: maker, checker, approver, and releaser harus dibedakan.
  2. No budget, no payment: pembayaran tidak diproses tanpa budget code dan budget availability.
  3. No evidence, no settlement: biaya hanya diakui jika bukti cukup dan eligible.
  4. Donor rule prevails: aturan donor yang lebih ketat mengalahkan SOP internal.
  5. Timely settlement: uang muka adalah liability staf dan wajib ditutup sesuai tenggat.
  6. Exception must be visible: pengecualian tidak boleh informal; harus punya log dan approval.
  7. Audit-ready by default: dokumen disusun sejak transaksi, bukan saat audit.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Grant/proposal budget

02

Finance setup: code, budget phasing, donor rule

03

Activity TOR/payment/advance request

04

Document completeness check

05

Budget availability and donor eligibility check

06

Approval per DoA

07

Payment / advance release

08

Implementation

09

Settlement / supporting document

10

Finance verification and coding

11

Accounting entry and reconciliation

12

Monthly budget monitoring

13

Donor financial report

14

Advance aging and exception review

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Accounting

Outcome yang diharapkan: Transaksi tercatat akurat, lengkap, tepat periode, dan mudah ditelusuri sampai dokumen sumber.

PIC utama: Finance Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Payment/advance/settlement request.
  • Budget code dan eligibility donor.
  • Invoice, receipt, kontrak, atau bukti transaksi.
  • Tax information.
  • Approval sesuai delegation of authority.

Langkah teknis:

  1. Terima dokumen transaksi yang sudah memiliki approval, budget code, invoice/receipt, dan bukti penerimaan bila relevan.
  2. Cek kelengkapan, eligibility donor, klasifikasi akun, project code, dan pajak.
  3. Input jurnal ke sistem akuntansi dengan maker-checker review.
  4. Rekonsiliasi bank, kas kecil, advance, payroll, dan inter-project allocation sesuai jadwal bulanan.
  5. Kunci periode akuntansi setelah review dan simpan working paper bulanan.

Output dan evidence wajib:

  • Payment/accounting/tax working paper.
  • Checklist dan approval trail.
  • Register atau reconciliation update.
  • Exception/corrective action bila ada.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Segregation of duties: maker, checker, approver, dan releaser tidak boleh dilewati.
  • Eligibility donor dan budget availability dicek sebelum pembayaran atau advance.
  • Exception dan overdue item masuk log untuk review manajemen.

KPI terkait: Monthly close timeliness, Payment compliance, Advance aging control, Tax filing accuracy.

5A.2 Finance dan cash flow

Outcome yang diharapkan: Pembayaran berjalan tepat waktu, cash flow donor terjaga, dan risiko advance terkendali.

PIC utama: Finance Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Payment/advance/settlement request.
  • Budget code dan eligibility donor.
  • Invoice, receipt, kontrak, atau bukti transaksi.
  • Tax information.
  • Approval sesuai delegation of authority.

Langkah teknis:

  1. Update cash flow forecast berdasarkan grant agreement, jadwal aktivitas, payroll, procurement plan, dan advance aging.
  2. Lakukan budget availability check sebelum payment request atau advance disetujui.
  3. Jalankan maker-checker-approver-releaser sesuai limit otorisasi.
  4. Monitor outstanding advance dan eskalasi jika melewati umur yang ditetapkan.
  5. Laporkan risiko cash gap, overrun, atau delay reimbursement ke manajemen secara dini.

Output dan evidence wajib:

  • Payment/accounting/tax working paper.
  • Checklist dan approval trail.
  • Register atau reconciliation update.
  • Exception/corrective action bila ada.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Segregation of duties: maker, checker, approver, dan releaser tidak boleh dilewati.
  • Eligibility donor dan budget availability dicek sebelum pembayaran atau advance.
  • Exception dan overdue item masuk log untuk review manajemen.

KPI terkait: Payment compliance, Advance aging control, Tax filing accuracy.

5A.3 Tax compliance

Outcome yang diharapkan: Kewajiban pajak dipotong, dibayar, dilaporkan, dan diarsipkan sesuai aturan Indonesia dan donor.

PIC utama: Finance Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Payment/advance/settlement request.
  • Budget code dan eligibility donor.
  • Invoice, receipt, kontrak, atau bukti transaksi.
  • Tax information.
  • Approval sesuai delegation of authority.

Langkah teknis:

  1. Identifikasi jenis transaksi dan kewajiban PPh/PPN sebelum pembayaran.
  2. Pastikan vendor, staf, atau konsultan menyediakan NPWP/NIK dan dokumen pajak yang diperlukan.
  3. Hitung potongan pajak, validasi dengan Finance checker, dan dokumentasikan pada payment file.
  4. Setor dan laporkan pajak sesuai kalender compliance.
  5. Arsipkan bukti potong, bukti setor, SPT, dan rekonsiliasi pajak untuk audit.

Output dan evidence wajib:

  • Payment/accounting/tax working paper.
  • Checklist dan approval trail.
  • Register atau reconciliation update.
  • Exception/corrective action bila ada.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Segregation of duties: maker, checker, approver, dan releaser tidak boleh dilewati.
  • Eligibility donor dan budget availability dicek sebelum pembayaran atau advance.
  • Exception dan overdue item masuk log untuk review manajemen.

KPI terkait: Monthly close timeliness, Payment compliance, Tax filing accuracy.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Monthly close timelinessLaporan bulanan dan rekonsiliasi selesai setelah akhir bulan<=10 hari kerjaBulananMonthly close checklistFinance LeadPIC mengambil data dari Monthly close checklist pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target <=10 hari kerja, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Payment compliance% payment file dengan approval, budget code, tax check, dan dokumen pendukung lengkap>=98%BulananPayment checklistFinancePIC mengambil data dari Payment checklist pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=98%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Advance aging control% outstanding advance melewati batas umur yang disepakati<=5%BulananAdvance registerFinance + SupervisorPIC mengambil data dari Advance register pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target <=5%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Tax filing accuracy% kewajiban pajak disetor dan dilaporkan tepat waktu100%BulananTax calendar + bukti setor/laporFinancePIC mengambil data dari Tax calendar + bukti setor/lapor pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Procedure and guidelines

6.1 Budget setup

Setelah grant handover, Finance membuat grant finance setup:

  • Project/grant code.
  • Chart of account mapping.
  • Budget phasing.
  • Donor eligibility rules.
  • Tax treatment.
  • Reporting currency and exchange rate rule.
  • Payment term and cashflow schedule.
  • Restricted/unrestricted classification.

Finance setup harus dibagikan ke Program, KMEL, Partnership, Logistik, dan SDM.

6.2 Budget monitoring

Budget monitoring dilakukan minimal bulanan dan memuat:

  • Budget vs actual.
  • Commitment/procurement in process.
  • Advance outstanding.
  • Forecast to completion.
  • Variance explanation.
  • Risk of overspend/underspend.
  • Donor restriction issue.

Budget holder wajib menindaklanjuti variance material.

6.3 Payment request

Payment request harus memuat:

  • Approved TOR/SOW/PR/contract.
  • Invoice/receipt/supporting document.
  • Budget code.
  • Tax information.
  • Bank account recipient.
  • Goods received/service completion note if procurement.
  • Approval per matrix.

Finance melakukan completeness check dan eligibility check sebelum pembayaran.

6.4 Advance

Advance diberikan hanya untuk kebutuhan kegiatan/perjalanan yang sudah disetujui. Standar minimum:

  • Advance request terkait approved TOR/TA.
  • Budget availability confirmed.
  • Settlement deadline tercantum.
  • Staf tidak memiliki overdue advance.
  • Advance kedua hanya boleh untuk kondisi luar biasa, dengan approval Direktur/delegasi dan total exposure dalam limit yang disahkan.

Advance aging report dibuat minimal bulanan, idealnya mingguan untuk grant aktif. Kategori aging:

AgingStatusAction
0-7 hari setelah kegiatanNormalReminder requester
8-14 hariWatchlistReminder to requester and supervisor
15-30 hariOverdueEscalate to Budget Holder/Manager
>30 hariCriticalStop new advance, recovery plan, possible salary offset subject to legal/contract basis
6.5 Settlement

Settlement harus disampaikan sesuai tenggat, dengan dokumen:

  • Settlement form.
  • Original/valid receipts or accepted alternative evidence.
  • Attendance list, report, photos, travel proof if relevant.
  • Remaining cash return proof.
  • Explanation for missing/exception documents.

Finance menolak biaya yang tidak eligible, tidak didukung bukti, melewati donor rule, atau tidak terkait activity.

6.6 Reimbursement and late claim

Reimbursement harus diajukan maksimal sesuai batas waktu yang disahkan. Klaim terlambat harus memiliki:

  • Justifikasi tertulis.
  • Approval supervisor/Budget Holder.
  • Finance eligibility check.
  • Exception log.

Klaim perjalanan atau biaya kegiatan yang muncul berbulan-bulan setelah aktivitas tanpa approval awal harus ditolak kecuali disetujui sebagai exception oleh Direktur/delegasi.

6.7 Bank and payment release

Semua pembayaran non-tunai menjadi default. Cash hanya untuk kondisi yang dibenarkan, misalnya remote area atau vendor tidak memiliki rekening, dan harus didokumentasikan.

Minimum kontrol bank:

  • Maker menyiapkan payment batch.
  • Checker memverifikasi dokumen dan rekening.
  • Approver menyetujui pembayaran.
  • Releaser bank berbeda dari maker sejauh memungkinkan.
  • Payment proof disimpan di finance file.

Perubahan rekening vendor/staf harus diverifikasi secara independen sebelum pembayaran.

6.8 Budget revision

Budget revision dibutuhkan jika:

  • Realokasi antar budget line melewati batas donor/internal.
  • Ada perubahan scope kegiatan.
  • Ada perubahan target/logframe.
  • Ada kebutuhan tambahan yang tidak ada dalam workplan.

Budget revision harus direview Finance, Program, KMEL jika berdampak indikator, dan Partnership jika perlu donor approval.

6.9 Donor financial reporting

Financial report donor disusun berdasarkan reporting calendar. Minimum review:

  • Reconcile with accounting record.
  • Match with narrative progress/KMEL output.
  • Variance explanation.
  • Advance and accrual treatment.
  • Donor format and currency.
  • Supporting schedule ready.

Finance dan KMEL harus melakukan cross-check agar narasi capaian dan realisasi biaya konsisten.

6.10 Audit and fraud

Finance menyimpan audit file per grant:

  • Agreement and amendments.
  • Approved budget.
  • Payment vouchers.
  • Procurement files.
  • Payroll allocation/timesheet if required.
  • Advance and settlement.
  • Donor reports.
  • Correspondence on approval/exception.

Indikasi fraud, bribery, document falsification, kickback, atau misuse harus langsung dieskalasi sesuai whistleblowing/fraud procedure dan dicatat dalam incident log.

7. Outputs

OutputOwnerFrequency
Grant finance setupFinanceAt grant start
Budget monitoring reportFinanceMonthly
Payment voucherFinancePer transaction
Advance aging reportFinanceMonthly/weekly
Settlement checklistFinancePer advance
Bank reconciliationFinanceMonthly
Donor financial reportFinancePer donor schedule
Exception logFinanceMonthly review
Audit fileFinanceOngoing

8. Integrasi Data Security dan Safeguarding-GEDSI

Area kontrolStandar minimum di Keuangan
Finance data securityPayment voucher, rekening, payroll, pajak, advance aging, audit file, dan donor financial report diklasifikasikan restricted/confidential sesuai isi
Payroll confidentialitySlip gaji, alokasi gaji multi-donor, BPJS, pajak, dan personal bank account hanya diakses SDM/Finance/authorized approver
Bank detail controlPerubahan rekening staf/vendor diverifikasi independen; dokumen rekening tidak dibagikan melalui public link
Safeguarding budgetProposal dan budget revision harus memungkinkan biaya minimum untuk safeguarding/GEDSI bila relevan: kanal pengaduan, referral support, reasonable accommodation, akses disabilitas, atau pendampingan
Confidential case paymentPembayaran terkait referral/support kasus safeguarding diproses dengan kode dan dokumentasi terbatas agar identitas survivor/pelapor tidak terekspos
GEDSI budget reviewFinance mengecek apakah budget kegiatan menyediakan biaya akses inklusif, transport aman, konsumsi layak, dan kebutuhan peserta rentan bila relevan
Fraud and abuse linkIndikasi penyalahgunaan dana yang terkait relasi kuasa, eksploitasi, atau retaliation dieskalasi ke jalur fraud dan safeguarding sekaligus

9. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Payment without authorizationApproval matrix and payment checklist
Overdue advanceAging report, stop rule, escalation, recovery plan
Donor disallowanceEligibility check and donor compliance matrix
Wrong budget codingGrant code setup and finance review
Duplicate paymentInvoice number/vendor/payment proof check
Fraud or fake receiptSample verification, vendor matching, red flag review
Cash misuseNon-cash default and cash exception log
Late donor reportReporting calendar and pre-close review
Narrative-finance mismatchKMEL-Finance cross-check

10. Approval matrix

Nilai approval mengikuti delegation of authority yang disahkan. Matrix di bawah adalah struktur minimum:

AktivitasDriverChecker/ReviewerApproverEvidence
Grant finance setupFinancePartnership, KMELFinance ManagerSetup checklist
Budget availabilityFinanceBudget HolderFinance Manager/delegasiBudget check
Payment requestRequesterFinanceBudget Holder/Director per limitPayment voucher
Advance requestRequesterFinanceBudget Holder/Director per limitAdvance form
Advance kedua/exceptionRequesterFinance, SupervisorDirector/delegated authorityException memo
Settlement approvalFinanceRequester/Supervisor if issueFinance ManagerSettlement checklist
Budget revision internalBudget HolderFinance, KMEL if target affectedDirector/delegated authorityBudget revision memo
Budget revision donor approvalPartnershipFinance, KMEL, ProgramDirectorDonor approval
Donor financial reportFinanceKMEL, Budget HolderDirector or delegated signatoryReport clearance
Bank releaseFinanceCheckerAuthorized bank signatoryPayment proof

11. Minimum templates

  1. Grant finance setup checklist.
  2. Payment request form.
  3. Advance request form.
  4. Settlement form and checklist.
  5. Budget monitoring template.
  6. Advance aging report.
  7. Budget revision memo.
  8. Donor financial report clearance sheet.
  9. Exception log.
  10. Audit file index.

12. KPI and management review

KPITarget awal
Monthly close completedWithin agreed monthly deadline
Overdue advance >30 days0 or management-approved recovery plan
Payment with complete documents95 percent
Donor report submitted on time100 percent
Budget monitoring reviewedMonthly
Bank reconciliation completedMonthly
Exception log reviewedMonthly

13. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Approval matrix tidak embeddedKeputusan bergantung ingatan/memoStruktur approval dan DoA menjadi lampiran wajib
Advance kedua masih longgarOutstanding advance bisa materialStop rule, aging, recovery, exception approval
Maker-checker-releaser belum rinciRisiko pembayaran tidak sahSegregation of duties dijelaskan
Standar dokumen belum menjadi checklist operasionalFinance review lambat dan tidak konsistenPayment/settlement checklist wajib
Kas/cek lama perlu disederhanakanRisiko cash handling dan proses usangNon-cash default, cash exception log
Donor financial report belum terhubung kuat ke KMELNarasi dan angka bisa tidak sinkronCross-check Finance-KMEL sebelum submit

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
SOP 05

KMEL / KML

Ringkasan eksekutif KMEL/KML, dengan opsi membaca full SOP MEL plan, data collection, evidence pack, reporting, dan learning cycle.

GoalEvidence before claim, data becomes learning
Executive Summary

KMEL/KML menjadi simpul yang memastikan target program dapat dipantau, klaim donor berbasis bukti, dan data menjadi pembelajaran lintas landscape. SOP ini memberi rumah formal untuk logframe, indicator reference, Kobo/GIS, dashboard, evidence pack, donor reporting, dan knowledge products.

Workflow Utama KMEL / KML
01

Grant handover from Partnership

02

Logframe and donor requirement review

03

MEL plan and indicator reference sheet

04

Data taxonomy, folder, Kobo/GIS/forms

05

Kickoff and landscape orientation

06

Monthly landscape report and data upload

07

Data quality assurance

08

Indicator tracker and dashboard

09

Issue escalation and adaptive management

10

Donor narrative report

11

Advisor/Finance/Director review

12

Submission and donor feedback

13

Six-month evaluation and learning forum

14

Knowledge product

15

Close-out data archive

Keputusan eksekutif

  • MEL plan dan indicator reference sheet wajib tersedia sebelum data collection berjalan.
  • Setiap donor report harus melewati evidence check dan finance-narrative cross-check.
  • Learning review menjadi proses rutin, bukan aktivitas tambahan saat akhir proyek.

Kontrol kunci

  • Tools data collection distandarkan dan disetujui KMEL sebelum dipakai lintas landscape.
  • Raw data, foto, peta, daftar hadir, dan evidence disimpan sesuai klasifikasi data.
  • Consent, do-no-harm, dan safeguarding review masuk ke desain pengumpulan data.

Output minimum

  • MEL plan, indicator reference sheet, data collection tools.
  • Monthly dashboard, field data quality check, evidence pack.
  • Donor narrative report, learning brief, knowledge product, archive register.

Risiko yang ditutup

  • Klaim capaian donor tidak punya bukti atau definisi indikator tidak konsisten.
  • Data tersebar di banyak folder/personal drive dan sulit dipakai ulang.
  • Pembelajaran antar landscape tidak masuk ke desain proposal berikutnya.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - KMEL / KML

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Knowledge gathering Data landscape yang dibutuhkan program dan donor terkumpul dengan cara sederhana, etis, dan konsisten.
  1. Definisikan data minimum per landscape: indikator donor, aktivitas, aktor, lokasi, foto, cerita perubahan, risiko, dan pembelajaran.
  2. Buat tool sederhana seperti Kobo, Google Form, spreadsheet, atau template field note yang mudah dipakai tim lapangan.
  3. Pastikan tool memiliki metadata wajib: tanggal, lokasi, PIC, sumber data, consent, dan klasifikasi data.
  4. Latih enumerator atau staf landscape agar definisi indikator dipahami sama.
  5. Lakukan data quality check berkala untuk missing value, duplikasi, outlier, dan bukti pendukung.
02 Knowledge analyzing Data landscape diterjemahkan menjadi insight untuk keputusan program, donor report, dan desain proposal berikutnya.
  1. Bersihkan dataset dan dokumentasikan asumsi analisis.
  2. Analisis capaian terhadap logframe, baseline, target, budget absorption, dan konteks landscape.
  3. Gunakan metode yang sesuai: pivot/dashboard sederhana, GIS mapping, outcome harvesting, contribution analysis, atau thematic coding.
  4. Diskusikan temuan dengan Program dan landscape team untuk validasi konteks.
  5. Ubah insight menjadi rekomendasi tindakan, bukan hanya grafik.
03 Knowledge sharing Pembelajaran Blue Forest dapat dipakai ulang oleh staf, mitra, donor, dan publik sesuai tingkat sensitivitas data.
  1. Pilih format knowledge product: learning brief, dashboard, story of change, policy note, slide deck, atau konten publik.
  2. Klasifikasikan audiens dan sensitivitas: internal, donor, mitra, publik, atau restricted.
  3. Review pesan utama bersama Program, Partnership, dan Safeguarding-GEDSI.
  4. Publikasikan melalui kanal yang tepat: website, newsletter, social media, donor meeting, atau learning forum.
  5. Arsipkan produk final dan source evidence agar mudah ditemukan kembali.
04 Donor reporting Laporan donor tepat waktu, konsisten antara narasi dan angka, serta didukung evidence pack.
  1. Buat reporting calendar per grant dengan deadline internal minimal 10 hari kerja sebelum deadline donor.
  2. Kumpulkan capaian naratif, indikator, foto, daftar hadir, peta, case story, dan finance data.
  3. Cek kesesuaian angka narrative report dengan financial report dan evidence pack.
  4. Review draft bersama Program, Finance, Partnership, Safeguarding-GEDSI, dan Direktur sesuai risiko.
  5. Submit laporan, catat feedback donor, dan simpan final report serta evidence pack.
KPI

Matriks KPI - KMEL / KML

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Data completeness % record landscape yang memenuhi field minimum dan metadata wajib >=90% Bulanan Kobo/Form/field dataset KMEL + Landscape Team
Evidence pack readiness % klaim donor report yang memiliki evidence pack terverifikasi 100% Per report Evidence checklist KMEL + Program
Learning product delivery Jumlah learning brief, dashboard, story of change, atau knowledge product yang dipublikasikan sesuai kalender >=1/kuartal Kuartalan Knowledge product tracker KMEL
Donor report timeliness % donor report terkirim tepat waktu setelah review lintas fungsi 100% Per deadline donor Reporting calendar KMEL + Partnership
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_kmel_kml_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_kmel_kml_playbook_v2.md

SOP / Playbook KMEL / KML v2

Dokumen: SOP dan Playbook Knowledge, Monitoring, Evaluation, and Learning
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur proses KMEL/KML dari grant handover, logframe review, MEL plan, data collection, data management, monitoring bulanan, evaluasi 6 bulanan, donor reporting, evidence quality assurance, knowledge sharing, dan data archive. Tujuannya memastikan janji program kepada donor dapat dipantau, dibuktikan, dipelajari, dan digunakan kembali untuk pengambilan keputusan serta proposal berikutnya.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Semua program, project, landscape, dan grant YHB.
  • Logframe, workplan, indikator, baseline/endline, Kobo/GIS, laporan bulanan, donor report, evidence pack, dan knowledge product.
  • Data program, data masyarakat dampingan, dokumentasi kegiatan, peta/polygon, foto, daftar hadir, dan laporan kegiatan.
  • Knowledge sharing internal dan publikasi pembelajaran.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Monitoring disebut dalam konteks keuangan, TOR/SOW, timesheet, dan laporanTidak ada modul KMEL, data governance, evidence pack, logframe monitoring, atau knowledge managementMembuat SOP KMEL sebagai modul inti
Draft 2022Tetap berfokus pada SDM, finance, logistics, communicationBelum mengatur pengorganisasian data, penyimpanan, keamanan, dan reporting workflowMenambahkan data taxonomy, MEL plan, reporting calendar, evidence QA
Interview RegistaKMEL sudah menjalankan monitoring bulanan, evaluasi 6 bulanan, review donor report, data Kobo/GIS, dan knowledge outputSemua masih banyak manual, by email, Drive tersebar, knowledge sharing ad hocMenetapkan workflow, SLA, register, dan data governance

4. Principles

  1. Every promise has an indicator: janji proposal harus turun ke indikator dan evidence.
  2. Data has owner and purpose: setiap data collection harus punya owner, use case, metode, dan jadwal analisis.
  3. Evidence before claim: klaim capaian donor tidak boleh masuk laporan tanpa bukti minimum.
  4. Landscape comparable, locally adaptive: tools distandardkan agar data bisa dibandingkan, tetapi tetap adaptif terhadap konteks masyarakat.
  5. Learning is scheduled: pembelajaran tidak menunggu permintaan; harus punya cadence.
  6. Secure by default: data sensitif dibatasi aksesnya dan tidak dibagikan publik tanpa approval.
  7. System follows process: MIS/dashboard dibangun setelah taxonomy, owner, dan workflow jelas.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Grant handover from Partnership

02

Logframe and donor requirement review

03

MEL plan and indicator reference sheet

04

Data taxonomy, folder, Kobo/GIS/forms

05

Kickoff and landscape orientation

06

Monthly landscape report and data upload

07

Data quality assurance

08

Indicator tracker and dashboard

09

Issue escalation and adaptive management

10

Donor narrative report

11

Advisor/Finance/Director review

12

Submission and donor feedback

13

Six-month evaluation and learning forum

14

Knowledge product

15

Close-out data archive

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Knowledge gathering

Outcome yang diharapkan: Data landscape yang dibutuhkan program dan donor terkumpul dengan cara sederhana, etis, dan konsisten.

PIC utama: KMEL Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Logframe dan indicator reference sheet.
  • Data collection tool.
  • Raw data dan evidence pack.
  • Consent dan data classification note.
  • Reporting calendar donor.

Langkah teknis:

  1. Definisikan data minimum per landscape: indikator donor, aktivitas, aktor, lokasi, foto, cerita perubahan, risiko, dan pembelajaran.
  2. Buat tool sederhana seperti Kobo, Google Form, spreadsheet, atau template field note yang mudah dipakai tim lapangan.
  3. Pastikan tool memiliki metadata wajib: tanggal, lokasi, PIC, sumber data, consent, dan klasifikasi data.
  4. Latih enumerator atau staf landscape agar definisi indikator dipahami sama.
  5. Lakukan data quality check berkala untuk missing value, duplikasi, outlier, dan bukti pendukung.

Output dan evidence wajib:

  • Clean dataset atau dashboard update.
  • Evidence pack.
  • Learning/reporting product.
  • Action recommendation untuk program.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Definisi indikator harus konsisten dengan indicator reference sheet.
  • Raw data, consent, dan evidence disimpan sesuai klasifikasi data.
  • Donor report tidak boleh submit sebelum narrative-finance-evidence cross-check selesai.

KPI terkait: Data completeness, Evidence pack readiness, Learning product delivery, Donor report timeliness.

5A.2 Knowledge analyzing

Outcome yang diharapkan: Data landscape diterjemahkan menjadi insight untuk keputusan program, donor report, dan desain proposal berikutnya.

PIC utama: KMEL Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Logframe dan indicator reference sheet.
  • Data collection tool.
  • Raw data dan evidence pack.
  • Consent dan data classification note.
  • Reporting calendar donor.

Langkah teknis:

  1. Bersihkan dataset dan dokumentasikan asumsi analisis.
  2. Analisis capaian terhadap logframe, baseline, target, budget absorption, dan konteks landscape.
  3. Gunakan metode yang sesuai: pivot/dashboard sederhana, GIS mapping, outcome harvesting, contribution analysis, atau thematic coding.
  4. Diskusikan temuan dengan Program dan landscape team untuk validasi konteks.
  5. Ubah insight menjadi rekomendasi tindakan, bukan hanya grafik.

Output dan evidence wajib:

  • Clean dataset atau dashboard update.
  • Evidence pack.
  • Learning/reporting product.
  • Action recommendation untuk program.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Definisi indikator harus konsisten dengan indicator reference sheet.
  • Raw data, consent, dan evidence disimpan sesuai klasifikasi data.
  • Donor report tidak boleh submit sebelum narrative-finance-evidence cross-check selesai.

KPI terkait: Data completeness, Evidence pack readiness, Learning product delivery, Donor report timeliness.

5A.3 Knowledge sharing

Outcome yang diharapkan: Pembelajaran Blue Forest dapat dipakai ulang oleh staf, mitra, donor, dan publik sesuai tingkat sensitivitas data.

PIC utama: KMEL Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Logframe dan indicator reference sheet.
  • Data collection tool.
  • Raw data dan evidence pack.
  • Consent dan data classification note.
  • Reporting calendar donor.

Langkah teknis:

  1. Pilih format knowledge product: learning brief, dashboard, story of change, policy note, slide deck, atau konten publik.
  2. Klasifikasikan audiens dan sensitivitas: internal, donor, mitra, publik, atau restricted.
  3. Review pesan utama bersama Program, Partnership, dan Safeguarding-GEDSI.
  4. Publikasikan melalui kanal yang tepat: website, newsletter, social media, donor meeting, atau learning forum.
  5. Arsipkan produk final dan source evidence agar mudah ditemukan kembali.

Output dan evidence wajib:

  • Clean dataset atau dashboard update.
  • Evidence pack.
  • Learning/reporting product.
  • Action recommendation untuk program.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Definisi indikator harus konsisten dengan indicator reference sheet.
  • Raw data, consent, dan evidence disimpan sesuai klasifikasi data.
  • Donor report tidak boleh submit sebelum narrative-finance-evidence cross-check selesai.

KPI terkait: Evidence pack readiness, Learning product delivery, Donor report timeliness.

5A.4 Donor reporting

Outcome yang diharapkan: Laporan donor tepat waktu, konsisten antara narasi dan angka, serta didukung evidence pack.

PIC utama: KMEL Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Logframe dan indicator reference sheet.
  • Data collection tool.
  • Raw data dan evidence pack.
  • Consent dan data classification note.
  • Reporting calendar donor.

Langkah teknis:

  1. Buat reporting calendar per grant dengan deadline internal minimal 10 hari kerja sebelum deadline donor.
  2. Kumpulkan capaian naratif, indikator, foto, daftar hadir, peta, case story, dan finance data.
  3. Cek kesesuaian angka narrative report dengan financial report dan evidence pack.
  4. Review draft bersama Program, Finance, Partnership, Safeguarding-GEDSI, dan Direktur sesuai risiko.
  5. Submit laporan, catat feedback donor, dan simpan final report serta evidence pack.

Output dan evidence wajib:

  • Clean dataset atau dashboard update.
  • Evidence pack.
  • Learning/reporting product.
  • Action recommendation untuk program.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Definisi indikator harus konsisten dengan indicator reference sheet.
  • Raw data, consent, dan evidence disimpan sesuai klasifikasi data.
  • Donor report tidak boleh submit sebelum narrative-finance-evidence cross-check selesai.

KPI terkait: Evidence pack readiness, Learning product delivery, Donor report timeliness.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Data completeness% record landscape yang memenuhi field minimum dan metadata wajib>=90%BulananKobo/Form/field datasetKMEL + Landscape TeamPIC mengambil data dari Kobo/Form/field dataset pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=90%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Evidence pack readiness% klaim donor report yang memiliki evidence pack terverifikasi100%Per reportEvidence checklistKMEL + ProgramPIC mengambil data dari Evidence checklist pada akhir periode Per report, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Learning product deliveryJumlah learning brief, dashboard, story of change, atau knowledge product yang dipublikasikan sesuai kalender>=1/kuartalKuartalanKnowledge product trackerKMELPIC mengambil data dari Knowledge product tracker pada akhir periode Kuartalan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=1/kuartal, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Donor report timeliness% donor report terkirim tepat waktu setelah review lintas fungsi100%Per deadline donorReporting calendarKMEL + PartnershipPIC mengambil data dari Reporting calendar pada akhir periode Per deadline donor, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Procedure and guidelines

6.1 Grant handover and KMEL setup

KMEL menerima grant handover pack dari Partnership. Minimum content:

  • Proposal final.
  • Donor agreement and reporting schedule.
  • Logframe/result framework.
  • Approved budget and activity assumptions.
  • Donor indicator definitions and templates.
  • Evaluation requirements.
  • Data privacy/safeguarding clauses.
  • Donor platform access if any.

KMEL membuat KMEL setup checklist maksimal 10 hari kerja setelah grant agreement efektif.

6.2 MEL plan

MEL plan wajib memuat:

  • Objectives and result chain.
  • Indicator reference sheet.
  • Baseline and target.
  • Data source.
  • Collection method.
  • Frequency.
  • Responsible person.
  • Disaggregation, including gender/age/location where relevant.
  • Evidence pack requirement.
  • Data quality check.
  • Reporting schedule.
  • Learning questions.

MEL plan direview Advisor/Program dan disetujui KMEL Lead bersama Program Lead.

6.3 Indicator reference sheet

Setiap indikator harus punya reference sheet:

  • Indicator name.
  • Definition.
  • Unit of measure.
  • Formula/calculation.
  • Data source.
  • Collection method.
  • Frequency.
  • Responsible.
  • Verification document.
  • Data quality risk.
  • Donor reporting format.

Indikator tidak boleh digunakan dalam laporan donor jika definisi dan evidence minimum belum jelas.

6.4 Data collection tools

KMEL bertanggung jawab memastikan tools distandardkan:

  • Kobo/Survey123/GIS form untuk data kuantitatif dan spasial.
  • FGD/KII/observation guide untuk data kualitatif.
  • Attendance list standard.
  • Photo and consent protocol.
  • Activity report template.
  • Map/polygon documentation for rehabilitation or spatial output.

Jika landscape ingin membuat form baru, KMEL mengecek apakah form existing dapat digunakan agar data lintas landscape tetap comparable.

6.5 Data taxonomy and storage

Folder dan metadata minimum:

Grant > Landscape > Year > Activity/Indicator > Data Type > Version

Data type minimum:

  • Raw data.
  • Clean data.
  • Analysis.
  • Evidence.
  • Report.
  • Knowledge product.
  • Consent/restricted.

Naming convention:

YYYYMMDD_landscape_program_activity_datatype_version_owner

Data disimpan di Google Drive resmi dan dimirror ke backup/Synology sesuai backup schedule. File personal tidak boleh menjadi lokasi utama data kelembagaan.

6.6 Data classification and access
ClassificationContohAkses
PublicPublikasi, story, materi eksternal yang sudah approvedTerbuka setelah approval
InternalWorkplan, laporan internal, tracker non-sensitifStaf terkait
RestrictedData masyarakat, daftar hadir, nomor kontak, lokasi sensitif, kontrak donor tertentuRole-based access
ConfidentialKasus safeguarding, grievance, investigasi, personal data sensitifFocal point/authorized only

Sharing link publik dilarang untuk data restricted/confidential. Pelanggaran data harus dilaporkan maksimal 24 jam sejak diketahui.

6.7 Monthly monitoring

Landscape mengirim laporan bulanan sesuai template. Laporan minimal:

  • Activity completed.
  • Activity delayed/cancelled.
  • Output achieved.
  • Evidence link.
  • Issues and risks.
  • Support needed.
  • Budget/finance issue relevant to progress.
  • Safeguarding/GEDSI concern if any.

KMEL memperbarui indicator tracker dan issue log. Masalah teknis biasa diarahkan ke Advisor/Program. Masalah yang memengaruhi logframe, target donor, budget, timeline, atau reputasi dieskalasi ke Program Lead, Advisor, Finance, Partnership, dan Direktur sesuai kebutuhan.

6.8 TOR/SOW review

Untuk kegiatan yang memengaruhi indikator, KMEL wajib mereview TOR/SOW. SLA:

  • Reviewer menerima TOR lengkap.
  • Review maksimal 7 hari kerja.
  • Reminder H+3 dan H+5.
  • H+7 overdue dieskalasi ke Program Lead/Manager.
  • Jika ada sistem approval, status harus tercatat.

KMEL review mencakup:

  • Kesesuaian dengan workplan/logframe.
  • Target peserta/lokasi.
  • Data/evidence yang akan dikumpulkan.
  • Output yang diharapkan.
  • Learning question jika relevan.
6.9 Evidence pack quality assurance

Sebelum laporan donor, KMEL memastikan evidence pack lengkap. Contoh minimum:

OutputEvidence minimum
Rehabilitasi mangrovePeta/polygon, foto geotag jika tersedia, daftar peserta, activity report, monitoring data
Sekolah lapangModul/session plan, daftar hadir, sex-disaggregated participant data, foto, pre/post or reflection notes
Patroli/monitoringKobo/GIS form, route/map, observation log, incident notes
Training/workshopTOR, daftar hadir, materi, dokumentasi, evaluation form
Livelihood/community supportBeneficiary list, consent where needed, delivery evidence, follow-up data

Klaim capaian tanpa evidence minimum harus diberi flag dan tidak dimasukkan ke laporan final kecuali disetujui sebagai exception.

6.10 Donor reporting

KMEL memelihara donor reporting calendar. Alur:

  1. KMEL mengirim reminder deadline ke Program, Finance, Advisor, Partnership.
  2. Landscape/Program mengirim input naratif dan evidence.
  3. KMEL menyusun/review narrative report.
  4. Finance menyusun financial report.
  5. KMEL dan Finance cross-check narasi vs angka.
  6. Advisor mereview kualitas teknis.
  7. Direktur atau delegated signatory menyetujui submission.
  8. Partnership mengelola komunikasi donor jika menjadi relationship owner.

Donor yang punya platform sendiri harus dicatat akses, format, deadline, dan owner penginputannya.

6.11 Evaluation and learning

Evaluasi minimal dilakukan 6 bulanan atau sesuai donor requirement. Agenda minimum:

  • Review capaian logframe.
  • Review delayed output and root cause.
  • Review budget burn rate with Finance.
  • Review procurement/staffing constraints.
  • Review safeguarding/GEDSI issue.
  • Identify good practices and failed assumptions.
  • Agree adaptation plan.

Output:

  • Evaluation minutes.
  • Updated issue/risk log.
  • Adaptation decision.
  • Learning brief.
  • Updated workplan if needed.
6.12 Knowledge management

KMEL mengelola knowledge product pipeline:

  • After-action review note.
  • Lesson learned brief.
  • Practice note.
  • Case story/cerita lapangan.
  • Module update.
  • Internal newsletter/data bulletin.
  • Cross-landscape learning session.

Knowledge sharing tidak hanya by request. Minimum cadence:

  • Monthly internal data highlight.
  • Quarterly learning forum.
  • Semester evaluation learning brief.
  • Annual knowledge synthesis.

Publikasi eksternal harus mengikuti approval komunikasi/brand dan safeguarding consent.

6.13 Close-out and data archive

Saat grant close-out, KMEL menutup:

  • Final indicator tracker.
  • Final evidence pack.
  • Final narrative report.
  • Data dictionary.
  • Clean data and raw data archive.
  • Knowledge product.
  • Access review and folder lock.
  • Lessons for next proposal.

Close-out data archive harus selesai maksimal 30 hari kerja setelah final report disubmit, kecuali donor meminta periode lain.

7. Outputs

OutputOwnerFrequency
KMEL setup checklistKMELGrant start
MEL planKMELGrant start/update
Indicator reference sheetKMELPer indicator
Data collection toolsKMEL/Data OfficerBefore collection
Monthly monitoring dashboardKMELMonthly
Issue and risk logKMEL/ProgramMonthly
Evidence registerKMELOngoing
Donor narrative reportKMELDonor schedule
Evaluation report/minutesKMELSemester/donor schedule
Knowledge productKMEL/CommsQuarterly/semester
Data archive registerKMELClose-out

8. Integrasi Data Security dan Safeguarding-GEDSI

Area kontrolStandar minimum di KMEL
Data classificationRaw data, daftar hadir, data peserta, peta/polygon lokasi sensitif, Kobo/GIS export, dan evidence belum publik diklasifikasikan restricted/confidential sesuai isi
Consent and ethical dataPengumpulan foto, cerita, data pribadi, data anak, dan informasi kelompok rentan wajib memakai consent dan do-no-harm approach
Data minimizationForm Kobo/GIS tidak mengumpulkan data pribadi yang tidak dibutuhkan; pertanyaan sensitif harus punya tujuan, proteksi, dan reviewer
Safe publicationCase story, poster, modul, dan donor report tidak membuka identitas sensitif tanpa consent; data dapat dianonymize atau diagregasi
GEDSI analysisIndicator tracker memuat disaggregation yang relevan, misalnya gender, usia, lokasi, disabilitas, atau kelompok rentan sesuai desain program
Safeguarding referralJika monitoring/evaluasi menemukan concern safeguarding, enumerator/KMEL tidak melakukan investigasi sendiri; laporan masuk jalur focal point
Data archiveClose-out archive membedakan public/internal/restricted/confidential dan mengunci akses setelah final report

9. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Data tersebar dan sulit ditemukanTaxonomy, naming convention, data register
Data lama hilangArchive rescue and exit handover
Klaim donor tanpa buktiEvidence pack checklist and QA
Laporan terlambatReporting calendar and SLA
TOR review tersangkut emailTracker/workflow and escalation
Data kualitatif tidak konsistenQualitative toolbox and training
Tools beda antar landscapeKMEL clearance for forms
Data sensitif bocorClassification, role-based access, breach response
Pembelajaran tidak menyebarQuarterly learning forum and knowledge pipeline
KMEL bottleneckFocal point per landscape and role clarity

10. Approval matrix

AktivitasDriverReviewer/ConsultedApproverEvidence
MEL setupKMELPartnership, ProgramKMEL LeadSetup checklist
MEL planKMELAdvisor, Program, FinanceKMEL Lead + Program LeadMEL plan
Indicator definitionKMELAdvisor, donor if neededKMEL LeadIndicator sheet
New data collection toolData Officer/KMELProgram/LandscapeKMEL LeadTool approval
TOR KMEL reviewProgram/LandscapeKMEL, AdvisorBudget Holder/Program LeadReview log
Monthly monitoring reportLandscapeKMELProgram Lead acknowledgesMonthly report
Donor narrative reportKMELProgram, Advisor, Finance, PartnershipDirector/delegated signatoryReport clearance
Evidence exceptionProgram/KMELAdvisorDirector/Program Lead per riskException note
Knowledge product internalKMELProgram/AdvisorKMEL LeadProduct draft
Knowledge product externalKMEL/CommsProgram, Safeguarding if neededDirector/delegated comms approverPublication approval
Data access restrictedRequesterKMEL/Data ownerKMEL Lead/Data ownerAccess log

11. Minimum templates

  1. Grant KMEL setup checklist.
  2. MEL plan template.
  3. Indicator reference sheet.
  4. Data collection protocol.
  5. Kobo/GIS form approval checklist.
  6. Monthly landscape report.
  7. Evidence pack checklist.
  8. Donor reporting calendar.
  9. Donor report clearance sheet.
  10. Evaluation workshop template.
  11. After-action review template.
  12. Knowledge product brief.
  13. Data archive register.
  14. Data access request form.
  15. Data breach/incident report.

12. KPI and management review

KPITarget awal
MEL plan completed after grant startWithin 30 working days
Monthly landscape report submitted on time90 percent
Donor report submitted on time100 percent
Indicators with reference sheet100 percent
Claims with complete evidence pack95 percent
Quarterly learning forum held4 per year
Data collection tools approved by KMEL100 percent
Close-out archive completedWithin 30 working days after final report

13. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Tidak ada SOP KMELFungsi penting berjalan tacit/person-basedModul KMEL lengkap dibuat
Data program tidak diaturData tersebar di Drive/peroranganTaxonomy, naming convention, data register
Keamanan data tidak diaturRisiko kebocoran data masyarakat/donor/lokasiData classification and access control
TOR review via email tanpa SLA efektifReview bisa sebulan dan kegiatan terlambatSLA 7 hari, tracker, reminder, escalation
Evidence pack belum standarRisiko donor query dan klaim tidak terbuktiEvidence checklist per output/indikator
Knowledge sharing ad hocPembelajaran tidak menyebarLearning calendar and product pipeline
Tools data antar landscape bisa berbedaData sulit dibandingkanKMEL approval for forms and indicator reference

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
SOP 06

Data Security

Ringkasan eksekutif Data Security, dengan opsi membaca full SOP classification, access control, storage, retention, backup, dan incident response.

GoalLeast privilege, secure by default
Executive Summary

Data Security menjadi SOP lintas fungsi untuk melindungi data donor, keuangan, HR, masyarakat, GIS, safeguarding case, dan aset digital organisasi. Prinsip utamanya adalah data classification, least privilege access, secure storage, backup, retention, offboarding, dan incident response yang jelas.

Workflow Utama Data Security
01

Data created / received

02

Classify data

03

Assign owner and storage location

04

Set access by role

05

Use / process / share data

06

Periodic access and quality review

07

Backup and retention

08

Archive / delete / anonymize

09

Incident suspected

10

Report within 24 hours

11

Contain, assess, notify, corrective action

Keputusan eksekutif

  • Tetapkan klasifikasi data: public, internal, confidential, restricted, dan safeguarding-sensitive.
  • Akses sistem mengikuti role-based access dan direview minimal triwulanan.
  • Offboarding digital wajib selesai sebelum atau pada hari terakhir staf/konsultan.

Kontrol kunci

  • Digital asset/admin register untuk email, cloud drive, donor portal, Kobo, GIS, finance, dan social media.
  • MFA wajib untuk akun penting jika tersedia, terutama admin dan donor platform.
  • Incident/breach response mengatur containment, escalation, documentation, notification, dan corrective action.

Output minimum

  • Data classification matrix, access request log, admin register.
  • Quarterly access review, backup/retention schedule.
  • Offboarding access checklist dan breach incident log.

Risiko yang ditutup

  • Data masyarakat, donor, keuangan, HR, atau safeguarding bocor ke pihak tidak berwenang.
  • Akun admin disusupi atau akses staf lama masih aktif.
  • Data historis hilang dan organisasi tidak bisa membuktikan capaian lama.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - Data Security

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Menyimpan dan melakukan backup data Data organisasi tersimpan di lokasi resmi, terstruktur, terlindungi, dan bisa dipulihkan jika terjadi kehilangan.
  1. Klasifikasikan data menjadi public, internal, confidential, restricted, dan safeguarding-sensitive.
  2. Simpan data kerja di shared drive resmi, bukan perangkat pribadi atau akun personal.
  3. Gunakan struktur folder dan naming convention per grant, fungsi, landscape, dan tahun.
  4. Atur backup untuk data kritikal dan uji pemulihan minimal semesteran.
  5. Tetapkan retention schedule agar data yang harus disimpan tidak terhapus terlalu cepat dan data usang tidak menumpuk.
02 Mencegah kebocoran data Risiko data donor, HR, keuangan, komunitas, GIS, dan safeguarding bocor dapat dicegah dan direspons cepat.
  1. Wajibkan MFA untuk akun admin, email organisasi, donor portal, cloud drive, dan sistem keuangan bila tersedia.
  2. Gunakan least privilege access: staf hanya mendapat akses sesuai peran dan durasi kebutuhan.
  3. Hindari pengiriman data sensitif melalui kanal tidak aman; gunakan link dengan permission terbatas dan expiry jika tersedia.
  4. Lakukan security briefing saat onboarding dan refresh tahunan.
  5. Jika ada dugaan breach, lakukan containment, dokumentasi, eskalasi, dan corrective action sesuai incident response.
03 Manajemen akses data Hak akses jelas, dapat diaudit, dan segera dicabut ketika staf berganti peran atau keluar.
  1. Kelola access request melalui form/log yang mencatat requester, alasan, folder/sistem, level akses, approver, dan tanggal berlaku.
  2. Review akses triwulanan untuk drive, email group, finance system, donor portal, Kobo/GIS, dan social media.
  3. Gunakan role-based access untuk fungsi seperti Finance, SDM, KMEL, Partnership, dan landscape team.
  4. Cabut akses pada offboarding dan catat bukti pencabutan di checklist SDM.
  5. Simpan admin credential dalam mekanisme yang disetujui organisasi, bukan catatan pribadi.
KPI

Matriks KPI - Data Security

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Access review completion % sistem/folder kritikal yang direview aksesnya setiap triwulan 100% Triwulanan Access review log Data Security
Offboarding access closure % departing staff yang akses digitalnya dicabut tepat waktu 100% Bulanan Offboarding access checklist Data Security + HR
Backup restore test Jumlah uji pemulihan data kritikal yang berhasil >=2/tahun Semesteran Backup test log Data Security
Security incident response % insiden yang memiliki containment, root cause, dan corrective action terdokumentasi 100% Per insiden Incident log Data Security + Direktur
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_data_security_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_data_security_playbook_v2.md

SOP / Playbook Data Security v2

Dokumen: SOP dan Playbook Data Security
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur klasifikasi data, kontrol akses, penyimpanan, backup, data sharing, retention, offboarding access, incident response, dan governance aset digital YHB. Tujuannya memastikan data staf, donor, vendor, masyarakat dampingan, bukti program, peta/lokasi sensitif, dan dokumen kelembagaan terlindungi, mudah ditemukan oleh pihak berwenang, dan siap diaudit.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Google Drive, email, website, media sosial, Kobo/Survey123/GIS, Synology/backup, laptop, hard disk, dan sistem operasional lain.
  • Data HR, finance, procurement/logistics, donor/grant, KMEL, safeguarding, GEDSI, communications, dan governance.
  • Staf, konsultan, volunteer, intern, vendor, partner, dan pihak ketiga yang mendapat akses data YHB.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Personal file disimpan terkunci; finance document retention; kode etik dan confidentiality umumBelum mengatur data digital, role-based access, cloud drive, admin website, breach response, dan data classificationMembentuk SOP data security lintas fungsi
Draft 2022Ada update governance/komunikasi, tetapi data security belum menjadi modulKontrol digital masih tersebar dan personalDigital asset register, access review, retention schedule, and breach protocol
Interview Regista KMELData program disimpan di Google Drive dan Synology, tetapi belum terorganisir; keamanan data belum diaturData historis hilang, data tersebar, backup belum governedTaxonomy, backup owner, access matrix, archive register

4. Principles

  1. Least privilege: akses diberikan sesuai kebutuhan kerja, bukan jabatan umum.
  2. Secure by default: data restricted/confidential tidak dibuka publik dan tidak dibagikan melalui link bebas.
  3. One source of truth: data kelembagaan harus berada di folder/sistem resmi, bukan perangkat personal.
  4. Traceable access: akses penting harus tercatat, disetujui, direview, dan dicabut saat tidak diperlukan.
  5. Data minimization: hanya kumpulkan data yang dibutuhkan dan punya tujuan jelas.
  6. Timely response: insiden data harus dilaporkan maksimal 24 jam sejak diketahui.
  7. Respect and protection: data masyarakat dampingan, anak, kelompok rentan, dan pelapor kasus harus diperlakukan sebagai restricted/confidential.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Data created / received

02

Classify data

03

Assign owner and storage location

04

Set access by role

05

Use / process / share data

06

Periodic access and quality review

07

Backup and retention

08

Archive / delete / anonymize

09

Incident suspected

10

Report within 24 hours

11

Contain, assess, notify, corrective action

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Menyimpan dan melakukan backup data

Outcome yang diharapkan: Data organisasi tersimpan di lokasi resmi, terstruktur, terlindungi, dan bisa dipulihkan jika terjadi kehilangan.

PIC utama: Data Security Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Data classification matrix.
  • Access request/offboarding request.
  • System atau folder owner approval.
  • Admin register.
  • Incident atau backup log bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Klasifikasikan data menjadi public, internal, confidential, restricted, dan safeguarding-sensitive.
  2. Simpan data kerja di shared drive resmi, bukan perangkat pribadi atau akun personal.
  3. Gunakan struktur folder dan naming convention per grant, fungsi, landscape, dan tahun.
  4. Atur backup untuk data kritikal dan uji pemulihan minimal semesteran.
  5. Tetapkan retention schedule agar data yang harus disimpan tidak terhapus terlalu cepat dan data usang tidak menumpuk.

Output dan evidence wajib:

  • Access/admin/incident/backup log update.
  • Evidence approval.
  • Review atau closure note.
  • Corrective action bila ada.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Least privilege menjadi prinsip default untuk semua akses.
  • Restricted dan safeguarding-sensitive data hanya dibagi berdasarkan need-to-know.
  • Incident response harus mencatat containment, root cause, corrective action, dan owner.

KPI terkait: Access review completion, Backup restore test.

5A.2 Mencegah kebocoran data

Outcome yang diharapkan: Risiko data donor, HR, keuangan, komunitas, GIS, dan safeguarding bocor dapat dicegah dan direspons cepat.

PIC utama: Data Security Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Data classification matrix.
  • Access request/offboarding request.
  • System atau folder owner approval.
  • Admin register.
  • Incident atau backup log bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Wajibkan MFA untuk akun admin, email organisasi, donor portal, cloud drive, dan sistem keuangan bila tersedia.
  2. Gunakan least privilege access: staf hanya mendapat akses sesuai peran dan durasi kebutuhan.
  3. Hindari pengiriman data sensitif melalui kanal tidak aman; gunakan link dengan permission terbatas dan expiry jika tersedia.
  4. Lakukan security briefing saat onboarding dan refresh tahunan.
  5. Jika ada dugaan breach, lakukan containment, dokumentasi, eskalasi, dan corrective action sesuai incident response.

Output dan evidence wajib:

  • Access/admin/incident/backup log update.
  • Evidence approval.
  • Review atau closure note.
  • Corrective action bila ada.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Least privilege menjadi prinsip default untuk semua akses.
  • Restricted dan safeguarding-sensitive data hanya dibagi berdasarkan need-to-know.
  • Incident response harus mencatat containment, root cause, corrective action, dan owner.

KPI terkait: Access review completion, Offboarding access closure, Security incident response.

5A.3 Manajemen akses data

Outcome yang diharapkan: Hak akses jelas, dapat diaudit, dan segera dicabut ketika staf berganti peran atau keluar.

PIC utama: Data Security Lead. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Data classification matrix.
  • Access request/offboarding request.
  • System atau folder owner approval.
  • Admin register.
  • Incident atau backup log bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Kelola access request melalui form/log yang mencatat requester, alasan, folder/sistem, level akses, approver, dan tanggal berlaku.
  2. Review akses triwulanan untuk drive, email group, finance system, donor portal, Kobo/GIS, dan social media.
  3. Gunakan role-based access untuk fungsi seperti Finance, SDM, KMEL, Partnership, dan landscape team.
  4. Cabut akses pada offboarding dan catat bukti pencabutan di checklist SDM.
  5. Simpan admin credential dalam mekanisme yang disetujui organisasi, bukan catatan pribadi.

Output dan evidence wajib:

  • Access/admin/incident/backup log update.
  • Evidence approval.
  • Review atau closure note.
  • Corrective action bila ada.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Least privilege menjadi prinsip default untuk semua akses.
  • Restricted dan safeguarding-sensitive data hanya dibagi berdasarkan need-to-know.
  • Incident response harus mencatat containment, root cause, corrective action, dan owner.

KPI terkait: Access review completion, Offboarding access closure.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Access review completion% sistem/folder kritikal yang direview aksesnya setiap triwulan100%TriwulananAccess review logData SecurityPIC mengambil data dari Access review log pada akhir periode Triwulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Offboarding access closure% departing staff yang akses digitalnya dicabut tepat waktu100%BulananOffboarding access checklistData Security + HRPIC mengambil data dari Offboarding access checklist pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Backup restore testJumlah uji pemulihan data kritikal yang berhasil>=2/tahunSemesteranBackup test logData SecurityPIC mengambil data dari Backup test log pada akhir periode Semesteran, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=2/tahun, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Security incident response% insiden yang memiliki containment, root cause, dan corrective action terdokumentasi100%Per insidenIncident logData Security + DirekturPIC mengambil data dari Incident log pada akhir periode Per insiden, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Data classification

Kelas dataContohAkses minimum
PublicPublikasi resmi, materi kampanye, laporan publik, konten website yang approvedTerbuka setelah approval komunikasi
InternalSOP, workplan umum, template, notulen non-sensitif, dashboard agregatStaf/konsultan terkait
RestrictedData donor/grant, kontrak, vendor, budget, daftar hadir, data peserta, lokasi program, peta/polygon, evidence belum publikRole-based access
ConfidentialPersonal file, payroll, pajak, kasus safeguarding/grievance, investigasi fraud, data anak/korban/pelapor, kredensial adminAuthorized only, need-to-know

7. Procedure and guidelines

7.1 Data owner and storage

Setiap dataset/dokumen penting harus memiliki owner:

  • HR data: SDM.
  • Payroll and finance: Finance.
  • Vendor/procurement/asset: Logistik dengan Finance.
  • Grant/proposal/donor: Partnership dengan Finance/KMEL.
  • Program evidence and indicator data: KMEL.
  • Safeguarding case data: Safeguarding focal point/authorized case owner.
  • Website/social/admin account: Communications/Data Security owner.

Data kerja wajib disimpan di folder resmi YHB. Perangkat personal hanya boleh menjadi working copy sementara dan harus dihapus setelah upload final.

7.2 Access request and approval

Akses baru harus mencatat:

  • Nama requester.
  • Tujuan akses.
  • Dataset/folder/sistem yang diminta.
  • Level akses: viewer/commenter/editor/admin.
  • Durasi akses.
  • Approver.

Admin akses tidak boleh diberikan permanen tanpa kebutuhan jelas. Akses admin website, domain, email, dan cloud storage direview minimal triwulanan.

7.3 Password, MFA, and admin account

Standar minimum:

  • MFA wajib untuk email, cloud drive, website, donor platform, dan admin tools.
  • Password tidak boleh dibagikan melalui chat/email tanpa proteksi.
  • Shared account dihindari. Jika tidak dapat dihindari, harus ada owner, log penggunaan, dan rotasi password.
  • Akun vendor/third party diberi akses terbatas dan waktu akses.
7.4 Data sharing

Sebelum data dibagikan:

  • Cek klasifikasi.
  • Cek kebutuhan dan penerima.
  • Hapus/anonymize personal data jika tidak diperlukan.
  • Gunakan link restricted, bukan public link, untuk data internal/restricted.
  • Catat sharing data restricted/confidential.

Data anak, korban, pelapor, atau komunitas rentan tidak boleh dibagikan tanpa persetujuan dan dasar kebutuhan yang sah.

7.5 Backup and retention

Backup minimum:

  • Data program dan operasional penting dimirror ke backup/Synology sesuai jadwal.
  • Restore test dilakukan minimal triwulanan.
  • Owner memastikan folder archive final tidak berubah tanpa approval.

Retention schedule draft:

Jenis dataRetensi minimumCatatan
Finance and audit file7 tahun atau sesuai donor/hukumYang lebih ketat berlaku
HR personal fileSelama bekerja + sesuai hukum ketenagakerjaanAkses confidential
Grant contract/report7 tahun atau sesuai donorArchive locked
Program evidence7 tahun atau sesuai donorData sensitif dianonymize bila perlu
Safeguarding case fileSesuai policy khusus dan legal adviceConfidential, restricted case owner
Public communication assetSelama relevanPastikan consent/IP
7.6 Offboarding access

Saat staf/konsultan/volunteer keluar:

  • SDM memicu access offboarding checklist.
  • Supervisor/KMEL memastikan data kerja sudah diserahkan.
  • Logistik memastikan perangkat/aset kembali.
  • Finance memastikan tidak ada advance/settlement tertunda.
  • Admin mencabut email, drive, donor platform, website, dan tools lain.
7.7 Data incident and breach response

Insiden data meliputi:

  • Salah kirim data restricted/confidential.
  • Link publik tidak sengaja.
  • Akun hilang/terkompromi.
  • Laptop/hard disk hilang.
  • Website/admin disusupi.
  • Data beneficiary/safeguarding terakses pihak tidak berwenang.

Alur respons:

  1. Laporkan maksimal 24 jam ke Data Security owner dan supervisor.
  2. Contain: cabut akses/link, reset password, suspend account, amankan perangkat.
  3. Assess: jenis data, jumlah data, pihak terdampak, risiko harm.
  4. Notify: Direktur, owner data, donor/legal jika diwajibkan.
  5. Corrective action: pemulihan, perbaikan akses, training, incident log.
  6. Lesson learned: update SOP/checklist jika perlu.

8. Integrasi data security ke 7 SOP

BidangKontrol data security wajib
PartnershipDonor pipeline, proposal, kontrak, dan negotiation log disimpan di folder restricted; akses donor platform dicatat; data sharing ke donor diverifikasi
LogistikVendor master, rekening vendor, COI, procurement file, dan asset register restricted; akses vendor data dibatasi; disposal perangkat digital harus wipe data
SDMPersonal file, payroll input, performance, grievance, dan kontrak confidential; offboarding akses wajib sebelum final clearance
KeuanganPayment voucher, bank details, payroll, tax, advance aging, dan audit file restricted/confidential; rekening baru diverifikasi
KMELData masyarakat, daftar hadir, peta lokasi sensitif, Kobo/GIS, dan raw data restricted; publikasi harus anonymize data personal
Data SecurityMenjadi owner framework, access matrix, incident log, dan access review
Safeguarding-GEDSICase file, pelapor, korban, referral, dan investigasi confidential; akses hanya case owner/focal point

9. Outputs

OutputOwnerFrequency
Data classification matrixData Security ownerAnnual/review
Digital asset/admin registerData Security/CommsQuarterly
Access request logData/system ownerOngoing
Access review reportData Security ownerQuarterly
Backup and restore logData Security/IT ownerQuarterly
Retention scheduleGovernance/Data ownerAnnual
Offboarding access checklistSDM/Data ownerPer exit
Incident/breach logData Security ownerOngoing

10. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Data masyarakat bocorClassification, access control, anonymization
Akun admin disusupiMFA, admin register, quarterly review
Data hilangBackup schedule and restore test
Data lama tersimpan di orangData rescue and exit handover
Salah share linkRestricted link default and sharing checklist
Vendor/staf keluar masih punya aksesOffboarding access checklist
Case safeguarding terbukaConfidential case folder and strict need-to-know

11. Approval matrix

AktivitasDriverReviewer/ConsultedApproverEvidence
Data classificationData ownerData Security ownerFunction ManagerClassification log
New access restrictedRequesterData ownerFunction Manager/Data ownerAccess request
Admin accessSystem ownerData Security ownerDirector/delegated authorityAdmin register
Public sharingContent ownerComms, data ownerComms approver/DirectorPublication approval
Confidential data accessRequesterCase/data ownerDirector or authorized case ownerAccess log
Data deletion/archiveData ownerData Security ownerFunction ManagerArchive/deletion log
Incident responseReporter/Data Security ownerData owner, DirectorDirector for material incidentIncident report

12. Minimum templates

  1. Data classification guide.
  2. Access request form.
  3. Digital asset/admin register.
  4. Quarterly access review checklist.
  5. Data sharing checklist.
  6. Retention schedule.
  7. Offboarding access checklist.
  8. Data breach/incident report.
  9. Backup and restore test log.

13. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Data security belum menjadi modulKontrol digital bergantung kebiasaanSOP Data Security dibuat sebagai modul lintas fungsi
Cloud drive/admin access belum diregisterRisiko akses tidak sah dan sulit offboardingDigital asset/admin register
Tidak ada data classificationSemua data diperlakukan samaPublic/Internal/Restricted/Confidential classification
Tidak ada breach responseInsiden berisiko terlambat ditangani24-hour reporting and incident workflow
Backup belum governedData historis rawan hilangBackup owner, schedule, and restore test

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
SOP 07

Safeguarding-GEDSI

Ringkasan eksekutif Safeguarding-GEDSI, dengan opsi membaca full SOP prevention, reporting, case handling, referral, dan GEDSI checklist.

GoalDo no harm, survivor-centered, inclusive by design
Executive Summary

Safeguarding-GEDSI perlu turun dari statement kebijakan menjadi playbook operasional. SOP ini memastikan prevention, reporting channel, case intake, classification, survivor support, referral, anti-retaliation, confidentiality, dan GEDSI checklist masuk ke program, HR, procurement, partnership, KMEL, dan finance.

Workflow Utama Safeguarding-GEDSI
01

Safeguarding/GEDSI risk screening

02

Prevention controls in activity/contract/onboarding

03

Activity / work / partnership runs

04

Concern or incident reported

05

Immediate safety and confidentiality check

06

Case classification

07

Emergency / serious harm?

08

Immediate escalation and referral support

09

Case handling plan

10

Investigation / support / corrective action

11

Decision and closure

12

Learning and prevention update

Keputusan eksekutif

  • Reporting channel dan case owner harus jelas, aman, mudah diakses, dan diketahui staf/mitra.
  • Serious case memakai escalation pathway terbatas dengan prinsip need-to-know.
  • GEDSI checklist menjadi bagian dari desain kegiatan, proposal, data collection, procurement, dan partner/vendor engagement.

Kontrol kunci

  • Case intake memisahkan fakta awal, risiko keselamatan, kebutuhan survivor, referral, dan tindakan segera.
  • Data kasus disimpan restricted, dianonimkan bila perlu, dan tidak dibagikan tanpa dasar need-to-know.
  • Vendor, partner, enumerator, dan konsultan menerima clause/code of conduct safeguarding yang proporsional.

Output minimum

  • Risk screening, reporting channel register, case intake form.
  • Case handling plan, referral map, anti-retaliation note.
  • GEDSI checklist dan safeguarding clause untuk partner/vendor.

Risiko yang ditutup

  • Under-reporting karena kanal tidak jelas atau pelapor takut retaliation.
  • Penanganan kasus membahayakan survivor atau membuka data sensitif.
  • Kegiatan, procurement, atau data collection tidak inklusif dan menimbulkan harm.
Jobs to be Done

Jobs to be Done - Safeguarding-GEDSI

Tugas utama divisi yang menjadi dasar KPI. Buka setiap item untuk melihat sub-SOP teknis langkah demi langkah.

01 Sosialisasi pencegahan safeguarding Staf, mitra, vendor, konsultan, dan enumerator memahami standar perilaku, kanal pelaporan, dan prinsip do no harm.
  1. Masukkan safeguarding, anti-harassment, anti-trafficking, child safe, dan GEDSI ke onboarding wajib.
  2. Berikan briefing singkat sebelum kegiatan lapangan, data collection, donor visit, atau kerja dengan anak/kelompok rentan.
  3. Pastikan code of conduct atau safeguarding clause masuk ke kontrak mitra, vendor, konsultan, dan enumerator sesuai risiko.
  4. Gunakan bahasa lokal dan kanal yang aman agar komunitas tahu cara melapor.
  5. Catat peserta sosialisasi dan evaluasi pemahaman minimal setahun sekali.
02 Complaint handling Keluhan diterima melalui kanal aman, dipilah berdasarkan risiko, dan ditindaklanjuti tanpa retaliation.
  1. Sediakan kanal pelaporan yang mudah diakses, termasuk opsi anonim bila memungkinkan.
  2. Pisahkan keluhan umum, grievance HR, fraud, safeguarding case, dan emergency safety issue.
  3. Catat case intake dengan prinsip need-to-know dan lindungi identitas pelapor/survivor.
  4. Tentukan case owner, timeline respons, referral, dan escalation pathway.
  5. Berikan update aman kepada pelapor sesuai kebutuhan tanpa membuka informasi sensitif.
03 Investigasi dan rujukan kasus Kasus ditangani survivor-centered, confidential, dan tidak memperburuk risiko keselamatan.
  1. Lakukan risk assessment awal: keselamatan survivor, pelapor, saksi, staf, dan komunitas.
  2. Batasi akses informasi kepada tim kecil yang memiliki mandat jelas.
  3. Tentukan apakah kasus perlu investigasi internal, rujukan layanan, pelaporan ke otoritas, atau tindakan administratif.
  4. Dokumentasikan keputusan, bukti, interview, dan tindakan korektif secara aman.
  5. Tutup kasus dengan management review dan pembelajaran sistemik tanpa membuka identitas pihak sensitif.
04 Pengarusutamaan GEDSI Program, procurement, data collection, dan komunikasi dirancang inklusif sejak awal.
  1. Gunakan GEDSI checklist pada desain aktivitas, proposal, TOR, procurement, dan tools data collection.
  2. Identifikasi hambatan partisipasi berbasis gender, disabilitas, usia, bahasa, lokasi, dan status sosial.
  3. Rancang mitigasi seperti lokasi ramah akses, jadwal yang aman, fasilitator lokal, dan kanal feedback.
  4. Pantau data terpilah sesuai kebutuhan dan etika data.
  5. Masukkan temuan GEDSI ke learning review dan perbaikan SOP.
KPI

Matriks KPI - Safeguarding-GEDSI

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Safeguarding briefing coverage % staf, konsultan, enumerator, vendor high-risk, dan mitra yang mendapat briefing 100% Kuartalan Training attendance + contract clause log Safeguarding Focal Point
Complaint response timeliness % keluhan yang menerima triage awal dalam waktu yang ditetapkan >=95% Bulanan Complaint register Safeguarding Focal Point
Case confidentiality compliance % case file restricted dengan akses need-to-know dan dokumentasi aman 100% Per kasus Restricted case register Safeguarding + Data Security
GEDSI checklist adoption % desain kegiatan/proposal/TOR high-risk yang memakai GEDSI checklist >=90% Kuartalan GEDSI checklist register Program + Safeguarding
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_safeguarding_gedsi_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_safeguarding_gedsi_playbook_v2.md

SOP / Playbook Safeguarding-GEDSI v2

Dokumen: SOP dan Playbook Safeguarding-GEDSI
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur pencegahan, pelaporan, respons, dan pembelajaran terkait safeguarding, SEAH, perlindungan anak, anti-trafficking, anti-retaliation, dan mainstreaming GEDSI. Tujuannya memastikan semua aktivitas YHB melindungi staf, konsultan, volunteer, peserta kegiatan, masyarakat dampingan, anak, kelompok rentan, dan partner dari harm, diskriminasi, eksploitasi, pelecehan, serta ketidakadilan akses.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Semua staf, konsultan, volunteer, intern, enumerator, tenaga harian, vendor, partner, dan sub-grantee.
  • Semua kegiatan kantor, lapangan, perjalanan, workshop, data collection, publikasi, procurement, rekrutmen, dan donor engagement.
  • Semua laporan terkait safeguarding, SEAH, child protection, trafficking, discrimination, harassment, abuse of power, retaliation, dan exclusion risk.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Anti-pelecehan, pelecehan seksual, prosedur keluhan, whistleblowing dasar, kode etikBelum survivor-centered, belum punya SLA respons, case classification, referral, confidentiality protocolMembentuk case handling flow dan safeguarding operating procedure
Child Safe / Anti-TraffickingKomitmen policy levelBelum menjadi instruksi operasional lintas HR, procurement, KMEL, field workIntegrasi ke kontrak, onboarding, vendor, data collection, dan field activity
Draft 2022Ada perhatian pada volunteer/magang dan keamananDetail duty of care dan GEDSI checklist belum matangGEDSI checklist dan safeguarding clause lintas fungsi

4. Principles

  1. Do no harm: keputusan organisasi tidak boleh menambah risiko terhadap korban/pelapor/komunitas.
  2. Survivor-centered: keselamatan, martabat, pilihan, dan kerahasiaan survivor menjadi prioritas.
  3. Confidential and need-to-know: informasi kasus hanya dibuka kepada pihak yang perlu tahu.
  4. Anti-retaliation: pelapor, saksi, dan pendukung tidak boleh mendapat pembalasan.
  5. Inclusion by design: akses, bahasa, lokasi, waktu, dan metode kegiatan harus mempertimbangkan GEDSI sejak perencanaan.
  6. Accountability: semua laporan ditangani dengan SLA, case owner, dan dokumentasi aman.
  7. Partner compliance: vendor/partner yang bekerja dengan YHB wajib mematuhi standar safeguarding-GEDSI minimum.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Safeguarding/GEDSI risk screening

02

Prevention controls in activity/contract/onboarding

03

Activity / work / partnership runs

04

Concern or incident reported

05

Immediate safety and confidentiality check

06

Case classification

07

Emergency / serious harm?

08

Immediate escalation and referral support

09

Case handling plan

10

Investigation / support / corrective action

11

Decision and closure

12

Learning and prevention update

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian v2 ini menerjemahkan business process menjadi daftar pekerjaan utama divisi. Setiap JTBD menjadi dasar penyusunan KPI, pembagian PIC, dokumen kontrol, dan review kinerja. JTBD tidak menggantikan prosedur detail pada bagian berikutnya; JTBD menjadi pintu masuk praktis agar staf baru memahami pekerjaan inti, urutan kerja, bukti yang harus disimpan, dan indikator yang akan diukur.

5A.1 Sosialisasi pencegahan safeguarding

Outcome yang diharapkan: Staf, mitra, vendor, konsultan, dan enumerator memahami standar perilaku, kanal pelaporan, dan prinsip do no harm.

PIC utama: Safeguarding-GEDSI Focal Point. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Safeguarding/GEDSI risk screening.
  • Complaint atau case intake bila ada.
  • Code of conduct dan clause terkait.
  • Referral map.
  • Restricted case register bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Masukkan safeguarding, anti-harassment, anti-trafficking, child safe, dan GEDSI ke onboarding wajib.
  2. Berikan briefing singkat sebelum kegiatan lapangan, data collection, donor visit, atau kerja dengan anak/kelompok rentan.
  3. Pastikan code of conduct atau safeguarding clause masuk ke kontrak mitra, vendor, konsultan, dan enumerator sesuai risiko.
  4. Gunakan bahasa lokal dan kanal yang aman agar komunitas tahu cara melapor.
  5. Catat peserta sosialisasi dan evaluasi pemahaman minimal setahun sekali.

Output dan evidence wajib:

  • Risk screening, intake, atau case note yang aman.
  • Referral/action plan bila relevan.
  • GEDSI atau safeguarding checklist.
  • Learning note yang dianonimkan bila aman.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Semua proses mengikuti prinsip survivor-centered, do no harm, confidentiality, dan anti-retaliation.
  • Informasi kasus dibatasi hanya untuk pihak need-to-know.
  • GEDSI checklist dipakai sejak desain kegiatan, bukan setelah kegiatan berjalan.

KPI terkait: Safeguarding briefing coverage, Case confidentiality compliance, GEDSI checklist adoption.

5A.2 Complaint handling

Outcome yang diharapkan: Keluhan diterima melalui kanal aman, dipilah berdasarkan risiko, dan ditindaklanjuti tanpa retaliation.

PIC utama: Safeguarding-GEDSI Focal Point. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Safeguarding/GEDSI risk screening.
  • Complaint atau case intake bila ada.
  • Code of conduct dan clause terkait.
  • Referral map.
  • Restricted case register bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Sediakan kanal pelaporan yang mudah diakses, termasuk opsi anonim bila memungkinkan.
  2. Pisahkan keluhan umum, grievance HR, fraud, safeguarding case, dan emergency safety issue.
  3. Catat case intake dengan prinsip need-to-know dan lindungi identitas pelapor/survivor.
  4. Tentukan case owner, timeline respons, referral, dan escalation pathway.
  5. Berikan update aman kepada pelapor sesuai kebutuhan tanpa membuka informasi sensitif.

Output dan evidence wajib:

  • Risk screening, intake, atau case note yang aman.
  • Referral/action plan bila relevan.
  • GEDSI atau safeguarding checklist.
  • Learning note yang dianonimkan bila aman.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Semua proses mengikuti prinsip survivor-centered, do no harm, confidentiality, dan anti-retaliation.
  • Informasi kasus dibatasi hanya untuk pihak need-to-know.
  • GEDSI checklist dipakai sejak desain kegiatan, bukan setelah kegiatan berjalan.

KPI terkait: Safeguarding briefing coverage, Complaint response timeliness, Case confidentiality compliance.

5A.3 Investigasi dan rujukan kasus

Outcome yang diharapkan: Kasus ditangani survivor-centered, confidential, dan tidak memperburuk risiko keselamatan.

PIC utama: Safeguarding-GEDSI Focal Point. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Safeguarding/GEDSI risk screening.
  • Complaint atau case intake bila ada.
  • Code of conduct dan clause terkait.
  • Referral map.
  • Restricted case register bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Lakukan risk assessment awal: keselamatan survivor, pelapor, saksi, staf, dan komunitas.
  2. Batasi akses informasi kepada tim kecil yang memiliki mandat jelas.
  3. Tentukan apakah kasus perlu investigasi internal, rujukan layanan, pelaporan ke otoritas, atau tindakan administratif.
  4. Dokumentasikan keputusan, bukti, interview, dan tindakan korektif secara aman.
  5. Tutup kasus dengan management review dan pembelajaran sistemik tanpa membuka identitas pihak sensitif.

Output dan evidence wajib:

  • Risk screening, intake, atau case note yang aman.
  • Referral/action plan bila relevan.
  • GEDSI atau safeguarding checklist.
  • Learning note yang dianonimkan bila aman.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Semua proses mengikuti prinsip survivor-centered, do no harm, confidentiality, dan anti-retaliation.
  • Informasi kasus dibatasi hanya untuk pihak need-to-know.
  • GEDSI checklist dipakai sejak desain kegiatan, bukan setelah kegiatan berjalan.

KPI terkait: Case confidentiality compliance.

5A.4 Pengarusutamaan GEDSI

Outcome yang diharapkan: Program, procurement, data collection, dan komunikasi dirancang inklusif sejak awal.

PIC utama: Safeguarding-GEDSI Focal Point. PIC utama dapat mendelegasikan langkah operasional, tetapi tetap bertanggung jawab atas kualitas output, kelengkapan bukti, dan tindak lanjut KPI.

Trigger proses: pekerjaan dimulai ketika ada kebutuhan program, donor, manajemen, landscape, atau compliance yang relevan dengan JTBD ini. Trigger harus dicatat dalam tracker/register divisi agar tidak bergantung pada komunikasi personal.

Input minimum:

  • Safeguarding/GEDSI risk screening.
  • Complaint atau case intake bila ada.
  • Code of conduct dan clause terkait.
  • Referral map.
  • Restricted case register bila relevan.

Langkah teknis:

  1. Gunakan GEDSI checklist pada desain aktivitas, proposal, TOR, procurement, dan tools data collection.
  2. Identifikasi hambatan partisipasi berbasis gender, disabilitas, usia, bahasa, lokasi, dan status sosial.
  3. Rancang mitigasi seperti lokasi ramah akses, jadwal yang aman, fasilitator lokal, dan kanal feedback.
  4. Pantau data terpilah sesuai kebutuhan dan etika data.
  5. Masukkan temuan GEDSI ke learning review dan perbaikan SOP.

Output dan evidence wajib:

  • Risk screening, intake, atau case note yang aman.
  • Referral/action plan bila relevan.
  • GEDSI atau safeguarding checklist.
  • Learning note yang dianonimkan bila aman.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Semua proses mengikuti prinsip survivor-centered, do no harm, confidentiality, dan anti-retaliation.
  • Informasi kasus dibatasi hanya untuk pihak need-to-know.
  • GEDSI checklist dipakai sejak desain kegiatan, bukan setelah kegiatan berjalan.

KPI terkait: Case confidentiality compliance, GEDSI checklist adoption.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI v2 mengukur apakah JTBD benar-benar berjalan, bukan hanya apakah dokumen SOP tersedia. Setiap KPI harus memiliki sumber data, PIC, ritme review, dan tindak lanjut korektif. Jika target tidak tercapai, PIC wajib menjelaskan akar masalah, tindakan perbaikan, dan tanggal review berikutnya.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Safeguarding briefing coverage% staf, konsultan, enumerator, vendor high-risk, dan mitra yang mendapat briefing100%KuartalanTraining attendance + contract clause logSafeguarding Focal PointPIC mengambil data dari Training attendance + contract clause log pada akhir periode Kuartalan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Complaint response timeliness% keluhan yang menerima triage awal dalam waktu yang ditetapkan>=95%BulananComplaint registerSafeguarding Focal PointPIC mengambil data dari Complaint register pada akhir periode Bulanan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=95%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
Case confidentiality compliance% case file restricted dengan akses need-to-know dan dokumentasi aman100%Per kasusRestricted case registerSafeguarding + Data SecurityPIC mengambil data dari Restricted case register pada akhir periode Per kasus, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target 100%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
GEDSI checklist adoption% desain kegiatan/proposal/TOR high-risk yang memakai GEDSI checklist>=90%KuartalanGEDSI checklist registerProgram + SafeguardingPIC mengambil data dari GEDSI checklist register pada akhir periode Kuartalan, menghitung indikator sesuai definisi ini, membandingkan hasil dengan target >=90%, lalu mencatat status hijau/kuning/merah beserta corrective action dalam review divisi.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Procedure and guidelines

6.1 Prevention and risk screening

Setiap program/kegiatan harus melakukan screening sederhana:

  • Apakah melibatkan anak atau kelompok rentan?
  • Apakah ada interaksi langsung vendor/konsultan dengan masyarakat?
  • Apakah ada pengambilan data pribadi, foto, cerita, atau lokasi sensitif?
  • Apakah kegiatan membutuhkan perjalanan/akomodasi bersama?
  • Apakah ada hambatan akses bagi perempuan, penyandang disabilitas, kelompok adat/lokal, anak muda, atau kelompok rentan lain?

Jika risiko sedang/tinggi, TOR harus memuat mitigasi safeguarding-GEDSI.

6.2 Mandatory standards

Standar minimum:

  • Semua staf/konsultan/volunteer menandatangani kode etik dan safeguarding commitment.
  • Onboarding wajib memuat safeguarding, anti-SEAH, anti-retaliation, child safe, dan GEDSI basics.
  • Vendor/partner yang berinteraksi dengan komunitas wajib menerima safeguarding clause.
  • Foto, cerita, dan data pribadi harus menggunakan consent yang sesuai konteks.
  • Kegiatan harus menyediakan mekanisme pengaduan yang dapat diakses peserta.
6.3 Reporting channels

Kanal pelaporan harus tersedia untuk:

  • Staf.
  • Konsultan/volunteer/intern.
  • Peserta kegiatan.
  • Masyarakat dampingan.
  • Partner/vendor.

Kanal minimal:

  • Focal point safeguarding.
  • Email/nomor resmi pengaduan.
  • Jalur ke Direktur/Dewan jika subjek laporan adalah atasan atau focal point.
  • Opsi pelaporan oleh pihak ketiga.

Kanal harus disosialisasikan sebelum kegiatan lapangan/workshop yang melibatkan masyarakat.

6.4 Intake and immediate response

Saat laporan diterima:

  1. Dengarkan tanpa menyalahkan.
  2. Pastikan keselamatan langsung.
  3. Jelaskan batas kerahasiaan.
  4. Catat informasi minimum, jangan melakukan interogasi.
  5. Tanya kebutuhan dukungan/referral.
  6. Laporkan ke authorized focal point sesuai SLA.

Informasi minimum:

  • Tanggal/waktu laporan.
  • Jenis concern.
  • Lokasi.
  • Pihak terdampak.
  • Risiko keselamatan segera.
  • Tindakan awal.
6.5 Case classification
KategoriContohRespons
Low concernKetidaknyamanan, akses tidak inklusif, keluhan ringanResolve and document
Moderate concernDiskriminasi, inappropriate behavior, repeated exclusionCase handling plan and corrective action
Serious concernSEAH, kekerasan, eksploitasi, child safeguarding, trafficking, retaliation, fraud linked to abuseImmediate escalation, survivor support, investigation/referral
EmergencyAncaman keselamatan langsung, kekerasan aktif, anak/korban dalam bahayaImmediate safety action and referral
6.6 Case handling

Case handling plan harus mencakup:

  • Case owner.
  • Conflict of interest check.
  • Safety plan.
  • Support/referral option.
  • Investigation approach if needed.
  • Confidential file location.
  • Timeline and update schedule.
  • Closure criteria.

Investigator/handler tidak boleh memiliki konflik kepentingan atau hubungan langsung dengan subjek kasus.

6.7 Referral and survivor support

YHB perlu memiliki referral map per wilayah:

  • Layanan kesehatan.
  • Psikososial/konseling.
  • Bantuan hukum.
  • Layanan perlindungan perempuan/anak.
  • Kontak darurat lokal.

Referral dilakukan dengan consent, kecuali ada kewajiban hukum atau risiko keselamatan langsung yang membutuhkan tindakan segera.

6.8 GEDSI mainstreaming

GEDSI checklist minimum:

  • Peserta: apakah komposisi peserta mempertimbangkan gender, usia, disabilitas, kelompok rentan, dan representasi lokal?
  • Akses: apakah lokasi, waktu, bahasa, transport, konsumsi, toilet, dan akomodasi inklusif?
  • Keputusan: apakah kelompok terdampak punya ruang bicara yang aman?
  • Budget: apakah ada biaya untuk reasonable accommodation?
  • Data: apakah data dipilah secara relevan dan aman?
  • Procurement/vendor: apakah vendor memahami standar perilaku saat berinteraksi dengan komunitas?
  • Communication: apakah materi publik tidak mengeksploitasi atau memberi stigma?
6.9 Closure and learning

Kasus ditutup jika:

  • Risiko keselamatan ditangani.
  • Support/referral ditawarkan.
  • Tindakan korektif selesai atau punya owner.
  • Dokumentasi aman.
  • Pelapor/survivor mendapat update sesuai prinsip confidentiality.

Learning dari kasus digunakan untuk memperbaiki SOP, training, risk screening, atau kontrak, tanpa membuka identitas pihak terkait.

7. Integrasi Safeguarding-GEDSI ke 7 SOP

BidangKontrol Safeguarding-GEDSI wajib
PartnershipDonor/partner due diligence mencakup reputasi safeguarding; proposal memasukkan GEDSI dan budget reasonable accommodation
LogistikVendor clause, kode etik vendor, safe accommodation/transport, procurement untuk kebutuhan inklusi, dan kontrol vendor yang berinteraksi dengan komunitas
SDMRekrutmen fair, reference check untuk role komunitas/anak, onboarding safeguarding, grievance confidential, anti-retaliation, promosi non-diskriminatif
KeuanganBudget tersedia untuk safeguarding/GEDSI, referral support jika disetujui, dokumentasi kasus sangat terbatas dan confidential
KMELConsent untuk data/foto/cerita, data disaggregated, safe data collection, no extractive storytelling, evidence tidak membuka identitas sensitif
Data SecurityCase file confidential, access need-to-know, anonymization, breach response untuk data survivor/pelapor
Safeguarding-GEDSICase pathway, referral, training, monitoring compliance, lesson learned

8. Outputs

OutputOwnerFrequency
Safeguarding-GEDSI risk screeningProgram/KMEL/SDM/Logistik as relevantPer activity/contract
Reporting channel registerSafeguarding focal pointQuarterly
Case intake formFocal pointPer report
Case classification and handling planAuthorized case ownerPer case
Referral mapSafeguarding focal pointSemiannual
GEDSI checklistActivity ownerPer activity/proposal
Safeguarding training logSDM/SafeguardingAnnual/onboarding
Partner/vendor safeguarding clause logPartnership/LogistikPer contract/vendor
Case learning noteSafeguarding focal pointAs needed, anonymized

9. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Under-reportingAccessible channels and anti-retaliation
RetaliationConfidential handling and management warning
Harm to survivorSurvivor-centered response and safety plan
Investigator conflictConflict check and independent handler
Vendor/partner misconductClause, briefing, and termination right
GEDSI tokenismChecklist, budget, and participation design
Sensitive case data leakedConfidential file and need-to-know access
Donor concernCase log, response SLA, corrective action

10. Approval matrix

AktivitasDriverReviewer/ConsultedApproverEvidence
Safeguarding risk screeningActivity ownerSafeguarding focal pointProgram/Function LeadScreening checklist
GEDSI checklistActivity ownerGEDSI/Safeguarding focal pointProgram/Function LeadGEDSI checklist
Case intakeReceiver/focal pointAuthorized case ownerNot applicableIntake record
Serious case escalationFocal pointDirector/authorized governance bodyDirector/governance per caseEscalation note
Referral supportCase ownerSurvivor/pelapor consent, Finance if costAuthorized case owner/DirectorReferral note
Investigation planCase ownerConflict-free reviewer/legal if neededDirector/governanceInvestigation plan
Case closureCase ownerDirector/governance if seriousAuthorized approverClosure note
External communicationComms/DirectorCase owner/legal if neededDirectorApproved statement

11. Minimum templates

  1. Safeguarding-GEDSI risk screening.
  2. Reporting channel poster/brief.
  3. Case intake form.
  4. Case classification guide.
  5. Case handling plan.
  6. Referral map template.
  7. GEDSI activity checklist.
  8. Consent form for photo/story/data.
  9. Vendor/partner safeguarding clause.
  10. Anti-retaliation notice.
  11. Case closure note.
  12. Anonymized learning note.

12. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Safeguarding masih policy/statement levelStaf belum punya alur teknis saat kasus munculCase pathway and handling plan
Prosedur keluhan belum survivor-centeredRisiko under-reporting dan harmSurvivor-centered, confidential, anti-retaliation process
Tidak ada referral mapDukungan korban/pelapor bisa terlambatReferral map per wilayah
GEDSI belum menjadi checklist operasionalInklusi bergantung niat individuGEDSI checklist across HR, finance, logistics, KMEL
Partner/vendor compliance belum kuatRisiko harm dari pihak ketigaSafeguarding-GEDSI clause and briefing

Appendix v2 - perubahan dari v1

  • Menambahkan Jobs to Be Done (JTBD) sebagai jembatan antara business process, prosedur teknis, dan KPI divisi.
  • Menambahkan KPI matrix v2 dengan indikator, target, frekuensi ukur, sumber data, PIC, dan proses tindak lanjut.
  • Menjaga seluruh prosedur v1 sebagai dasar, lalu memperluasnya agar lebih mudah dipakai untuk onboarding, review kinerja, audit internal, dan Resilience Governance.
Governance

Resilience Organization - Governance

Tata kelola ketahanan untuk menyerap kearifan lokal, beradaptasi secara cepat, menjaga akuntabilitas, dan tumbuh bertransformasi secara berkelanjutan.

GoalAbsorbtif, adaptif, transformatif
Operating rhythm

Bagian ini menjadi payung tata kelola untuk memastikan SOP tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi terus diperbaiki melalui data, refleksi, akuntabilitas, dan keputusan yang transparan.

01 Kemampuan Absorbtif Menyerap nilai-nilai local wisdom di manapun landscape Blue Forests berada.
  1. Lakukan pemetaan kearifan lokal (local wisdom mapping) di setiap landscape baru maupun aktif melalui dialog komunitas.
  2. Integrasikan kearifan lokal ke dalam delivery model program dan SOP lokal landscape.
  3. Bangun forum dialog komunitas (community feedback loop) minimal semesteran bersama pemuka adat untuk mengevaluasi program.
  4. Catat pembelajaran dan penyesuaian metode kerja dalam landscape learning log.
02 Kemampuan Adaptif Mengoperasionalkan Kaizen, menjaga akuntabilitas keputusan, dan mempertahankan nilai organisasi.
  1. Kirim monthly improvement survey dan triage ide masuk ke Kaizen backlog untuk eksperimen 30 hari.
  2. Gunakan DARCI matrix untuk keputusan strategis dan landscape high-risk agar akuntabilitas jelas.
  3. Kelola exception log dan corrective action plan hasil internal audit tahunan.
  4. Turunkan nilai ke perilaku kerja harian dan ukur melalui culture pulse survey tahunan.
03 Kemampuan Transformatif Mengelola pertumbuhan strategis, OKR, kapasitas sistem, dan suksesi kepemimpinan.
  1. Tetapkan OKR tahunan organisasi dan turunkan ke KPI divisi serta rencana kerja landscape.
  2. Jalankan capacity audit tahunan untuk kesiapan staffing, cash flow, safeguarding, data, dan logistik.
  3. Gunakan readiness checklist sebelum ekspansi landscape baru atau penerimaan grant besar.
  4. Kembangkan leadership pipeline melalui mentoring, acting role, dan transisi jabatan yang terdokumentasi.
Nilai organisasi

Nilai yang perlu dijaga dalam keputusan harian

Disusun dari materi nilai kelembagaan dan persepsi staf/pemangku kepentingan yang diberikan sebagai referensi.

Nilai Kelembagaan dan Tata Kelola

Integritas Akuntabilitas Profesionalisme Konsistensi Sistemik

Nilai Relasi dan Kebersamaan

Kekeluargaan & kebersamaan Kolaboratif Terbuka & partisipatif Supporting spirit Keikhlasan & kerendahan hati

Nilai Sosial dan Pemberdayaan

Humanis Berpihak pada masyarakat Memberdayakan Inklusif & setara Keadilan sosial & ekologis

Nilai Pembelajaran dan Pengembangan Diri

Growth mindset Reflektif Inovatif & adaptif Berani bereksperimen Resilien Kemandirian

Nilai Ekologis dan Spirit Lingkungan

Berpihak pada alam Locally rooted Science-based expertise Membumi Keseimbangan Transformatif
KPI

Matriks KPI - Resilience Governance

KPI Indikator Target Frekuensi Sumber Data PIC
Local wisdom mapping coverage % landscape aktif yang memiliki dokumen kajian kearifan lokal 100% Tahunan KMEL Database KMEL + Landscape Lead
Community-led review completion % program landscape yang melakukan review tahunan bersama pemuka adat/lokal >=90% Tahunan Minutes of meeting Landscape Lead + Safeguarding
Kaizen survey completion % staf yang mengisi monthly improvement survey >=70% Bulanan Survey response data KMEL/SDM
Improvement backlog closure % ide prioritas yang ditutup dengan keputusan adopt/adapt/defer/drop >=80% Kuartalan Kaizen backlog Management Team
DARCI adoption % keputusan strategis/landscape high-risk yang memiliki DARCI matrix 100% Per keputusan Decision log Direktur + PM
Internal audit action closure % corrective action internal audit selesai tepat waktu >=85% Semesteran Audit action tracker Dewan Pengawas + Manajemen
Values-in-practice pulse % staf yang menilai nilai organisasi terlihat dalam praktik kerja harian >=75% Tahunan Culture pulse survey SDM + Direktur
Growth readiness compliance % ekspansi landscape/grant besar yang menyelesaikan readiness checklist sebelum approval 100% Per kejadian Readiness checklist Direktur + Management Team
Capacity improvement completion % tindakan korektif dari capacity audit tahunan yang berhasil diselesaikan >=80% Tahunan Capacity audit log Management Team
Baca full SOP SOP Sanggabiz version/sop_resilience_governance_playbook_v2.md
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/sop_resilience_governance_playbook_v2.md

SOP / Playbook Resilience Governance v2

Dokumen: SOP dan Playbook Resilience Organization - Governance
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v2.0 draft kerja
Tanggal: 21 Mei 2026

1. Objective

SOP ini mengatur cara YHB menjaga dan membangun ketahanan kelembagaan (*organizational resilience*) melalui tata kelola yang terintegrasi (*Resilience Governance*). Resilience Governance menjadi mekanisme payung yang menghubungkan seluruh SOP divisi, kearifan lokal (*local wisdom*), perbaikan operasional berkelanjutan (*Kaizen*), kepatuhan hukum dan audit (*akuntabilitas*), internalisasi nilai-nilai kelembagaan, serta perencanaan pertumbuhan organisasi yang terukur.

Tujuan utama SOP ini adalah untuk mengaktifkan tiga pilar ketahanan utama:

  • Kemampuan Absorbtif: Menghormati, memetakan, dan menyerap nilai kearifan lokal (*local wisdom*) di manapun landscape tempat Blue Forests beroperasi ke dalam kebijakan operasional dan pelaksanaan program.
  • Kemampuan Adaptif: Memelihara kelenturan organisasi melalui ritual perbaikan berkelanjutan secara cepat (*Kaizen*), kepatuhan hukum dan audit (*akuntabilitas*), serta memastikan nilai-nilai utama organisasi tetap dihidupi dalam praktik harian.
  • Kemampuan Transformatif: Mengelola pertumbuhan strategis organisasi (*pertumbuhan organisasi*) secara sehat melalui OKR, audit kapasitas, growth readiness checklist, dan suksesi kepemimpinan agar organisasi dapat berkembang tanpa mengalami overload kapasitas.

2. Scope

SOP ini berlaku untuk:

  • Pemetaan kearifan lokal, penyusunan SOP lokal landscape, dan pelaksanaan forum dialog komunitas di semua wilayah kerja aktif dan baru.
  • Perbaikan proses kerja lintas divisi melalui mekanisme Kaizen dan monthly improvement survey.
  • Keputusan strategis, keputusan program/landscape bernilai tinggi, dan exception berisiko tinggi dengan menggunakan DARCI matrix.
  • Internal audit berkala, management review, corrective action plan (CAP), dan tracking penyelesaian finding.
  • Cascading OKR organisasi ke KPI divisi, annual capacity audit, growth readiness checklist sebelum ekspansi, serta suksesi kepemimpinan.
  • Sosialisasi panduan perilaku, culture pulse survey tahunan, dan review keselarasan nilai organisasi.

SOP ini tidak menggantikan SOP Partnership, Logistik, SDM, Keuangan, KMEL, Data Security, atau Safeguarding-GEDSI. SOP ini menjadi lapisan tata kelola (*governance layer*) yang memastikan semua SOP tersebut ditinjau, diperbaiki, dijalankan secara konsisten, diselaraskan dengan kearifan lokal setempat, dan siap menghadapi perubahan landscape organisasi.

3. Benchmark SOP 2019/2022

Dokumen lamaYang sudah adaKelemahanSolusi SOP baru
SOP 2019Mengatur beberapa approval dan proses operasionalBelum ada mekanisme organisasi adaptif, Kaizen, internal audit calendar, atau decision log lintas fungsiMenambahkan operating rhythm governance, Kaizen backlog, DARCI, internal audit, dan corrective action tracker
Draft 2022Ada upaya perbaikan beberapa area SOPBelum menjadi sistem review berkala yang menghubungkan nilai, KPI, dan pembelajaranMenetapkan monthly/quarterly/annual governance cycle
Gap analysisOrganisasi multi-donor dan multi-landscape membutuhkan sistem yang lebih eksplisitRisiko keputusan tersebar, pembelajaran hilang, dan accountability bergantung pada figur tertentuMembuat playbook Resilience Governance sebagai payung seluruh SOP dengan memadukan kearifan lokal

4. Principles

  1. Local Wisdom Centered (Absorptive Capacity): Keberhasilan program kehutanan dan pesisir Blue Forests bergantung pada seberapa baik organisasi menghormati, menyerap, dan mengintegrasikan kearifan lokal serta adat istiadat setempat.
  2. Kaizen Mentality (Adaptive Capacity): Masalah operasional adalah peluang perbaikan. Tim didorong untuk mengusulkan ide perbaikan secara berkala dan mengujinya secara cepat (30-day experiment).
  3. Audit Readiness (Adaptive Capacity): Kepatuhan hukum, administrasi, dan donor bukan beban akhir, melainkan bagian integral dari akuntabilitas organisasi yang dirancang sejak awal (*compliance by design*).
  4. Behavioral Alignment (Adaptive Capacity): Nilai organisasi tidak boleh hanya menjadi pajangan dinding, tetapi harus diterjemahkan menjadi perilaku konkret dalam interaksi harian, rapat, dan pengambilan keputusan.
  5. Controlled Scaling (Transformative Capacity): Pertumbuhan organisasi (penambahan donor, landscape, dan staf) harus dikendalikan secara ketat melalui audit kapasitas agar tidak merusak efektivitas sistem operasional yang ada.

5. Business process

Workflow Utama Workflow
01

Local wisdom mapping

02

SOP lokal landscape integration

03

Community feedback loop & Adat check

04

Monthly improvement survey

05

Kaizen backlog & 30-day experiment

06

Decision need & risk review

07

DARCI & Decision log / Exception tracker

08

Values pulse & behavior guide

09

Values-in-practice action & Audits

10

Annual OKR & capacity audit

11

Readiness & growth plan

12

Leadership pipeline & transition

13

Resilience Governance review

5A. Jobs to Be Done (JTBD) sebagai dasar KPI

Bagian ini menerjemahkan tata kelola ketahanan (Resilience Governance) menjadi pekerjaan utama yang dijalankan, diukur, dan diaudit. Setiap JTBD menjadi dasar KPI governance dan harus memiliki owner, sumber data, evidence, serta forum review.

5A.1 Kemampuan Absorbtif: Menyerap Nilai-Nilai Local Wisdom

Outcome yang diharapkan: YHB memiliki mekanisme formal untuk menyerap dan menerapkan kearifan lokal (*local wisdom*) di setiap landscape operasional ke dalam desain program, interaksi komunitas, dan regulasi lokal.

PIC utama: KMEL bersama Landscape Lead dan Program Development Lead.

Trigger proses: Pembukaan landscape baru, perancangan fase program baru, atau review tahunan landscape.

Input minimum:

  • Studi baseline landscape.
  • Wawancara tokoh adat/komunitas.
  • Catatan norma adat atau aturan lokal terkait kelola sumber daya alam.

Langkah teknis:

  1. Lakukan pemetaan kearifan lokal (*local wisdom mapping*) saat memulai program atau siklus tahunan di landscape.
  2. Dokumentasikan norma adat, pranata sosial, dan struktur kepemimpinan lokal yang relevan dengan konservasi/rehabilitasi hutan mangrove/pesisir.
  3. Integrasikan kearifan lokal tersebut ke dalam SOP lokal landscape (misalnya: penyesuaian kalender tanam dengan musim lokal, pelibatan kelompok adat dalam patroli).
  4. Bangun forum dialog komunitas (*community feedback loop*) minimal semesteran bersama pemuka adat untuk mengevaluasi kesesuaian program dengan nilai lokal.
  5. Catat pembelajaran dan penyesuaian metode kerja dalam *landscape learning log*.

Output dan evidence wajib:

  • Dokumen kajian kearifan lokal landscape.
  • SOP lokal landscape terintegrasi.
  • Minutes of meeting forum dialog komunitas.

Kontrol kualitas dan risiko:

  • Program tidak boleh bertentangan dengan norma adat yang berlaku secara sah di komunitas setempat.
  • Pastikan representasi inklusif (perempuan, pemuda, kelompok marginal) dalam dialog komunitas.

KPI terkait: Local wisdom mapping coverage, Community-led review completion.

5A.2 Kemampuan Adaptif: Kaizen, Akuntabilitas, dan Mempertahankan Nilai Organisasi

Outcome yang diharapkan: YHB memiliki kelenturan operasional melalui ritual Kaizen bulanan, akuntabilitas keputusan yang tinggi, dan budaya kerja yang setia pada nilai organisasi.

PIC utama: Management Team, SDM, KMEL, dan Direktur.

Trigger proses: Akhir bulan berjalan, audit findings, insiden operasional, performance review, dan annual culture pulse.

Input minimum:

  • Monthly improvement survey & Kaizen backlog.
  • DARCI matrix & decision request.
  • Culture pulse survey & values behavior guide.
  • Exception log & internal audit findings.

Langkah teknis:

  1. Kaizen (Continuous Improvement):
  • KMEL/SDM mengirim monthly improvement survey kepada staf dan landscape team.
  • Semua input dimasukkan ke Kaizen backlog dengan kategori proses, tools, policy, capacity, data, culture, atau governance.
  • Management Team melakukan triage bulanan berdasarkan dampak, effort, risiko, dan urgency.
  • Ide prioritas ditugaskan kepada owner untuk eksperimen 30 hari dengan definisi keberhasilan sederhana.
  • Hasil eksperimen dilaporkan di forum bulanan: *adopt, adapt, defer, atau drop*.
  1. Akuntabilitas & Profesionalitas:
  • Requester menulis decision note yang menjelaskan konteks, opsi keputusan, risiko, biaya, stakeholder terdampak, dan rekomendasi.
  • Gunakan DARCI matrix untuk keputusan strategis dan landscape high-risk.
  • Catat setiap keputusan strategis dalam decision log.
  • Setiap exception penting harus masuk exception log dengan alasan, approver, risiko, mitigasi, dan tanggal review.
  • Dewan Pengawas menetapkan internal audit calendar minimal tahunan untuk area keuangan, procurement, HR, data, dan safeguarding.
  • Audit finding menghasilkan corrective action plan dengan owner, due date, status, dan bukti penyelesaian.
  1. Mempertahankan Nilai Organisasi:
  • Turunkan nilai organisasi ke panduan perilaku kerja harian yang bisa diamati.
  • Masukkan nilai ke onboarding, performance conversation, donor communication, procurement ethics, safeguarding practice, dan data ethics.
  • Gunakan culture pulse survey tahunan untuk memantau persepsi staf terhadap penerapan nilai organisasi.
  • Lakukan values check pada keputusan strategis high-risk.

Output dan evidence wajib:

  • Kaizen backlog & 30-day experiment notes.
  • DARCI matrix, decision log, dan exception log.
  • Internal audit calendar, corrective action plan, dan closure evidence.
  • Values behavior guide & culture pulse survey results.

KPI terkait: Kaizen survey completion, Improvement backlog closure, DARCI adoption, Internal audit action closure, Values-in-practice pulse.

5A.3 Kemampuan Transformatif: Pertumbuhan Organisasi

Outcome yang diharapkan: YHB mengelola pertumbuhan donor, landscape, dan tim secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas sistem dan kesehatan organisasi.

PIC utama: Direktur dan Management Team.

Trigger proses: Siklus OKR tahunan, pipeline grant baru, proposal ekspansi landscape, atau hasil capacity audit.

Input minimum:

  • OKR organisasi & KPI divisi.
  • Annual capacity audit report.
  • Growth/readiness checklist.
  • Leadership pipeline plan.

Langkah teknis:

  1. Selaraskan OKR tahunan organisasi dan turunkan menjadi KPI divisi serta rencana kerja landscape.
  2. Jalankan *capacity audit* tahunan untuk menilai kesiapan staffing, cash flow, logistik, safeguarding, data security, dan partnership.
  3. Terapkan *readiness checklist* wajib sebelum menandatangani komitmen grant besar atau ekspansi landscape baru.
  4. Jika terdapat kesenjangan kapasitas yang signifikan, susun *capacity improvement plan* sebagai prasyarat pertumbuhan.
  5. Kembangkan *leadership pipeline* melalui mentoring, pendampingan peran (*acting role*), pendelegasian wewenang, dan dokumentasi serah terima (*handover*) jabatan yang matang.

Output dan evidence wajib:

  • OKR & KPI cascade sheets.
  • Capacity audit report & improvement plan.
  • Growth/readiness checklist terisi.
  • Leadership mentoring & handover notes.

KPI terkait: Growth readiness compliance, Capacity improvement completion.

5B. KPI matrix dan proses pengukuran

KPI Resilience Governance mengukur apakah mekanisme tata kelola ketahanan berjalan dan menghasilkan perubahan nyata dalam penyerapan nilai lokal, kelenturan operasional, kepatuhan, internalisasi nilai, dan kontrol pertumbuhan.

KPIIndikator/detail hitungTargetFrekuensiSumber dataPICProses ukur dan tindak lanjut
Local wisdom mapping coverage% landscape aktif yang memiliki dokumen kajian kearifan lokal100%TahunanKMEL DatabaseKMEL + Landscape LeadKMEL memeriksa ketersediaan kajian lokal untuk setiap landscape aktif dan memantau pemutakhiran datanya.
Community-led review completion% program landscape yang melakukan review tahunan bersama pemuka adat/lokal>=90%TahunanMinutes of meetingLandscape Lead + SafeguardingMelaporkan hasil evaluasi komunitas ke manajemen untuk penyesuaian delivery program.
Kaizen survey completion% staf yang mengisi monthly improvement survey>=70%BulananSurvey response dataKMEL/SDMKMEL/SDM menghitung response rate bulanan, membagikan ke manajemen, dan menindaklanjuti hambatan partisipasi.
Improvement backlog closure% ide prioritas yang ditutup dengan keputusan adopt/adapt/defer/drop>=80%KuartalanKaizen backlogManagement TeamMeninjau status eksperimen perbaikan dan memperbarui SOP/tools organisasi.
DARCI adoption% keputusan strategis/landscape high-risk yang memiliki DARCI matrix100%Per keputusanDecision logDirektur + PMDirektur memastikan DARCI lengkap sebelum keputusan strategis dieksekusi.
Internal audit action closure% corrective action internal audit selesai tepat waktu>=85%SemesteranAudit action trackerDewan Pengawas + ManajemenMemantau penyelesaian temuan audit dan mengeskalasi tindakan yang terlambat ke Dewan Pengawas.
Values-in-practice pulse% staf yang menilai nilai organisasi terlihat dalam praktik kerja harian>=75%TahunanCulture pulse surveySDM + DirekturMenganalisis keselarasan nilai dalam praktik kerja dan merancang perbaikan budaya jika target tidak tercapai.
Growth readiness compliance% ekspansi landscape/grant besar yang menyelesaikan readiness checklist sebelum approval100%Per kejadianReadiness checklistDirektur + Management TeamMemastikan kesiapan kapasitas sebelum mengambil komitmen baru untuk mencegah overload sistem.
Capacity improvement completion% tindakan korektif dari capacity audit tahunan yang berhasil diselesaikan>=80%TahunanCapacity audit logManagement TeamMemastikan penguatan infrastruktur inti organisasi (finance, HR, data, safeguarding) sejalan dengan pertumbuhan.
5B.1 Ritme review KPI
  1. PIC memperbarui data KPI sesuai frekuensi yang tercantum pada matrix.
  2. Supervisor atau lead divisi melakukan spot check atas sumber data dan bukti pendukung.
  3. Hasil KPI dibahas dalam review divisi bulanan atau kuartalan, tergantung jenis indikator.
  4. KPI berstatus kuning atau merah harus memiliki corrective action, owner, due date, dan escalation note bila membutuhkan keputusan manajemen.
  5. KPI yang tiga periode berturut-turut tidak relevan harus direvisi melalui management review, bukan diabaikan diam-diam.
  6. Ringkasan KPI lintas divisi dapat dipakai sebagai bahan Kaizen, internal audit, dan Resilience Governance.

6. Procedure and guidelines

6.1 Metodologi Pemetaan Kearifan Lokal & Dialog Komunitas (Kemampuan Absorbtif)

Mekanisme ini memastikan program YHB membumi (*locally rooted*) dan memanfaatkan modal sosial masyarakat setempat:

  1. Fase Pemetaan (Local Wisdom Mapping Method):
  • Dilakukan oleh Landscape Lead bersama sosiolog/antropolog program atau KMEL dalam 30 hari pertama masuk wilayah.
  • Metode: Focus Group Discussion (FGD) terpisah dengan kelompok tetua adat, kelompok perempuan, dan kelompok pemuda.
  • Fokus kajian: Hukum adat kelola laut/mangrove (misal: *Sasi*, *Panglima Laot*, *Lilifuk*), sistem kepemilikan lahan ulayat, tabu ekologi, kalender budaya, dan pranata resolusi konflik komunitas.
  • Hasil kajian dikodifikasi ke dalam dokumen resmi: Kajian Kearifan Lokal Landscape.
  1. Penyusunan SOP Lokal Landscape:
  • Menyelaraskan SOP standar YHB dengan hukum adat setempat. Contoh: penyesuaian jadwal kerja/patroli lapangan agar tidak bertentangan dengan hari tabu/adat, pengakuan batas wilayah adat dalam zonasi kawasan.
  • SOP Lokal ditandatangani bersama oleh Landscape Lead dan Kepala Adat/Desa.
  1. Forum Dialog Adat & Komunitas (Bi-annual Customary Parliament):
  • Pertemuan formal per semester yang difasilitasi oleh Landscape Lead.
  • Agenda: Memaparkan progres program, meminta feedback dampak program terhadap tatanan sosial, dan menyelaraskan kegiatan konservasi dengan upacara atau ritual musiman.
  • Masukan dari forum dicatat dalam minutes of meeting dan dilaporkan ke Program Development Lead untuk perbaikan program.
6.2 Sistem Kaizen & Monthly Improvement (Kemampuan Adaptif)

Mekanisme kelenturan taktis organisasi untuk merespon kendala di lapangan:

  1. Kanal Pengumpulan Masukan:
  • Staf dapat mengirimkan kendala proses kerja, ketidakjelasan SOP, atau usulan perbaikan tools melalui Monthly Kaizen Survey, kotak saran digital, atau Slack channel #kaizen-loop.
  1. Skoring dan Triage Backlog:
  • Management Team mengulas semua usulan sebulan sekali.
  • Skoring menggunakan matriks Dampak (Impact) vs Upaya (Effort) dengan skala 1-5.
  • Kategori prioritas: *Quick Wins* (Dampak Tinggi, Effort Rendah) langsung dieksekusi; *Major Projects* (Dampak Tinggi, Effort Tinggi) masuk perencanaan OKR; *Deferred* (Dampak Rendah) ditunda; *Dropped* ditolak dengan justifikasi tertulis ke pengusul.
  1. Siklus Eksperimen 30 Hari:
  • Usulan terpilih ditugaskan ke Owner Eksperimen.
  • Owner membuat rencana uji coba sederhana selama 30 hari (misal: menguji format PR digital baru di satu landscape).
  • Setelah 30 hari, Owner melaporkan hasil dengan data konkret. Keputusan akhir: *Adopt* (diterapkan global), *Adapt* (diubah lalu diuji kembali), *Defer* (ditunda), atau *Drop* (dihentikan).
  1. Standardisasi dan Pemutakhiran SOP:
  • Setiap eksperimen yang mendapat status *Adopt* wajib diintegrasikan ke dalam SOP divisi resmi dalam waktu maksimal 10 hari kerja oleh Owner Divisi terkait.
6.3 Akuntabilitas Keputusan & Audit Trail (Kemampuan Adaptif)

Membangun akuntabilitas tanpa ketakutan (*Accountability without Fear*) melalui struktur kontrol yang jelas:

  1. Penerapan DARCI Matrix:
  • Untuk setiap keputusan bernilai tinggi atau berisiko reputasi, tim wajib menetapkan matriks DARCI:
  • Decider (D): Satu orang yang memiliki hak keputusan final.
  • Accountable (A): Pemegang tanggung jawab atas dampak keputusan.
  • Responsible (R): Pelaksana operasional keputusan.
  • Consulted (C): Pihak yang wajib dimintai masukan (misal: Finance, Safeguarding) sebelum keputusan dikunci. Masukan harus didokumentasikan.
  • Informed (I): Pihak yang diberitahu setelah keputusan diambil.
  1. Decision Log & Exception Tracker:
  • Semua keputusan penting dicatat dalam Decision Log organisasi.
  • Kebijakan yang menyimpang dari SOP standar wajib mendapatkan Exception Approval tertulis dari Direktur dan dicatat dalam Exception Tracker lengkap dengan mitigasi risiko dan tanggal ulas kembali.
  1. Audit Rhythm & CAP:
  • Dewan Pengawas memfasilitasi audit internal minimal setahun sekali.
  • Hasil temuan audit dikompilasi dalam Corrective Action Plan (CAP).
  • Setiap temuan audit wajib memiliki: Rating Risiko (High/Medium/Low), Tindakan Korektif, Owner Pelaksana, Due Date, dan Tracker Bukti Penyelesaian (*evidence of closure*).
6.4 Pemeliharaan Nilai Organisasi (Kemampuan Adaptif)

Menjaga agar identitas dan budaya kerja organisasi tidak bergeser:

  1. Penerjemahan Nilai ke Perilaku (Values to Behavior Guide):
  • YHB merumuskan panduan perilaku operasional untuk setiap nilai inti (Integritas, Humanis, Berpihak pada Alam, Kolaboratif, Inklusif, Profesionalisme).
  • Perilaku ini dievaluasi secara berkala dalam forum refleksi tim.
  1. Annual Culture Pulse Survey:
  • Survey anonim tahunan yang diisi oleh seluruh staf.
  • Mengukur sejauh mana staf merasa nilai-nilai organisasi diterapkan dalam keputusan kepemimpinan, perlakuan SDM, dan kolaborasi antar divisi.
  1. Values Check Gate:
  • Sebelum keputusan strategis (seperti kemitraan donor baru atau perombakan struktur) disahkan, Decider wajib mengisi lembar evaluasi keselarasan nilai (*Values Check Sheet*) untuk menjamin keputusan tersebut tidak melanggar nilai dasar YHB.
6.5 Manajemen Pertumbuhan Organisasi & Suksesi (Kemampuan Transformatif)

Mengatur arsitektur pertumbuhan organisasi agar sistem internal tidak kolaps:

  1. Cascading OKR & KPI:
  • Direktur memimpin Rapat Strategis Tahunan untuk merumuskan OKR (Objectives and Key Results) YHB.
  • OKR organisasi diturunkan menjadi KPI Divisi yang terukur, realistis, dan saling mendukung (misal: target logistik mendukung target waktu program).
  1. Siklus Growth Readiness Checklist:
  • Sebelum menandatangani perjanjian donor baru di atas threshold material atau membuka landscape baru, Manajemen wajib mengisi Growth Readiness Checklist.
  • Aspek yang dinilai: Likuiditas keuangan, kapasitas staf SDM, bandwidth Logistik, kesiapan evidence KMEL, tingkat risiko Safeguarding, dan kematangan tata kelola Data.
  • Jika skor kesiapan di bawah 80%, proposal wajib ditunda atau didesain ulang untuk memasukkan komponen penguatan kapasitas internal (*capacity building cost*) yang didanai oleh donor tersebut.
  1. Leadership Pipeline & Suksesi:
  • Setiap posisi kunci (Direktur, Lead Divisi, Program Manager) wajib mengidentifikasi minimal satu calon penerus internal (*designated successor*) dan membuat rencana mentoring tahunan.
  • Saat terjadi transisi jabatan, wajib dilakukan masa transisi minimum 30 hari yang didukung oleh Job Handover Playbook yang memuat seluruh riwayat keputusan, kontak donor, isu sensitif, dan log pekerjaan aktif.

7. Outputs

Output wajib tata kelola ketahanan yang harus disimpan dan diperbarui secara berkala:

  1. Dokumen Kajian Kearifan Lokal per landscape (Owner: Landscape Lead + KMEL).
  2. SOP Lokal Landscape terintegrasi (Owner: Landscape Lead).
  3. Minutes of Meeting Dialog Adat/Komunitas (Owner: Landscape Lead).
  4. Kaizen Backlog & 30-Day Experiment Notes (Owner: Management Team).
  5. Decision Log & Exception Tracker (Owner: Direktur / Sekretariat).
  6. Internal Audit Calendar & Corrective Action Plan (CAP) (Owner: Dewan Pengawas + Manajemen).
  7. OKR & Cascading KPI Sheet (Owner: Direktur + SDM).
  8. Growth Readiness Checklist terisi per grant/landscape baru (Owner: Management Team).
  9. Values Behavior Guide & Culture Pulse Report (Owner: SDM).
  10. Governance KPI Dashboard (Owner: Management Team).

8. Integrasi dengan SOP divisi

SOP divisiIntegrasi Resilience Governance
PartnershipGo/no-go donor, grant acceptance, dan donor risk menggunakan DARCI bila high-risk
LogistikException procurement dan audit asset masuk exception log dan audit action tracker
SDMCulture pulse, performance values, promotion/demotion fairness, dan capacity plan masuk review governance
KeuanganAudit finding, cash flow risk, disallowance, dan advance aging merah masuk management review
KMELEvidence gap, learning review, data quality, dan local wisdom mapping masuk Kaizen backlog
Data SecurityData breach incident, access review compliance, dan backup maturity masuk governance dashboard
Safeguarding-GEDSISerious case learning, GEDSI gap, dan dialog inklusif adat masuk review terbatas sesuai confidentiality

9. Risk mitigation

RisikoMitigasi
Kaizen menjadi survey tanpa tindak lanjutWajib ada backlog terpusat, owner eksperimen yang ditunjuk, status transparan, dan decision closure adopt/adapt/defer/drop
Keputusan high-risk tidak jelas ownerGunakan DARCI dan catat keputusan di decision log sebelum eksekusi dimulai
Audit finding diabaikanAudit action tracker ditinjau secara berkala oleh Dewan Pengawas dan status penyelesaian masuk penilaian kinerja Manajemen
Pertumbuhan berlebih merusak kapasitas operasionalWajib readiness checklist sebelum menerima komitmen baru; menolak peluang jika kapasitas inti belum siap
Nilai organisasi hanya menjadi pajanganIntegrasikan nilai ke dalam behavior guide, performance conversation bulanan, dan ulasan culture pulse tahunan
Konflik antara program dengan norma adat lokalLakukan local wisdom mapping sebelum program berjalan dan bentuk komite adat penasihat program

10. Approval matrix

AktivitasResponsibleAccountableConsultedInformedEvidence
Local wisdom mappingLandscape LeadProgram Development LeadPerwakilan Adat/KomunitasKMEL + DirekturKajian Adat
Forum dialog adatLandscape LeadDirekturPerwakilan Adat/SDMSemua stafMinutes & Photos
Monthly Kaizen SurveyKMEL/SDMManagement TeamLead DivisiSemua stafSurvey Results
Kaizen backlog triageManagement TeamDirekturLead Divisi terkaitPengusul ideTriage Record
SOP/tool update hasil KaizenOwner divisiLead DivisiFungsi terdampakTim terkaitUpdated SOP
DARCI decision high-riskRequester/PMDecider sesuai kewenanganFungsi terdampakStakeholder terdampakDecision Note
Internal audit calendarDewan PengawasDewan PengawasDirektur/Finance/HR/Logistik/KMELManagement TeamAudit Schedule
Audit corrective actionOwner findingDirektur/Lead DivisiDewan PengawasManagement TeamCAP Table
OKR dan capacity auditManagement TeamDirekturDewan Pengawas/Lead DivisiStafOKR Cascade Sheet
Growth checklist approvalManagement TeamDirekturLead Divisi (Finance/SDM/Logistik/KMEL/Data/Safeguarding)Dewan PengawasSigned Growth Checklist
Culture pulse dan values actionSDMDirekturLead DivisiSemua stafPulse Report

11. Minimum templates

  1. Local Wisdom Mapping Guide: Panduan FGD, kuesioner adat, dan kerangka penyusunan kajian kearifan lokal.
  2. Community Dialogue Minutes Template: Format pencatatan forum adat, kesepakatan adat, keluhan komunitas, dan rencana adaptasi program.
  3. Monthly Kaizen Survey & Backlog Form: Formulir saran perbaikan proses/tools dan struktur database backlog.
  4. 30-Day Experiment Note: Template penyusunan hipotesis eksperimen Kaizen, target keberhasilan, dan evaluasi hasil uji coba.
  5. Decision Note & DARCI Template: Format dokumen pengajuan keputusan strategis beserta penunjukan peran D-A-R-C-I.
  6. Exception Log & Approval Template: Form pengajuan penyimpangan kebijakan SOP beserta analisis risiko dan persetujuan direksi.
  7. Corrective Action Plan (CAP) Tracker: Lembar pelacakan tindak lanjut audit internal dengan rating risiko dan bukti penyelesaian.
  8. Growth Readiness Checklist: Matriks skoring kesiapan kapasitas internal organisasi sebelum menerima hibah baru atau membuka lanskap baru.
  9. Values-in-Practice Behavior Guide: Dokumen panduan tindakan yang dianjurkan dan dilarang untuk setiap nilai organisasi.
  10. Culture Pulse Survey Form: Kuesioner berkala evaluasi iklim budaya kerja dan kepatuhan nilai organisasi.
  11. Job Handover Playbook: Kerangka penulisan dokumen serah terima jabatan untuk memastikan kelancaran suksesi kepemimpinan.

12. Changelog from SOP 2019/2022

Kelemahan lamaDampakPerubahan di SOP baru
Tidak ada mekanisme formal menyerap kearifan lokalPotensi benturan sosial, keterasingan program, dan hilangnya local wisdomIntegrasi Kemampuan Absorbtif, local wisdom mapping, dan dialog adat rutin
Tidak ada mekanisme Kaizen formalIde perbaikan hilang atau bergantung pada inisiatif personalMonthly improvement survey, Kaizen backlog, dan 30-day experiment
Keputusan lintas fungsi tidak selalu jelas ownerAkuntabilitas kabur dan follow-up lambatDARCI matrix dan decision log untuk keputusan high-risk
Internal audit belum menjadi operating rhythmFinding dan risiko bisa terlambat diketahuiInternal audit calendar dan audit action tracker
Growth tidak selalu dikaitkan dengan kapasitas sistemRisiko overload saat donor/landscape bertambahOKR, capacity audit, readiness checklist, dan capacity improvement plan
Nilai organisasi belum diterjemahkan ke perilaku kerjaNilai sulit diukur dan tidak konsisten diterapkanValues behavior guide, culture pulse, dan values check dalam keputusan high-risk

Lampiran Pembanding dan Update

Lampiran ini menjaga koneksi dengan SOP 2019, draft perbaikan 2022, gap-analysis, dan interview KMEL sehingga rekomendasi per bidang tidak berdiri sendiri.

Changelog SOP 2019 / Draft 2022 ke SOP Sanggabiz v1
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/changelog_sop_2019_2022_to_sanggabiz_v1.md

Changelog SOP 2019 / Draft 2022 ke SOP Sanggabiz v1

Dokumen: Changelog kelemahan SOP lama, dampak, dan solusi SOP baru
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v1.0 draft kerja
Tanggal: 7 Mei 2026

1. Tujuan changelog

Changelog ini dibuat agar tim YHB dan Sanggabiz dapat melihat perubahan utama dari SOP Operasional YHB Juli 2019 dan draft perbaikan SOP 2022 menuju rancangan SOP modular v1. Formatnya sengaja dibuat sebagai decision log: apa kelemahan lama, apa dampaknya, dan solusi apa yang dimasukkan dalam SOP baru.

2. Ringkasan perubahan besar

TemaSOP 2019 / Draft 2022SOP Sanggabiz v1
Arsitektur dokumenSatu manual gabungan SDM, Keuangan, Logistik, dan sebagian KomunikasiSOP modular per fungsi: Partnership, Logistik, Keuangan, SDM, KMEL, plus business process map
Governance approvalOtorisasi ada tetapi tidak selalu embedded sebagai matrix finalApproval matrix, DARCI, dan delegation control menjadi bagian wajib
PartnershipBelum menjadi SOPDonor pipeline, go/no-go, proposal clearance, grant handover, stewardship
KMEL/KMLBelum menjadi SOPLogframe, MEL plan, data governance, evidence pack, donor reporting, learning cycle
Data governanceBelum diaturTaxonomy, access control, retention, backup, breach response
ProcurementThreshold adaDitambah anti-split, vendor due diligence, COI, procurement plan, receiving control
FinancePayment, bank, cash, advance adaDitambah maker-checker-approver, advance aging, stop rule, exception log
SDMRekrutmen, cuti, evaluasi, training adaDitambah job grading, salary band, L&D, promotion, succession, exit knowledge handover
Remote landscapeDiakui sebagian lewat travel/per diemDitambah lead time, travel risk, remote procurement exception, field evidence
LearningAda cerita/modul tetapi tidak sebagai siklusLearning calendar, knowledge product pipeline, cross-landscape learning

3. Changelog detail

NoAreaSOP 2019 / Draft 2022Kelemahan lamaDampakSolusi SOP Sanggabiz v1
1Document architectureManual gabungan mengatur SDM, keuangan, logistik, komunikasiKebijakan, prosedur, work instruction, form, dan register bercampurSulit diupdate, sulit diaudit, staf sulit mencari aturan spesifikPecah menjadi SOP modular dan lampiran register
2Document controlLembar pengesahan/revisi belum konsistenEffective date, owner, review date, version control belum kuatStaf bisa memakai versi berbedaTambah document owner, version, review cycle, superseded register
3Approval authorityOtorisasi disebut, sebagian via memo internalMatrix tidak selalu tertanam dalam SOPApproval rawan diperdebatkanApproval matrix resmi sebagai lampiran wajib
4Delegation of authorityPeran Direktur/Dewan/Pengurus belum selalu sinkronTerminologi governance drift dari kondisi terbaruKeputusan strategis tidak konsistenDelegation register dan decision-rights matrix
5Partnership/resource mobilizationTidak ada modul khususPencarian donor dan proposal bergantung praktik timProposal bisa tidak realistis atau handover lemahSOP Partnership: pipeline, go/no-go, proposal clearance, grant handover
6Proposal reviewTidak diatur sebagai workflow lintas fungsiFinance/KMEL/Logistik/SDM bisa terlambat dilibatkanBudget, staffing, procurement, dan indikator tidak sinkronMandatory proposal clearance lintas fungsi
7Grant handoverTidak ada checklist handover donor ke fungsi internalDonor requirement bisa tidak turun ke workplan dan kontrolImplementasi mulai tanpa pemahaman compliance yang samaGrant handover pack sebelum kickoff
8Advisor rolePeran teknis/advisor belum dipetakan eksplisitTechnical QA bergantung kebiasaanKeputusan teknis tidak terdokumentasiAdvisor masuk business process, TOR review, evaluation, issue escalation
9KMEL/KMLTidak ada modulMonitoring, data, evaluasi, reporting, learning berjalan tacitBottleneck personal dan sulit diauditSOP KMEL lengkap
10Logframe/workplanWorkplan ada dalam praktik, belum kuat di SOPApproval dan revision log tidak formalPerubahan target sulit ditelusuriWorkplan approval pack dan revision control
11TOR reviewTOR/SOW ada, review banyak via emailSLA 7 hari tidak efektif, tidak ada tracker/reminderReview bisa sebulan, kegiatan terlambatTOR tracker/workflow, reminder H+3/H+5, escalation H+7
12Donor reportingPelaporan keuangan ada; naratif belum sebagai SOP KMELCalendar dan evidence standard bervariasiRisiko telat report dan donor queryDonor reporting calendar dan report clearance sheet
13Evidence packBelum distandardkanBukti capaian tersebar, format beda donor/landscapeKlaim capaian sulit diverifikasi cepatEvidence pack checklist per indikator/output
14Data storagePenyimpanan program tidak diatur; praktik Google Drive per landscapeData tema yang sama tersebar; data historis hilangWaktu cari data tinggi; institutional memory lemahData taxonomy, naming convention, archive register
15Backup/SynologyTidak diaturBackup ada tetapi belum governedBackup tidak siap dipakai saat Drive bermasalahBackup owner, schedule, restore test
16Data securityTidak ada access control dan breach protocolData masyarakat/staf/donor/lokasi sensitif berisiko bocorRisiko reputasi dan complianceData classification, role-based access, breach response
17Knowledge sharingCerita/modul ada, sharing by requestTidak ada cadence pembelajaranPraktik baik tidak menyebarQuarterly learning forum, lesson brief, practice note
18Data useData banyak tetapi tidak selalu diolahData collection tidak selalu punya use caseData menjadi arsip pasifData use plan untuk setiap data collection
19Procurement thresholdLevel pengadaan sudah adaAnti-split purchase belum eksplisitRisiko pengadaan dipecah untuk hindari kontrolAnti-split rule dan procurement plan review
20Vendor managementVendor dipakai untuk kebutuhan procurementDue diligence dan vendor master belum kuatRisiko vendor fiktif/favorit/COIVendor master, due diligence, COI declaration
21Procurement planningDraft 2022 menyebut rencana pengadaan 3 bulananBelum menjadi operating calendarPengadaan mendadak dan logistik overloadProcurement plan 3 bulanan/bulanan
22Receiving controlAda bukti pembelian, tetapi acceptance belum cukup kuatBarang/jasa bisa dibayar tanpa quality check yang formalRisiko bayar barang tidak sesuaiGoods received/service completion note
23Remote procurementBelum ada framework exceptionBukti remote procurement bisa lemahAudit trail lemahEmergency/remote procurement justification
24Asset disposalDisposal adaApproval, donor rule, dan transfer akhir proyek belum kuatRisiko aset hilang atau donor findingDisposal/transfer protocol
25Finance maker-checkerInternal control adaMaker-checker-approver-releaser belum rinciPayment control bergantung orangSegregation of duties dijabarkan
26AdvanceAdvance dan settlement adaAdvance kedua dan aging belum ketatOutstanding advance materialAdvance aging, stop rule, escalation, recovery
27Payment documentDraft 2022 mengusulkan standar kelengkapan dokumenBelum final dan belum menjadi checklist wajibReview finance tidak konsistenPayment/settlement checklist mandatory
28Cash/checkSOP lama masih memuat mekanisme lamaCash/check process rawan usangRisiko cash handlingNon-cash default, cash exception
29Donor finance-narrative linkPelaporan keuangan adaTidak eksplisit cross-check dengan naratif KMELAngka dan narasi bisa tidak sinkronFinance-KMEL report clearance
30Job gradingTidak ada job grading formalLevel, salary, promosi tidak konsistenRisiko inequity dan demotivasiJob grade JG0-JG7 dan salary band
31Salary governanceKompensasi adaKenaikan/promosi belum dihubungkan ke grade dan performance secara kuatKeputusan kompensasi rawan biasSalary band and promotion panel
32Performance managementEvaluasi 6 bulan/1 tahun adaLink ke L&D, promosi, PIP, succession belum jelasEvaluasi menjadi administratifPerformance cycle with IDP and promotion criteria
33Learning developmentPelatihan adaBelum berbasis competency matrixTraining tidak strategisAnnual L&D plan and competency matrix
34Volunteer/internDraft 2022 menambahkanDetail duty of care, contract, safeguarding belum matangRisiko status kerja dan perlindunganVolunteer/intern agreement and onboarding
35ConsultantAda prosedur konsultanTemplate kontrak harian tipisRisiko IP, confidentiality, deliverable, pajakStrengthened consultant contract
36Exit handoverPHK/exit adaHandover data/knowledge/access belum kuatData kelembagaan hilangExit clearance includes data, asset, access
37GrievanceProsedur keluhan adaKanal independen, confidential, SLA, case handling belum matangUnder-reporting and retaliation riskGrievance/SEAH pathway and anti-retaliation
38SafeguardingChild safe dan anti-trafficking ada sebagai policy/statementCase management operasional belum lengkapRisiko donor compliance dan harmIntegrasi safeguarding ke onboarding, vendor, KMEL, field ops
39Travel riskTravel authorization dan biaya perjalanan adaTravel risk assessment remote/high-risk belum kuatRisiko keselamatan lapanganTravel risk check and check-in protocol
40Rate cardAnnex per diem/resource rate adaBelum menjadi rate card per wilayah dan fungsi proposalBudgeting donor bisa tidak konsistenRate card per wilayah untuk proposal, travel, logistics
41Digital governanceKomunikasi/brand adaWebsite/admin/cloud access belum diaturRisiko cyber/reputasiDigital access register and data security rule
42Management dashboardTidak adaStatus TOR, procurement, advance, report tidak real-timeBottleneck dan email overloadMIS roadmap: tracker, workflow, dashboard, knowledge search

4. Change priority

PrioritasPerubahanAlasan
P0Approval matrix, advance aging, TOR/report tracker, grant handover, KMEL data taxonomyMenutup risiko kontrol tertinggi dan bottleneck harian
P1SOP Partnership, SOP KMEL, vendor due diligence, job grading, payment checklistMenutup gap modul yang belum ada dan memperkuat akuntabilitas
P2MIS/dashboard, knowledge product pipeline, data rescue historis, travel risk, asset transferMeningkatkan efisiensi dan institutional memory

5. Lampiran yang harus dibuat untuk final SOP

LampiranOwner
Delegation of Authority / Approval MatrixDirektur, Finance, HRGA
Document control registerHRGA/Governance
Donor pipeline and grant registerPartnership
Grant handover checklistPartnership
MEL plan and indicator reference sheetKMEL
Data taxonomy and access matrixKMEL/Data owner
Payment and settlement document checklistFinance
Advance aging trackerFinance
Procurement threshold and vendor masterLogistics
COI declaration formLogistics/Governance
Asset register and disposal formLogistics
Job grade and salary band registerSDM/Finance
L&D and competency matrixSDM
Grievance/SEAH case pathwaySDM/Safeguarding
Risk and issue logPM/KMEL

6. Kesimpulan

SOP 2019 memberi fondasi operasional yang cukup kuat untuk fase organisasi sebelumnya. Draft 2022 sudah mengenali banyak isu penting, terutama update governance, pajak, volunteer/magang, keamanan, dana darurat, advance, dan standar dokumen. Namun skala YHB 2025-2026 membutuhkan arsitektur SOP yang lebih modular, eksplisit, dan berbasis kontrol.

SOP Sanggabiz v1 tidak mengganti seluruh fondasi lama. Ia mengangkat fondasi lama menjadi operating system yang lebih siap untuk organisasi multi-donor, multi-landscape, dan evidence-driven: ada owner, approval, SLA, register, risk mitigation, dan data/knowledge cycle.

Update Gap Analysis dari Interview Regista KMEL
Sumber penuh SOP Sanggabiz version/gap_analysis_update_regista_kmel.md

Gap Analysis Update - Interview Regista KMEL

Dokumen: Draft update temuan gap-analysis dari interview Regista, fungsi Knowledge Monitoring Evaluation and Learning (KMEL/KML)
Klien: Yayasan Hutan Biru / Blue Forests (YHB)
Disusun oleh: Sanggabiz
Versi: v1.0 draft kerja
Tanggal: 7 Mei 2026

1. Sumber dan posisi temuan

Sumber utama update ini adalah transkrip interview/regista-kmel.srt, dibandingkan dengan:

  • SOP Operasional YHB Juli 2019.
  • Draft perbaikan SOP 2022.
  • analysis/gap-analysis-termin1-2026-04-28.md.
  • analysis/blueforest-sop-review-2026-04-21.md.

Temuan Regista memperkuat kesimpulan awal bahwa SOP 2019 dan draft perbaikan 2022 masih berpusat pada SDM, keuangan, logistik, perjalanan, dan sebagian komunikasi. Fungsi KMEL belum punya SOP sebagai sistem kerja kelembagaan, padahal dalam praktik KMEL sudah menjadi simpul logframe, workplan, data, laporan donor, pembelajaran lintas landscape, dan kualitas bukti program.

2. Ringkasan eksekutif update

Interview Regista menunjukkan bahwa KMEL saat ini menjalankan empat fungsi besar sekaligus:

  1. Monitoring capaian workplan dan logframe program.
  2. Review laporan bulanan, laporan donor, dan evidence pack.
  3. Pengelolaan data program, termasuk Kobo, GIS/peta, foto, daftar hadir, laporan kegiatan, dan arsip landscape.
  4. Knowledge management, termasuk dokumentasi pembelajaran, cerita lapangan, modul, poster, dan sharing antar landscape.

Masalah utamanya bukan tidak ada aktivitas KMEL. Aktivitasnya sudah berjalan. Gap terbesarnya adalah belum ada operating system yang mengatur siapa pemilik data, bagaimana data distandardkan, di mana data disimpan, bagaimana kualitas data dicek, bagaimana data digunakan untuk keputusan, dan bagaimana alur review TOR/laporan donor dikendalikan agar tidak tersangkut di email.

SOP baru perlu memperlakukan KMEL sebagai fungsi inti organisasi, bukan lampiran program. Tanpa itu, YHB berisiko kehilangan pengetahuan historis, lambat menyusun proposal baru, sulit membuktikan capaian donor secara cepat, dan tidak optimal menggunakan data lintas landscape untuk strategi program.

3. Update gap prioritas tinggi dari interview Regista

NoArea gapKondisi saat ini dari interviewKelemahan SOP 2019/2022DampakSolusi SOP baru
1KMEL belum menjadi modul SOPKMEL menjalankan monitoring bulanan, evaluasi 6 bulanan, review laporan donor, data, dan knowledge, tetapi belum punya SOP sendiriSOP 2019/2022 tidak mengatur KMEL, data program, pengorganisasian data, penyimpanan data, dan keamanan dataPeran KMEL bergantung praktik personal; sulit diaudit dan diturunkan ke staf baruBentuk SOP KMEL/KML sebagai modul resmi dengan mandat, proses, DARCI, calendar, output, approval, dan risk control
2Data tersebar per landscapeData disimpan di Google Drive per landscape; data tema yang sama, misalnya rehabilitasi mangrove atau sekolah lapang, tersebar di banyak folderSOP lama hanya mengatur penyimpanan dokumen finance/personalia, belum mengatur taxonomy data programWaktu habis untuk mencari data; pembelajaran antar landscape sulit; proposal baru tidak memanfaatkan data historisBuat taxonomy data berbasis landscape, program, tema, indikator, tahun, donor, dan jenis bukti
3Arsip historis lemahData sebelum 2021 relatif sulit ditemukan; sebagian data lama tersimpan di orang per orangTidak ada data retention, offboarding data, dan arsip kelembagaan untuk program lamaKehilangan institutional memory; bukti capaian lama sulit dipakai untuk proposal dan evaluasiTerapkan program data rescue, offboarding data handover, archive register, dan retention schedule
4Synology/backup belum governedAda penyimpanan lokal/Synology di home office sebagai backup, tetapi belum diorganisir dengan baikSOP belum mengatur backup, access control, restore test, owner, dan klasifikasi dataRisiko kehilangan data jika Drive bermasalah; backup tidak siap dipakai saat dibutuhkanTetapkan backup SOP: owner, folder mirror, jadwal backup, restore test triwulanan, access log
5Tidak ada MIS/dashboardTim berharap ada management information system/dashboard lintas program, finance, logistik, dan people managementSOP 2019/2022 masih berbasis dokumen, email, dan link manualData tidak real-time; keputusan lambat; banyak proses tidak punya status trackingRancang MIS minimum: registry program, indikator, evidence pack, TOR, approval, procurement, advance, dan reporting calendar
6TOR review via emailTOR kegiatan harus direview banyak pihak, tetapi proses email sering terlewat; aturan 7 hari tidak efektifSOP lama mengatur TOR/SOW tetapi belum punya SLA, reminder, escalation, dan auto-escalationReview bisa berjalan sampai sebulan; finance tidak bisa review budget bila narasi belum selesai; kegiatan terlambatSOP baru menetapkan workflow TOR: submit, review 7 hari kerja, reminder H+3/H+5, escalation H+7, decision log
7Workplan kickoff belum terdokumentasi sebagai approvalWorkshop perencanaan dilakukan offline 2-3 hari setelah grant aktif, melibatkan landscape dan home office, tetapi approval workplan lebih bersifat kesepakatan bersamaSOP lama belum mengatur handover dari proposal/grant ke KMEL, annual workplan approval, dan revision logBaseline kerja tidak selalu terdokumentasi sebagai versi final; perubahan target sulit ditelusuriBuat workplan approval pack: logframe, annual workplan, risk register, budget alignment, approval minutes, revision control
8Evidence pack belum distandardkanBukti donor meliputi peta/polygon, foto, daftar hadir, laporan kegiatan, dan narasi, tetapi standar bukti berbeda per donor/projectSOP lama belum mengatur evidence quality standard dan completeness checklistRisiko over/under-reporting, bukti tidak lengkap, donor query lambat dijawabBentuk evidence pack checklist per indikator: source, metode, bukti minimum, reviewer, retention
9Knowledge sharing ad hocSharing antar landscape terjadi jika ada permintaan, misalnya landscape baru ingin belajar sekolah lapang; belum ada cadence rutinSOP lama tidak mengatur knowledge cycle, product pipeline, atau komunitas praktikPraktik baik tidak menyebar; landscape mengulang kesalahan yang samaBuat calendar learning: quarterly learning forum, after-action review, lesson brief, practice note, story bank
10Data tidak selalu diolahBanyak data dikumpulkan tetapi hanya tersimpan di Drive dan tidak dipakai untuk keputusan programTidak ada policy bahwa data harus punya use case, owner, dan review cycleBiaya pengumpulan data tidak menghasilkan insight; keputusan tidak evidence-basedSetiap data collection wajib punya data use plan: keputusan apa yang didukung, siapa pengguna, kapan dianalisis
11Qualitative toolbox belum standarUntuk evaluasi kualitatif, tim masih mencari tools yang paling mudah dipakai di landscape dengan karakter masyarakat berbeda-bedaSOP lama tidak punya MEL methodology guidePengumpulan data kualitatif tidak konsisten; kapasitas landscape tidak merataBuat KMEL toolbox: FGD, KII, Most Significant Change, outcome harvesting ringan, observation checklist, ethical consent
12Kapasitas fungsi KMEL terlalu padatKMEL memegang MEL, data analyst/Kobo, GIS/data tools, reporting, dan knowledge productSOP tidak mendefinisikan role, workload, dan minimum staffing KMELBottleneck pada individu; knowledge product jarang karena operasional menyita waktuTetapkan role minimum: KMEL Lead, MEL Officer, Data/GIS Officer, Knowledge Officer; untuk fase transisi gunakan focal point per landscape
13Integrasi lintas fungsi belum dibangunKMEL perlu terhubung dengan partnership, finance, HR, logistik, dan advisor sejak proposal sampai close-outSOP lama modularnya belum ada; fungsi partnership dan KMEL bahkan belum tertulisProposal, workplan, budget, procurement, staffing, dan reporting bisa berjalan di jalur berbedaBusiness process baru menetapkan grant handover lintas fungsi sebagai mandatory control point
14Donor reporting bervariasiDonor bisa minta quarterly, semester, annual report; donor besar dapat punya sistem kuantitatif dan evaluator eksternalSOP lama belum mengatur donor reporting calendar dan evidence standard per donorRisiko deadline terlewat; format donor tidak siap; kunjungan donor tidak terkoordinasiBuat donor compliance matrix dan reporting calendar per grant
15Data security belum adaRegista secara eksplisit menyebut keamanan data belum diaturSOP lama belum mengatur access control, data classification, sharing rules, dan breach responseRisiko kebocoran data masyarakat dampingan, staf, donor, dan lokasi sensitifBentuk data governance minimum dalam SOP KMEL dan SOP kelembagaan: classification, access, retention, breach response

4. Temuan proses KMEL saat ini

4.1 Alur yang sudah berjalan
TahapPraktik saat ini
Grant/proposal approvedPartnership mengirim proposal, logframe, dan detail program ke KMEL dan tim terkait
Kickoff/workshop perencanaanKMEL mengkoordinir workshop perencanaan dengan landscape dan home office
Workplan tahunanTim menyusun kegiatan, timeline, PIC, target, dan strategi pencapaian
Monitoring bulananLandscape mengirim laporan bulanan; KMEL memantau kemajuan, kegiatan berjalan/tidak, dan kendala
Evaluasi 6 bulananLandscape berkumpul untuk evaluasi capaian terhadap logframe dan pembelajaran
Donor reportingKoordinator landscape menyusun laporan, KMEL mereview, advisor dan Direktur ikut mereview sebelum submit
Evidence collectionMenggunakan laporan kegiatan, foto, daftar hadir, peta/polygon, data Kobo/GIS, dan dokumen pendukung
Knowledge outputBeberapa pembelajaran dipublikasikan sebagai cerita lapangan, poster, buku, dan modul
4.2 Titik kontrol yang belum formal
Titik kontrolKondisi gapKontrol yang perlu ditambahkan
Handover dari Partnership ke KMELAda praktik, belum menjadi checklist wajibGrant handover checklist dan kickoff memo
Approval workplanDirencanakan bersama, tetapi tidak selalu disebut sebagai approval formalWorkplan approval minutes dan version control
Review TOR/SOWVia email, sering terskipWorkflow system atau tracker dengan SLA 7 hari kerja
Data collectionTools ada, termasuk Kobo, tetapi standardisasi belum menjadi SOPIndicator reference sheet dan data collection protocol
Evidence qualityBukti ada, tetapi belum ada checklist minimum per indikatorEvidence pack checklist dan QA sign-off
Knowledge sharingSesuai permintaanLearning calendar dan knowledge product pipeline
Data securityBelum adaData classification, access rights, and breach protocol

5. Dampak organisasi jika gap KMEL tidak ditutup

  1. Proposal baru menjadi lebih lambat karena data historis, costing, capaian, peta, dan bukti program harus dicari manual.
  2. Capaian donor rentan terlambat dilaporkan karena proses review TOR/laporan tidak punya status tracking.
  3. Risiko reputasi meningkat bila klaim capaian tidak didukung evidence pack yang rapi dan siap diaudit.
  4. Pembelajaran lintas landscape tidak sistematis, sehingga organisasi mengulang proses coba-coba.
  5. Data sensitif masyarakat, lokasi program, staf, dan donor berisiko tersebar tanpa kontrol akses yang jelas.
  6. KMEL menjadi bottleneck personal karena terlalu banyak fungsi tidak didukung role dan sistem.

6. Rekomendasi desain SOP baru

6.1 Modul wajib

SOP baru perlu menambahkan satu modul resmi: SOP KMEL/KML - Knowledge, Monitoring, Evaluation, and Learning. Modul ini harus terhubung dengan:

  • SOP Partnership untuk donor pipeline, proposal, logframe, dan donor compliance.
  • SOP Keuangan untuk budget alignment, grant coding, advance, settlement, dan donor financial report.
  • SOP Logistik untuk procurement planning, travel, asset, dan evidence pengadaan.
  • SOP SDM untuk staffing plan, onboarding landscape, capacity building, dan performance data.
  • SOP Governance/Data Security untuk klasifikasi data, access control, retention, dan incident response.
6.2 Minimum control set
KontrolStandar minimum
Grant handoverProposal final, donor agreement, logframe, budget, reporting requirement, restricted clauses, dan contact donor diserahkan ke KMEL, Finance, SDM, Logistik, Advisor
Workplan approvalAnnual workplan disetujui oleh Program/Advisor, KMEL, Finance, dan Direktur atau delegasi
TOR review SLA7 hari kerja, dengan reminder dan escalation tertulis
Indicator reference sheetSetiap indikator punya definisi, formula, source, frequency, owner, evidence, dan disaggregation
Data quality assuranceCompleteness, accuracy, timeliness, consistency, and audit trail check
Evidence packBukti minimum per output/outcome sebelum klaim masuk laporan donor
Knowledge productAfter-action review, lesson learned, case story, practice note, module update, internal newsletter
Data securityAccess by role, restricted folders, no public sharing by default, breach response within 24 jam

7. Quick wins 0-60 hari

PrioritasAksiOutput
1Buat master data taxonomy dan folder structure lintas landscapeStruktur Drive/Synology/MIS yang seragam
2Buat TOR and report tracker sederhanaTracker status review, reviewer, due date, overdue
3Buat donor reporting calendarKalender deadline semua grant
4Buat evidence pack checklist untuk 5-10 indikator paling sering dipakaiChecklist rehabilitasi, sekolah lapang, patroli, livelihood, training
5Mulai data rescue untuk data historisInventory data pre-2021 dan owner terakhir
6Bentuk quarterly learning forumForum rutin lintas landscape dengan notulen pembelajaran
7Tetapkan data access ruleFolder restricted, editor/viewer, sharing rule, backup rule

8. Kesimpulan update

Interview Regista mengubah prioritas gap-analysis: KMEL tidak lagi bisa dianggap fungsi pendukung yang cukup diatur lewat laporan program. KMEL harus menjadi sistem inti yang menghubungkan donor promise, workplan, bukti lapangan, data, pembelajaran, dan keputusan strategis.

SOP baru yang golden standard untuk YHB perlu menggabungkan prosedur, data governance, approval workflow, dan knowledge cycle. Tanpa itu, organisasi akan tetap kaya data tetapi miskin retrieval, kaya pengalaman tetapi miskin pembelajaran lintas landscape, dan kuat implementasi tetapi lambat membuktikan dampak secara sistematis.

Implikasi desain: setiap SOP bidang mempertahankan subbagian integrasi Data Security dan Safeguarding-GEDSI, sehingga kontrol lintas bidang muncul langsung di proses harian masing-masing fungsi.